
Di tengah terik matahari, dengan air mata yang terus bercucuran, Karin menarik kopernya lemah. Langkahnya melamban, ia tak tahu harus pergi ke mana. Bingung. Bahkan papa Rudi tak ada usaha sama sekali untuk menahannya agar tak pergi. Miris.
Di rumah suasana serasa suram. Hening. Seisi rumah mendadak bisu. Semua larut dalam pikiran masing-masing, termasuk Tristan. Pikirannya kini hanya tertuju pada Karin, di mana gadis itu sekarang? Ke mana gadis itu akan pergi?
"Mah, aku mau keluar dulu," ucap Tristan membuka percakapan, membuyarkan keheningan.
"Mau kemana, Nak?" tanya mama Tika.
"Mau ke rumah teman, Mah. Pah, aku boleh pinjam mobil Papa?" Papa Rudi hanya menjawab dengan anggukan.
Tristan mengendarai mobil dengan kecepatan sangat pelan, matanya terus melihat sekeliling mencari keberadaan adik barunya, yang ia yakini belum terlalu jauh dari tempat mereka tinggal.
"Kita sama-sama tak menyukai adanya pernikahan antara orang tua kita. Namun kita juga tak bisa mengubah fakta, kalau sekarang, kita adalah saudara. Sebagai saudara, aku akan melindungi mu, sebisa ku," tutur Tristan dalam hatinya.
******
Braaakkk, "brengsek! Siapa kau, beraninya masuk kamar kekasihku," teriak Dio. Ia juga mencekik leher pria itu kuat.
Darahnya mendidih melihat ada laki-laki lain berada dalam kamar Karin, apalagi pria itu bertelanjang dada, menyentuh pundak pujaan hatinya pula.
"Tristan! Dia Tristan," seru Karin seraya menarik tangan Dio agar segera melepaskan cengkeramannya.
Dio ingat, Karin pernah bercerita tentang kakak tirinya yang bernama Tristan. Ia segera melepaskan cengkeramannya, tak lupa, Dio juga meminta maaf. Meski tubuh Tristan tak se–atletis dirinya, sebagai lelaki normal, tetap saja ia cemburu. Apalagi, mereka berdua saja dalam kamar, si laki-laki bertelanjang dada pula.
"Maaf," ujar Dio.
"Tidak apa, aku paham." Tristan meninggalkan sepasang kekasih itu, dan melanjutkan ritual mandinya yang sempat tertunda.
__ADS_1
Karin menceritakan mengenai ia yang tidak enak badan, dan pintu yang tidak dikunci dengan benar, persis seperti yang Tristan katakan padanya. Dio juga bercerita kalau pekerjaannya cepat selesai karena bantuan Bu Mei. Dari kalimatnya, Dio terdengar seperti sedang memuji-muji Bu Mei.
"Halah wanita tua itu, paling dia cuma membantu sedikit," cibirnya.
"Kamu cemburu, hmm?" goda Dio sambil menoel hidung mungil wanitanya.
"Tidak!" jawab Karin angkuh.
Dio terkekeh, "jelas-jelas cemburu, tidak mengaku, dasar wanita," gumamnya dalam hati.
Setelah memastikan pujaannya terlelap, Dio menemui Tristan yang sedang duduk-duduk di depan televisi. Pria itu cukup terlihat maskulin juga, tapi tetap saja tak lebih macho dari aku. Begitu kira-kira pikirnya.
Dio bertanya untuk apa Tristan datang ke kantornya. Rupanya ia ke sana memang sengaja ingin bertemu Karin, sudah lama sekali sejak Karin pergi dari rumah, mereka tak lagi berkomunikasi.
"Aku tak begitu banyak tahu tentang Karin, dia membenciku. Hubungan kami juga terlalu rumit untuk dijabarkan. Tapi percayalah tidak ada maksud tersembunyi atau apalah itu namanya, aku tulus, ingin melindungi Karin. Meski aku tak berada di sampingnya, aku selalu mengamati gadis keras kepala itu dari kejauhan," tutur Tristan seraya menatap langit-langit, bayangannya jauh ke masa saat pertama datang ke rumah papa barunya.
