
Demi tidak ketahuan kalau habis makan mie instan, Karin yang sudah kenyang terpaksa makan lagi. Satu sendok lagi makanan melewati tenggorokannya, perut ini mungkin akan meledak.
"Aku kenyang," kata Karin sambil meletakkan sendoknya.
"Gimana gak kenyang, orang udah makan mie instan," sindir Dia sambil membereskan piring bekasnya sendiri.
"Kok dia bisa tau?" batinnya.
Karin bersiap lari ke kamarnya, ia ingat sudah menyembunyikan bungkus bekas mie instan itu dengan baik, tapi Dia memanggilnya. Saat menengok ke belakang ....
"Kamu mau cari ini?" bungkus mie instan sudah berada di tangan kekar pria itu. Poor Karin, sudah serapi mungkin menyembunyikan, masih saja ketemu.
"Sayang, aku gak larang kamu makan mie instan, tapi ya gak tiap saat juga kamu makan. Kamu juga 'kan tahu kalau mie instan itu tidak baik untuk kesehatan. Bla... bla... bla..." Karin memalingkan wajahnya.
"Gak cuma seksi, dia juga bawel. Pusing aku dengerin omelannya. Dan ini bisa berlangsung berjam-jam."
"Ngomong sama siapa kamu?" tanya lelaki tadi garang.
"Sama reader, kenapa? Aku mau cari pendukung untuk melawan ketidakadilan ini."
"Aishh kamu, kebiasaan banget kalau dinasehati ada aja kelakuannya. Udah sana sikat gigi, terus nonton tv."
"Kirain abis sikat gigi, terus tidur."
Dia sudah lebih dulu di sofa sambil menonton berita malam. Karin duduk di sisi kanan sambil menyandarkan kepalanya di bahu kekar itu. Ia bertanya soal makan malam bersama Mama yang dimaksud. Bukan Karin tak ingin, ia takut, dengan latar belakang keluarga dan masa lalunya, kehadirannya bisa saja tidak diterima.
Karin lebih memilih tetap berhubungan seperti ini daripada ditolak nanti. Seperti biasa, pria tampan itu selalu punya cara untuk menenangkan pujaan hatinya agak tak perlu risau, apalagi sampai gundah gulana hanya karena kekhawatiran yang tak beralasan.
"Gak ada alasan buat Mama nolak kamu, sayang."
Diangkatnya Karin agar duduk di pangkuan. Sambil membelai dan mengusap lembut pipi gadisnya, ia memberitahu apa saja yang disukai dan tidak disukai oleh Mamanya. Soal Mama Karin, orang suruhannya belum menemukan apa pun.
__ADS_1
"Sudah baikan?" Karin mengangguk. Rasa khawatirnya sedikit berkurang.
Dipagutnya bibir ranum nan mempesona yang tepat berada di depannya. Gadis pertama dan yang akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupnya. Karin membalas pagutan itu dengan penuh cinta.
*****
Hembusan nafas hangat menggelitik mesra di telinga, memaksanya untuk bangun dari tidur nyenyaknya. Saat membuka mata, pemandangan pertama yang Karin lihat ialah kekasihnya, tengah tersenyum, sangat indah.
"Aku udah buat sarapan. Kamu cuci muka dulu, gih!"
"Iya sayang, kamu duluan aja, nanti aku nyusul."
Segera Karin memakai kemeja hitam milik Dia yang tergantung di balik pintu dan bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka.
Di meja makan, Dia masih belum mulai sarapan, ia menunggu Karin. Terlihat ia seperti sedang memijit-mijit benda pipih serbaguna yang berada di tangannya, mungkin ia sedang mengirim atau membalas pesan. Maklum, dia 'kan bukan orang sembarangan. Pria itu hanya mengenakan celana pendek saja, dia bertelanjang dada.
Dia menuangkan air dalam gelas Karin, "ini, minum dulu."
"Terima kasih, Sayang. Ngomong-ngomong, sarapan kita cuma ini?" pria itu mengangguk.
Meski begitu, Karin tetap memakannya. Sebab kalau tidak dimakan, urusannya akan jadi panjang.
