
Dio cuma bisa mengamati kekasihnya dari kejauhan. Kali ini gadisnya benar-benar marah. Pesan juga telpon darinya tak ada yang dijawab. Semalam, ia nekad mengunjungi Karin di kamarnya. Dan, wanitanya itu malah hendak menelpon pihak keamanan agar mengusirnya segera, karena telah mengganggu kenyamanan. Sementara ini, yang ia lakukan hanya mengalah.
Ini hari terakhir syuting, sebagian orang sudah kembali ke ibu kota, sebagian lagi masih ingin menikmati suasana sejuk. Karin sudah mengemasi barangnya, setelah memastikan tak ada yang tertinggal, ia segera menuju resepsionis untuk mengembalikan kunci dan ... Dio sudah lebih dulu ada di sana.
"Sudah siap, ayo!" ajak Dio, tapi Karin menolak. Ia bilang ia ikut mobilnya Thomas.
"Kamu ke sini sama saya. Pulang juga harus dengan saya! Ayo!" Dio menyeret koper milik gadisnya. Tetapi langsung ditahan oleh Thomas.
"Tidak apa, Pak Dio. Aku juga kebetulan ada janji ketemu teman di daerah situ." Dio melirik gadisnya yang diam tanpa ekspresi.
"Ya sudah, saya duluan. Kalian hati-hati."
"Aku bersyukur Tuhan mempertemukanku denganmu, menumbuhkan rasa bernama cinta di antara kita. Aku kira kamu akan selalu mendukungku, tapi ternyata, kamu juga membantu banyak orang tua itu. Kamu gak mengerti sakitnya aku, Dio. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan dia. Aku kecewa padamu, sangat!" gumamnya dalam hati
Kebencian telah menutup pintu hatinya dari segala sisi, takkan ada celah untuk maaf. Bibit benci telah ia rawat dengan baik sejak hari ia keluar dari rumah. Dan kini, bibit benci itu pun telah tumbuh menjadi pohon yang besar.
"Hey! Kita sudah sampai, kamu gak mau turun? Atau ... mau ikut pulang ke tempatku?" tanya Thomas dengan diiringi senyum mesumnya.
"Cih! Ini, cukup untuk menyewa perempuan murahan." Karin menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan, lalu turun dan mengambil barang-barangnya, kemudian melenggang pergi meninggalkan pria yang sudah ia buat marah.
Thomas merasa terhina dengan apa yang Karin katakan. Ia meremas lembar-lembar rupiah itu dan melemparnya sembarang. "Berani kamu menghinaku, gadis sialan! Kamu harus dapat pelajaran yang setimpal!"
Lelaki berwajah maskulin itu segera turun dari mobil mewahnya, dengan sedikit berlari ia mengejar gadis yang sudah berani menghinanya. Sayang, ketika sampai, pintu lift sudah tertutup. Ia menggunakan tangga darurat untuk menuju lantai di mana unit apartemen Karin berada. Dengan kaki panjangnya, lantai demi lantai ia lewati dengan cepat.
Sampai! Tepat saat Karin tengah menekan tombol kode apartemennya. Ketika gadis itu masuk, Thomas langsung menyerobot, dan ....
__ADS_1
"Ngapain kamu? Cepat kelu—"
Thomas tak mengijinkan wanita di depannya ini menyelesaikan kalimatnya, ia menarik gadis itu dan mencumbunya kasar. Ditindihnya tubuh langsing Karin, dengan kedua tangan yang ditahan ke atas, cukup membuat Karin terkunci.
"Brengsek, lepasin gak. Atau aku teriak!" ancamannya penuh penekanan.
"Aku memang ingin membuatmu berteriak!"
Dilumatnya bibir tipis Karin dengan rakus. Satu tangan mengunci lengan, satu lagi bergerak bebas. Bergerilya, menjamah liar tiap jengkal tubuh yang kini di bawah kungkungannya. Dipijatnya dua buah gundukan kenyal yang menjadi daya tarik tiap kaum hawa itu kasar. Bahkan sekarang, dua kancing teratas kemeja yang Karin kenakan sudah tak berada di tempatnya lagi. Thomas menariknya paksa, membuatnya semakin leluasa dalam memainkan jemari tangannya.