"Dia memang terlihat angkuh, sebenarnya, itu semua hanyalah topeng, yang ia gunakan untuk menutupi segala duka dan nestapa. Jauh di lubuk hatinya, ia gadis yang lemah, yang saat lara menyerang, ia sendiri pun tak tahu, bagaimana cara mengatasinya. Kamu tidak perlu khawatir, selagi Karin berada dalam pandanganku, kupastikan ia akan baik-baik saja," sahut Dio panjang lebar.
******
Ketika membuka mata, Karin tak mendapati Dio di sampingnya. "Ahh ... mungkin pangeran penuh pesona itu sudah pulang, dia juga punya kehidupan, selain aku," celotehnya dalam hati.
Karin turun dari ranjangnya, kemudian membersihkan diri. Setelahnya ia berdiri di balkon. Menatap jauh, memandang langit yang kini tampak seperti kehidupannya, mendung dan gelap.
Kadang, Karin merasa hidupnya tak ubah hanya sebuah fatamorgana. Semuanya tampak gamang. Antara benar dan salah, mimpi dan kenyataan terlihat samar.
Dering ponsel membubarkan lamunannya. Sebelum membuka pesan, ia tengok ada secarik kertas menempel di pintu almari. Kertas berwarna kuning, dengan tulisan yang sangat ia kenal siapa pemiliknya. Karin membacanya dalam hati, "buka dan lihatlah!"
__ADS_1
Tergantung gaun berwarna biru, persis seperti yang Lily James kenakan dalam film Cinderella, sangat cantik. Di sana juga ada kertas yang bertuliskan, "pakai aku!"
Karin coba mengenakan gaun indah itu. Tinggi badannya yang cukup tinggi untuk ukuran wanita Indonesia, yakni 160 cm, juga bobot yang ideal, membuat gaun itu melekat indah di tubuhnya.
Hampir saja ia melupakan pesan yang masuk di ponselnya.
[Pakai itu untuk nanti malam, aku ada kejutan untuk kamu. Sampai bertemu di kantor.]
Senyumnya mengembang, menampilkan lesung yang ada di pipi kirinya. Menambah kesan manis pada wajah gadis bermata bulat itu.
****
Di kantor, Karin mengerjakan bagiannya seperti biasa, sambil sesekali bersenda gurau dengan Nesa.
Nesa menghela napas panjang, ia juga mengingat-ngingat yang sudah ia hapalkan untuk berbicara dengan gadis keras kepala bernama Karina Apriliantara ini.
"Rin, ada yang mau aku sampaikan ke kamu. Tolong dengarkan dan resapi, sudah sepatutnya sebagai sahabat aku mengingatkanmu agar tak tersesat di jalan yang salah. Aku tahu kamu marah sama Bu Mei soal gosip yang sedang hangat-hangatnya ini. Tapi, Rin, tidak bisakah kalau kamu anggap ini angin lalu saja. Please, jangan berbuat yang aneh-aneh lagi, ya."
Mendengar ucapan Nesa, Karin tertawa terbahak-bahak. Ia sampai sakit perut akibat nasehat sahabatnya ini, yang menurutnya aneh bin ajaib.
"Memangnya apa yang sedang gadis baik ini pikirkan, hah? Aku akan menyantet Bu Mei, atau kamu pikir, aku akan menjadikan wanita tua itu, tumbal?" kelakar Karin. "Tadinya aku memang mau membalas, tapi kalau dipikir-pikir, gak ada untungnya juga buat aku. Kamu gak usah khawatir," lanjutnya
*****
Malah harinya.
Bermodalkan melihat YouTube, Karin berusaha ber-MakeUp secantik mungkin. Karena tidak bisa menata rambut, surai hitam nan lurusnya ia ikat ekor kuda saja. Terdengar suara ketukan pintu dari luar, "itu pasti Dio," terka Karin berbunga-bunga.
__ADS_1
Saat membuka pintu, ternyata bukan, itu orang suruhan Dio. Orang itu bilang, Dio sudah menunggu di tempat yang spesial. Satu yang kurang dari penampilan Karin, yaitu tak ada sepatu kaca seperti Cinderella sungguhan. Tapi tidak apa, itu bukanlah poin pentingnya.
Karin dibawa ke sebuah gedung yang sudah dihias sedemikian rupa agar terlihat menarik. Mawar merah terpajang rapi di setiap sudut, menambah kesan romantis. Ia tidak tahu, untuk apa Dio menyiapkan ini semua.