
"Kamu kenapa?" tanya bu Mei mencoba ramah.
"Gak apa-apa, saya ke toilet sebentar." Dio menatap sendu punggung gadisnya yang menghilang di balik pintu. Iya, Antara Advertising adalah milik Rudiantara, yang tidak lain adalah, papa dari Karina Apriliantara. Yang sampai sekarang masih dikelola oleh orang tua itu.
Dio melirik adiknya lalu mengedikkan bahu. Pembahasan selesai, semua pun kembali ke ruangan masing-masing.
Karin memandangi pantulan wajahnya di cermin. Datar. Itulah mimik yang terlihat di sana. Dirasa sudah cukup untuk menetralkan hati, ia ke meeting room untuk mengambil peralatan, juga berkas yang ia bawa tadi. Semua sudah pergi, tinggal seorang OB saja terlihat sedang membereskan ruangan besar itu.
Sudah waktunya pulang. Dibantu Dio, ia memasukkan koper yang sudah ia bawa sejak pagi ke dalam bagasi mobil. Nesa juga di sana, ikut membantu membawakan beberapa camilan yang sudah Karin beli melalui aplikasi ojek online, siang tadi.
"Jangan bikin ulah, ya, di sana. Baik-baik!" seru Nesa pada sahabatnya, ia khawatir, kalau-kalau gadis itu berbuat yang aneh-aneh lagi. Karin tersenyum, jarinya membentuk huruf V, dan mengangguk sebagai bentuk janjinya.
"Bye Nesa," ujar Dio dan Karin bersamaan.
"Bye Karin, bye Pak Dio."
Sepanjang perjalanan, Karin jadi pendiam. Ia bahkan memalingkan wajahnya dari sang kekasih. Sepertinya, pemandangan di luar jauh lebih menarik daripada pria tampan yang duduk di sisi kanannya. Demi menghidupkan suasana, Dio mencoba memutar radio, siapa tahu lagu-lagu romantis tengah diputar. Biasanya, pacarnya ini akan turut bernyanyi jika sudah mendengar lagu cinta.
Oh, mengapa?
Mengapa kau tak mengerti halusnya perasaanku?
Kau goreskan keraguan, oh
Namun 'ku menyayangimu walau hilang percayaku
Biar cinta menuntunku untukmu 🎼Rossa-Kepastian🎼
Lagu macam apa ini, hilang percaya, cih. Lagu cengeng. Lelaki rupawan itu mengganti saluran.
Kuingin marah, melampiaskan, tapi kuhanyalah sendiri di sini
Ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada
Bahwa hatiku kecewa 🎼BCL-Kecewa🎼
__ADS_1
Harus banget, ya. Kecewa ditunjukkan ke orang-orang, lagu payah. Kembali ia mengganti saluran radio.
Menyakitkan bila cintaku
Dibalas dengan dusta
Namun mencintamu takkan kusesali
Karna aku yang memilihmu 🎼Audy-Dibalas dengan dusta🎼
Ia mematikan radionya, kesal dia mendengar lagu yang bercerita tentang kekecewaan itu. Tak mengerti, ia hanya merasa tersindir oleh lirik-liriknya. Dio kembali fokus pada jalanan.
"Bahkan radio pun tahu, aku sedang kecewa," celetuk Karin membuka keheningan yang sempat tercipta. Ia berceloteh tanpa memandang pria yang berada di sampingnya.
"Kamu kecewa kenapa?" tanya Dio berlagak tidak mengerti.
Karin menatap lelakinya tajam, Dio bisa melihat, kekecewaan memang begitu kentara di sana. Bahkan mata itu pun mulai mengembun. Jangan menangis, Sayang. Aku mohon.
"Jangan berlagak bodoh, kamu sengaja 'kan, menggandeng Advertising papa?"
"Kenapa diam?"
"Kenapa? Tentu semua aku lakukan karena bisnis, pihak papamu mengajukan storyline yang sangat bagus, dan lagi, mereka menawarkan harga yang ramah. Kamu sendiri 'kan paham, ini sangat menguntungkan untuk kita. Lalu, masalahnya di mana?"
"Entahlah, aku hanya merasa kamu sedang berbohong," tukasnya sinis, lalu kembali mengalihkan pandangannya.
Sebisa mungkin Dio tak menunjukkan rasa bersalahnya karena berbohong. Sampai hotel, mereka segera check in dan menuju kamar masing-masing, posisi kamar mereka berhadapan. Keduanya bergegas masuk, membereskan barang bawaan, juga membersihkan diri.