Selesai sarapan, gadis berambut panjang itu segera berangkat ke kantor. Sekarang Karin sedang merapikan laporan mengenai anggaran dana yang telah terpakai untuk launching produk baru perusahaan kemarin. Ia juga meninjau tanggapan dari para tester soal produk minuman berbahan dasar teh itu.
Tak terasa waktu sudah memasuki jam makan siang. Karena acara launching berjalan sukses, makan siang kali ini di-sponsori oleh Presdir. Tentu saja semua menyambut dengan gembira, makan gratis siapa sih yang gak suka. Tidak cuma makan siang, malamnya mereka akan lanjut berpesta di vila pribadi Presdir.
Drrrt pesan masuk.
[Aku tau kamu masih belum siap buat ketemu Mama, jadi malam ini kita pesta sama yang lain.]
[Kamu emang paling ngerti Aku, sayang. Terima kasih.] balas Karin.
__ADS_1
"Senyam-senyum, kenapa?" tanya Nesa yang keheranan melihat Karin.
"Kenapa? Kita bakal ditraktir makan sepuasnya dan pasti di tempat mewah, gimana gak seneng coba."
"Iya juga, ya. Malam nanti aku jemput kamu, kita berangkat bareng."
"Oke!"
Jamuan makan siang dari Presdir semuanya makanan sehat, hampir tak ada yang cara pengolahannya digoreng. Karyawan yang ikut saling bertukar pandang, Karin yakin, ini pasti ide prianya.
"Rin, orang kaya emang makanannya gini, ya?" tanya Nesa berbisik, "kalau iya, kasihan ya mereka, gak pernah makan enak." sambungnya.
Pfffttt, Karin melipat bibir, menahan agar tawa tak keluar. Presdir berdalih bahwa ia memilih makanan sehat ini sebagai hadiah, selain itu Presdir juga bilang, ia ingin agar seluruh karyawannya selalu menjalani pola hidup sehat.
Karena sudah ada di depan mata, ini juga dari Presdir, jadi ya harus dimakan. Tidak buruk juga Presdir dalam memilih menu, semua makanan yang ada di meja rasanya enak. Nesa kembali berbisik.
"Makanan sehat ada juga ya, yang enak." Kali ini Karin tak dapat menahan tawanya. Ia tertawa cukup keras, sampai-sampai seisi ruangan menatap ke arahnya.
Sebenarnya yang membuat Karin tertawa bukanlah Nesa, tapi karena ekspresi Dia yang menahan rasa masam dari makanan. Ia tidak suka yang terlalu masam. Karin menganggap ini karma buat pria itu, tadi pagi ia cuma dikasih sarapan sayuran. Sekarang dia makan makanan yang rasanya tidak disukai. Setelah makan siang, semua kembali bekerja seperti biasa termasuk Karin dan Nesa.
Entah kesalahan apa yang sudah sahabatnya perbuat, tiba-tiba Bu Mei menyiram Nesa, mengambil handphone-nya dan membanting ke lantai. Itulah yang Karin dengar dari dua karyawan yang baru saja masuk toilet.
"Siapa yang disiram Bu Mei?"
"Eh Karin, itu ... Nesa. Cepet kamu ke sana!"
Karin berjalan cepat, benar saja, ia melihat Bu Mei sedang memarahi Nesa, di depan banyak orang pula. Ditariknya Nesa mundur, dan menangkap tangan Bu Mei yang akan menampar.
"Memalukan! Anda pikir Anda siapa bisa semena-mena terhadap karyawan lain. Ingat Bu Mei, di sini kita sama-sama karyawan, jadi Anda tidak perlu sok berkuasa hanya karena Anda sekretaris Presdir."
"Lepaskan tangan saya!" Karin melepaskan lengan Bu Mei setelah sempat meremasnya cukup keras, ada bekas merah di sana.
__ADS_1
"Awas kamu!" ancam Bu Mei pada Karin.
Rupanya Bu Mei marah karena Nesa tidak menyahut ketika dipanggil, ia asik saja dengan ponselnya. Bu Mei merasa tak dihargai sebagai sekretaris senior, jadi dia kesal.