KARINA

KARINA
Empat


__ADS_3

Terlalu indah dilupakan


Terlalu sedih dikenangkan


Setelah aku jauh berjalan


Dan kau ku tinggalkan


Betapa hatiku bersedih


Mengenang kasih dan sayangmu


Setulus pesanmu kepadaku


Engkau kan menunggu


Andaikan kau datang kembali


Jawaban apa yang kan ku beri


Adakah cara yang kau temui


Untuk kita kembali lagi


Bersinarlah bulan purnama


Seindah serta tulus cintanya


Bersinarlah terus sampai nanti


Lagu ini...ku...akhiri 🎼🎼(Andaikan kau datang kembali- Ruth Sahanaya.)🎼🎼


Hanya sepenggal lagu menjadi penawar segala rindu. Rindu yang menggunung, rindu yang tak berujung. Saat itu, Mama pamit keluar, namun sampai detik ini, Mama tak kunjung kembali. Karin kecil hanya bisa menangis.


Hari berganti bulan, bulan berganti tahun Mama tak juga kembali, berkali-kali Karin meminta Papa untuk mencari Mama, berkali-kali pula Papa cuma mengiyakan tanpa bertindak. Permintaan Karin hanya dianggap angin lalu. Dengan berbekal foto, Karin nekat mencari Mama seorang diri. Tempat pertama yang Karin datangi adalah supermarket biasa mereka berbelanja dulu. Karin memperlihatkan foto yang ia bawa kepada setiap yang datang, namun tak ada satupun yang mengenali foto Mama.


Tak putus asa, Karin pergi ke taman bermain. Di samping pintu masuk, Karin kembali menunjukkan foto Mama yang ia bawa kepada pengunjung yang datang, nihil, di sana juga tak ada yang mengenali Mama Karin.

__ADS_1


Di tengah teriknya matahari, semangat Karin mencari Mama tak pudar walau hanya sedikit. Dari taman bermain, Karin menuju penjual bakso yang letaknya tak jauh dari taman bermain. Dulu, setelah lelah bermain, Mama selalu mengajak makan bakso di tempat itu. Lagi, Karin tak mendapatkan apapun, penjual bakso bilang, dia juga sudah lama sekali tidak melihat Mama.


Hari semakin sore, Karin memutuskan pulang dan akan lanjut mencari Mama keesokan harinya. Namun betapa terkejutnya Karin ketika sampai di rumah, Papanya telah menikah lagi.


"Karin sini, Nak." Papa menyuruh Karin duduk di sampingnya, Papa juga meminta Karin agar memanggil wanita yang duduk di depannya Mama.


"Mama Karin cuma satu, yaitu Mama Novi!" Karin berlalu, meninggalkan Papa, Mama baru dan dua saudara tirinya di ruang tengah.


"Tuh kan, Mas. Aku bilang juga apa, Karin pasti gak mau terima aku dan anak-anak." Seru ibu dua anak itu.


"Kamu gak usah khawatir, Karin anak baik. Lambat-laun dia pasti bisa nerima kamu dan anak-anak. Kalian berdua, jangan diambil hati ya, omongan Karin tadi."


"Iya Om, eh, Pah."


Di dalam kamar, Karin hanya bisa menangis. Rindu yang ia miliki untuk Mama begitu tak terbendung, ia merasa jalannya tak tentu arah. Karin juga merasa kalau Papanya begitu tega.


"Papa jahat! Bukannya ikut mencari Mama, malah menikah lagi. Mah, Mama di mana, Karin kangen."


******


Pemotretan untuk majalah resmi beres, artinya satu pekerjaan Karin selesai. Tinggal mendiskusikan tanggal untuk launching produk bersama Pak Dio selaku penanggung jawab.


"Saya sudah ada tanggal, kamu tenang aja. Oh iya, kamu pesen makan gih, saya yang traktir."


"Saya nanti mau makan di kantin, Pak. Pak Dio mau ...."


"Saya ikut kamu makan di kantin."


"Ok kalau gitu, saya mau membereskan meja saya dulu, Pak."


"Oh iya, silakan. Pertahankan kinerja kamu yang seperti ini, perusahaan butuh orang-orang seperti kamu."