Pukul 7 malam, Dio meminta semua yang terlibat dalam produksi untuk makan malam bersama, termasuk Thomas juga, ada di sana. Model itu memilih tempat duduk yang bersampingan dengan Karin. Ia tak kapok meski sudah pernah kena tampar, juga mobilnya yang jadi korban, dia pantang menyerah.
Selesai makan Dio memimpin diskusi, em ... lebih ke ngobrol biasa sih, untuk menyemangati tim saja.
"Baik, saya gak akan lama. Cuma mau tahu saja, sampai sini, apa ada kendala atau kekurangan?" tanya Dio pada semua yang ada. Semua kompak menjawab tidak, karena memang sudah ok secara keseluruhan.
"Karena semua sudah ok, kalian boleh kembali ke kamar, atau sekadar berkeliling untuk menikmati suasana. Sampai jumpa besok pagi saat sarapan, selamat malam."
__ADS_1
"Malam, Pak."
"Sayang, kita jalan-jalan, yuk?" ajak Thomas berbisik. Namun, masih bisa didengar. Karin melotot, tatapan membunuh ia tampilkan. Ingin sekali ia mencakar wajah model sialan yang kini tengah menyeringai itu.
Dio yang pas sedang melintas, langsung memanggil wanita pujaan untuk ikut bersamanya. Bocah tengik, berani-beraninya menggoda pacarku, batinnya geram. Karin mengekor di belakang kekasihnya, ia juga malas meladeni Thomas.
*****
Mentari pagi telah menampakkan kegagahannya, menggeser sang malam, menghapus semua tanda hitam di langit Tuhan. Sang Raja siang dengan cahaya kuning keemasannya mulai merangkak naik, menyinari bumi, menghangatkan jiwa-jiwa yang terlampau dingin.
Di salah satu ruangan, gadis cantik bersurai hitam tengah bersenandung merdu. Menikmati tiap embusan angin yang membelai wajahnya lembut, ia membuka jendela kamarnya lebar, membiarkan paru-parunya menghirup udara bersih, membebaskan diri dari polusi ibu kota. Merehatkan sejenak otak yang tiap saat bergelut dengan pekerjaan, memanjakan mata dengan hamparan hijau kebun teh.
Iya, syuting akan dimulai beberapa jam lagi. Jadi, ia ingin menikmati suasana pagi nan sejuk yang sangat jarang tubuhnya dapatkan.
[Waktunya sarapan, Sayang. Aku mencintaimu.] Senyumnya merekah, melihat pesan cinta di pagi hari begini dari pujaan hati.
[Aku keluar sekarang,] balasnya singkat.
Rupanya Dio sudah menunggu sang pujaan di depan kamarnya. Meski cuma dalam balutan jeans dan hoodie, gadisnya tetaplah gadis yang menawan. Dengan rambut diikat ekor kuda, menampilkan leher jenjangnya yang mulus, semakin membuatnya terlihat cantik.
"Ayo, yang lain udah nunggu," ajak Dio. Kalau tidak sedang dalam pekerjaan, ingin rasanya ia menggendong wanita kecintaannya ini ala bridal.
"O, ya. Nanti siang saya ada keperluan, jadi gak bisa stay. Saya sudah kasih tahu yang lain, kalau ada apa-apa suruh lapor kamu. Kamu catat, terus kasih saya saat sudah pulang." Dio mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan lebih dulu. Senyum Karin mengembang sekali lagi, kemudian menyusul dan ikut bergabung bersama yang lain.
Selesai sarapan, semua mulai bersiap menuju lokasi, tak terkecuali Karin. Gadis ayu itu mengambil tas kecil untuk menyimpan ponsel dan beberapa keperluan lainnya. Setelah itu ia menyambangi kamar Thomas. Iya, seperti yang sudah disepakati, mulai hari ini sampai dengan selesai, ia akan menjadi asisten model sialan itu.
Karin mengetuk pintu kamar itu berkali-kali, namun sang penghuni tak juga membukakan pintu. Ia merasa ponselnya bergetar, ia merogoh tas dan benar, ada pesan masuk.
[Hari ini pacarku sangat cantik, aku jadi tidak tega untuk pergi.]
[Emang, biasanya gak cantik?]
[Cantik, tapi hari ini berbeda. Karena aku sedang merayu, supaya gadis dengan hidung minimalis ini tidak kesal padaku lagi. O, ya, aku berangkat sebentar lagi. Jangan terlalu merespon model tengik itu, ok.] Ia menutup ponselnya dan kembali memasukkan dalam tas.
Terdengar pintu terbuka, ia menengok dan seketika itu pula matanya membulat sempurna.
__ADS_1