KARINA

KARINA
Tujuh


__ADS_3

Di kelab malam, seperti biasanya Merlin dan pacarnya pasti menghilang entah kemana, baru kembali kalau sudah puas bercinta. Sedangkan Karin dan Amel lebih suka duduk-duduk saja sambil berbincang-bincang.


Bosan hanya duduk-duduk saja, Amel mengajak Karin bermain truth or dare. Meski cuma bermain berdua, tak mengurangi keseruan di dalamnya. Sepertinya botol itu sedang jatuh cinta pada gadis penyuka warna ungu itu, ketika diputar, bagian yang ada tutupnya terus mengarah ke Amel dan Amel memilih dare. Karin mengerjai teman dari jaman kuliahnya habis-habisan, menyuruh mencium bibir orang yang baru datang, sampai melakukan gerakan twerk di depan pria yang sedang bermesraan dengan pacarnya.


"Brengsek Lo, Rin. Sini gue yang puter botolnya."


Amel memutar botol searah jarum jam. Putaran berhenti tepat mengarah Karin. Ia tersenyum penuh kemenangan, akhirnya tiba juga gilirannya mengerjai Karin.


"Truth or dare?" tanya Amel penuh semangat. Hasrat untuk membalas sudah sangat membara, biasanya Karin akan memilih dare, ia sudah menyiapkan tantangan yang paling epik.


"Truth!" mulut Amel menganga lebar mendengar jawaban Karin. Tapi Amel tak kehilangan akal, ada satu fakta yang selalu Karin tutupi dari ia dan Merlin selama ini.


"Lo, punya pacar 'kan?" tanya Amel, dengan memicingkan mata kanannya.


"Enggak!"


"Gue benci sama Lo!" Amel memonyongkan mulutnya, merajuk ala-ala anak kecil. Karin tertawa terbahak-bahak, wajah Amel terlihat sangat imut saat merajuk begitu.


Sedang asyik-asyiknya menggoda Amel, seseorang memakai pakaian tertutup menarik lengannya. Dari postur badan, Karin bisa melihat itu tubuh seorang pria. Ia meronta berharap orang itu melepaskan tangannya, tapi terus saja menarik sampai masuk gudang. Pria tadi membuka topi dan penutup wajahnya, memandangi gadis di depannya lekat. Karin tak mengenali siapa pria itu.


"Siapa Anda?"


"Gak penting siapa Aku. Jawab pertanyaanku, apa kamu dan temanmu yang tadi pemakai?"


"Bukan!"


"Bagus! Dengerin, lima belas menitan lagi, sekitar dua belas sampai dua puluh orang dari kepolisian dan BNN akan kemari. Kamu tenang dan kasih tunjuk ini ke yang memeriksa, kamu dan temanmu akan aman. Ingat, jangan panik! Aku harus keluar sekarang." Karin mengangguk dan melihat dua sapu tangan merah yang pria tadi berikan padanya.


"Tapi kamu, siapa?"


Pria tadi berbalik, tersenyum tipis dan menyebutkan namanya, "Rama, dulu kita satu SMA."

__ADS_1


Yang dikatakan pria bernama Rama tadi benar, sekitar dua puluh orang memeriksa semua pengunjung kelab. Dua perempuan memeriksa Karin dan Amel, mereka segera menunjukkan sapu tangan merah tadi. Ia tak terlalu fokus pada banyaknya polisi yang datang, Karin masih memikirkan Rama, yang katanya dulu satu SMA.


"Kenapa gue gak inget ya, punya temen SMA dia."


"Dia siapa? Ayo pulang, gue takut asli," bisik Amel di telinga Karin.


******


Selepas jam kantor Karin tak lantas pulang, ia masih sibuk mencari data sekolahnya dulu di Internet, siapa tahu ia bisa menemukan jejak tentang Rama. Karin penasaran, Rama ini yang waktu sekolahnya seperti apa.


"Aihh, kenapa banyak banget sih yang namanya Rama," gerutunya kesal, karena begitu banyak nama Rama yang muncul di Internet.


"Siapa Rama?" tanya Pak Dio yang kebetulan baru mau pulang.


"Pak Dio, mau pulang?"


"Iya, siapa Rama?"


"Oh, saya pulang duluan."