Batin Karin berteriak, tubuhnya terus meronta meski kesulitan. Ia tak ingin tinggal diam. Sungguh, bukan hanya fisik, tapi harga dirinya kini jauh lebih kesakitan. Karin membuka mulutnya, dan menggigit kuat bibir yang sedari tadi terus menyerangnya. Sontak Thomas melepas ciumannya dan mengaduh kesakitan, darah mengucur dari bibir bawahnya.
"Brengsek!" Plakkk ... Thomas menampar pipi Karin sangat keras, meninggalkan tanda kemerahan di sana.
🥀🥀🥀
Karin sudah selesai mandi, ia sedang menatap wajahnya yang tampak mengenaskan di dalam cermin. Pipinya memang sudah tak lagi memerah, tapi sedikit saja sentuhan sangat mebuatnya nyeri. Dengan teknik ombre, ia dapat menyamarkan bibirnya masih sedikit bengkak.
"Model sialan!" umpat Karin penuh amarah. Baru kali ini ia dilecehkan. Saat pertama kali Dio menyentuhnya pun tidak seperti tadi malam. Meski dalam kondisi mabuk, pria itu menjamahnya dengan lembut, setiap belaian bagai mengandung aliran listrik, yang membuatnya terkejut-kejut. Hingga membuatnya terlena dan larut dalam buaian.
Karin menarik napas dalam, dan mengeluarkan perlahan. Hatinya begitu sakit, kala mengingat kekasihnya masih juga berusaha mendekatkan ia dengan papanya. Selesai bersolek, gadis bermanik cokelat itu segera berangkat ke kantor, karena jam pun sudah menunjukkan pukul 8 lebih.
Sampai di kantor, Karin lebih banyak diam. Tiap Nesa bicara juga cuma ditanggapi dengan senyum seadanya.
"Kamu sakit?" tanya Nesa khawatir. Karin mengangguk tapi juga menggeleng. Membuat sahabatnya kebingungan.
__ADS_1
"Kita ke klinik, yuk!" ajak Nesa.
Karin memeluk sahabatnya, berusaha menenangkan. Sebab, gurat kekhawatiran begitu nyata tercetak di sana. "Aku cuma kecapekan, Nes."
"Nanti siang mau makan apa? Aku yang traktir!" bisik Karin, lalu melepas pelukannya.
"Hmmm ... apa, ya? Kita lihat nanti, menu paling mahal di kantin apa!" Karin tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban gadis polos di depannya ini.
"Nes, Nes. Ada-ada aja kamu."
Keduanya pun kembali bekerja seperti biasanya. Banyaknya laporan yang harus dikerjakan membuat Karin sedikit lupa kejadian memalukan semalam. Sesekali gadis manis berambut hitam itu melirik ponsel pintarnya. Ada banyak pesan dan panggilan tak terjawab di sana, yang hampir semuanya dari sang kekasih. Sebab tak banyak yang tahu nomor pribadinya.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah masuk jam istirahat. Saatnya makan, Karin bersamaan Nesa pergi ke kantin kantor. Sesuai janji, gadis bermata bulat itu mentraktir sahabatnya yang cuma tinggal satu. Iya, seperti yang ia katakan pada Dio, Merlin dan Amel tak bisa dihubungi.
Di tengah makan, Karin sedikit bercerita soal Thomas yang mengerjainya tanpa ampun. Mulai membawakan barang yang unfaedah, mencarikan makanan yang aneh-aneh, sampai menggodanya di depan banyak orang. Tentu, apa yang terjadi semalam tak ia ceritakan, termasuk juga kekecewaannya pada sang pacar.
"Hmm ... Rin, nanti malam aku nginep, ya. Bosan di apartemen sendirian aja. Sekalian, ada yang mau aku ceritain."
"Oke, balik langsung ke tempatku aja. Aku beli beberapa kaus buat kamu."
"Oke!" Mereka pun kembali melanjutkan makan siangnya.
Di ruangannya, Dio tengah berperang dengan fokusnya. Gadis pujaannya tak juga membalas pesan maupun telpon darinya. Ia gusar, ia juga rindu, sangat. Sekali lagi ia mencoba menelpon Karin, dan kembali ... tak dijawab. Pria penuh pesona itu mengacak rambutnya frustrasi.
"Satu hari nanti kamu akan sadar, sayang. Kalau apa yang aku lakukan saat ini benar. Semoga, satu hari itu cepat datang."
__ADS_1