Siapa orangnya yang tidak berbunga-bunga dipuji atasan karena kinerjanya. Karin bersama Nesa menuju kantin untuk makan siang, rupanya pak Dio sudah ada di sana, pak manager itu membuktikan ucapannya. Kini mereka makan siang bersama, Nesa juga ikut.


Selesai makan siang, pembahasan pak Dio dan Karin berlanjut. Karena tanggal sudah ada, tinggal penyusunan acara. Konsep dan lainnya sudah siap, Pak Dio mempresentasikan hasilnya pada Presdir.


"Bagus Pak Dio, sangat menarik, saya suka. Sederhana tapi masih memiliki kesan elegan, sesuai selera saya."

__ADS_1


Hari peluncuran produk. Drama Esther yang tidak mau satu frame dengan Thomas kembali terjadi, segala cara Karin lakukan agar Esther mau tampil satu panggung dengan Thomas, namun sia-sia. Esther kekeuh tak mau tampil. Karin kesal bukan main, ia segera keluar dari ruang makeup daripada nanti malah jadi semakin emosi.


Di luar Karin berpapasan dengan pak Dio, Karin menceritakan kalau Esther masih ngotot tak mau tampil, Pak Dio terkekeh.


"Kenapa Pak Dio tertawa?"


"Muka kamu lucu. Ya sudah, Esther biar saya yang urus, kamu pulang aja sana, di sini masih banyak orang ko. Kamu udah bekerja keras, kamu perlu istirahat."


"Terima kasih, Pak." Karin langsung pulang, lebih lama lagi ia meladeni model itu, bisa habis itu model Karin maki.


Hari sudah malam, Karin sedang menikmati mie instan favoritnya, sambil menonton acara talk show penuh canda di televisi.


Ponselnya berdering.


[Aku menginap, mau dibawain apa? selain mie instan!]


[Baru juga mau balas mie instan, udah gak boleh. Ya udah apa aja.]


Setengah jam kemudian, yang dinanti datang. Karin yang tadinya sudah mengantuk jadi segar lagi. Dia membawa banyak bahan makanan, itu lebih dari cukup untuk persediaan sebulan, mengingat Karin hanya tinggal sendiri.


"Hei boss, banyak banget belanjaannya. Biar aku yang masukin ke kulkas." Karin mengambil kantong belanjaan yang pria itu bawa.


"Besok aku mau ajak Mama makan malam di sini. Tata yang benar, aku mandi dulu."


"Ok!" Karin berpikir sejenak, sepertinya ada yang salah dengan kata-kata prianya tadi.


"Tunggu, apa tadi dia bilang mau mengajak Mama makan malam di sini?" Karin meletakkan bahan makanan sembarang dan menerobos masuk ke kamar mandi.


Lelaki itu kaget bukan main, sontak menutup bagian intinya dengan botol shampo. Sebenarnya botol itu tak menutupi apa pun, tapi ya namanya juga refleks.


"Aissshh, kamu ini kebiasaan. Keluar sana! Atau aku lempar pake botol ini!"


Karin memicingkan matanya, lalu berteriak, "galak banget sih! Iya aku keluar!"


Tapi bukan Karin namanya kalau gak ngeyel, ia memang keluar tapi kemudian masuk lagi, tapi kali ini bagian kepalanya saja yang masuk. Pemandangan tubuh yang indah membuat Karin lupa tujuan awalnya bertanya soal Mama, ia malah menikmati ciptaan Tuhan yang terpampang nyata di depan matanya kini.


Saking asik memandangi, Karin tak sadar kalau dia sudah selesai mandi. Pria itu mengapit kepala Karin di antara ketiak dan menyeretnya ke dapur. Tepat di depan kulkas, dia melepaskan kepala Karin.

__ADS_1


"Itu," tunjuk pria itu pada bahan makanan yang berserakan di lantai, "beresin yang benar! Aku pakai baju dulu, awas kalau gak diberesin!"


Karin komat-kamit menirukan apa yang prianya tadi katakan sambil memunguti sayuran dan teman-temannya. Dia yang masih memperhatikan gadisnya, terkekeh geli.


__ADS_2