"Hati-hati di jalan, Pak Dio."


Kantor sudah sepi, Karin juga sudah lelah mencari-cari nama itu. Dari semua Rama yang muncul, tak ada satu pun yang mirip dengan yang menemuinya tempo hari. Tas sudah menggantung indah di bahu, waktunya pulang. Baru saja memegang handle pintu, tiba-tiba lampu mati, pintu juga sulit dibuka.


"Apa ini udah dikunci?" tanya Karin pada dirinya sendiri, bukannya tadi siang dia sudah bilang ke satpam untuk tidak buru-buru mengunci ruangan, karena ia akan pulang terlambat.


"Jangan-jangan satpam lupa!" lagi, Karin berbicara dengan dirinya sendiri.


Karin mulai panik saat tak ada satu pun yang datang untuk membukakan pintu. Ia sudah berusaha berteriak sekencang-kencangnya, berharap ada yang mendengar. Bodohnya ia lupa, kalau tiap ruangan di kantor ini kedap suara.


Gadis itu berlari ke papan pengumuman, shit, biasanya di sana tertempel jadwal satpam yang jaga beserta nomor handphone-nya, tapi kenapa sekarang tidak ada. Karin mencoba menghubungi Nesa berkali-kali tapi tak kunjung dijawab.

__ADS_1


Keringat dingin mulai mengucur di sekujur tubuh. Ia teringat perkataan Rama di kelab kemarin malam untuk memintanya tenang dan tidak panik, Karin mulai mengatur napasnya, cukup berhasil, ia lumayan tenang. Ia mencoba menghubungi Nesa lagi, tidak diangkat juga.


Karin mendengar suara langkah mendekat, segera ia kembali ke pintu, menggedor-gedor sangat keras, tapi suara langkah malah semakin terdengar menjauh.


"Hei, siapa pun di luar, tolong beritahu satpam ada orang di sini."


Kepanikan kembali melanda kala suara langkah kaki tadi kembali mendekat. Langkah kaki itu semakin terdengar intens mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun lalu.


Karin masih berseragam putih abu-abu, semangatnya untuk mencari keberadaan Mama belum padam sama sekali, setelah sebelumnya tidak mendapatkan apa-apa di taman bermain, penjual kaki lima dan supermarket. Karin pergi ke rumah teman-teman Mamanya yang ia ketahui, tapi kembali, gadis malang itu tak mendapatkan apa pun. Ia kembali menangis, duduk meringkuk di bawah pohon.


Seorang wanita seumuran mama Karin menghampiri, "hai! kamu yang namanya Karin, kan?" gadis itu mendongak, ia tersenyum. Ia pernah melihat Mama mengobrol dengan wanita itu, mungkin orang itu bisa membatunya untuk mengetahui keberadaan Mama.


"Tante! Tante tahu, Mama Karin di mana?"


"Tante tahu, Sayang. Karin ikut Tante, ya!" Karin mengangguk sambil menghapus air matanya.


Hotel! Karin dibawa ke sebuah hotel berbintang, menurut wanita itu, Mama ada di dalam sana sedang menunggu putri semata wayangnya. Ia yang begitu polos tak berprasangka apa pun, baginya, asal bertemu Mama, gua berhantu pun rela ia dalami. Sampai di satu kamar, Karin diminta masuk seorang diri. Ia menurut saja.


Pintu terbuka, Karin dengan senyum sumringahnya mendekati si pembuka pintu yang ia sangaka Mama. Tapi ternyata bukan Mama yang datang, melainkan pria paruh baya dengan kondisi mabuk parah.


**


Suara langkah itu semakin mendekat, dekat, dekat. Karin beringsut, bersembunyi di bawah meja, tak lupa ia juga menutup mulutnya agar tak berteriak. Napasnya tersengal, tubuhnya gemetar, ia sangat ketakutan. Tuhan selamatkan aku, aku benar-benar takut. Hatinya tak henti-henti memanjatkan doa.


"Karin!" Itu suara Nesa. Ia segera keluar dari persembunyian dan memeluk sahabatnya itu.


"Kamu kemana aja, aku telpon gak dijawab."


"Maaf, ponselku tertinggal, makanya aku kemari. Kamu gak apa-apa?"


"Antar aku pulang, aku takut."

__ADS_1


__ADS_2