KARINA

KARINA
Sebelas


__ADS_3

Suasana tegang tak terelakkan, Papa Rudi marah besar pada Karin. Gadis itu kabur dari acara pertunangannya dengan anak dari kolega papanya. Lebih tepatnya, pertunangan yang Papa Rudi dan mama tiri atur tanpa sepengetahuan Karin.


Bukan tanpa alasan Karin kabur dari acara yang tak ia inginkan itu. Selain karena belum siap, hari ini juga tes terakhirnya masuk universitas. Berhasil mengerjakan semua tes dengan hasil memuaskan, Karin dengan riang kembali ke rumah bermaksud meluluhkan hati papa Rudi dengan pencapaiannya hari ini.


"Semoga Papa senang dengan ini," gumam Karin dalam hatinya seraya menarik napas. Pelan-pelan Karin membuka pintu, nampak papa Rudi tengah duduk seperti memang sedang menantinya pulang.


Tapi yang terjadi tak sesuai dengan ekspektasi Karin. Papa Rudi murka, ia merasa sangat dipermalukan oleh anak yang dulu selalu menjadi kebanggaannya. Ditamparnya Karin sangat keras, sampai membuat tubuh gadis itu terpental. Tanda merah menapak jelas di pipi kanan Karin. Seketika itu jua, air hangatnya mengalir.


"Dasar anak tak tahu diri, susah payah Papa membujuk pak Syarif agar mau menjodohkan anak lelakinya denganmu. Tapi kamu malah meninggalkan acara sepenting itu. Katakan, pergi ke mana kamu?"


"Aku pergi mengikuti tes terakhirku, dan aku diterima di universitas nomor satu negeri ini, dengan hasil terbaik. Setidaknya Papa berikan aku ucapan selamat sebelum menamparku," jawab Karin dengan mulut bergetar. Ia tunjukkan hasil tesnya tadi, tapi tak Papa Rudi lirik sama sekali.


"Seharusnya kamu mengerti dengan keadaan keuangan kita saat ini, Karin. Kamu bisa lanjut kuliah setelah menikah nanti. Keluarga Syarif pasti akan memenuhi semua keinginan kamu," sambung mama tiri Karin.


"Aku sedang bicara pada Papa. Kamu penyihir, jangan ikut campur," tukas Karin sinis.


"Jaga bicaramu, mau jadi anak durhaka kamu, hah! Dia ini mama sambung kamu, kamu harus ...."


"Sudah kubilang aku cuma punya satu mama, yaitu mama Novi. Wanita ini tak lebih seorang penyihir licik yang ...." Plakkk, papa Rudi kembali meninggalkan tanda merah di pipi putrinya.


"Pergi kamu dari sini, Papa gak butuh anak kurang ajar seperti kamu."


Sejak saat itulah, hubungan ayah dan anak yang semula begitu harmonis, berubah menjadi buruk. Setiap kali teringat, setiap itu pula rasanya Karin ingin hilang ingatan. Dengan begitu, mungkin semua rasa sakitnya akan sedikit berkurang.


***


"Ternyata cek stok bahan baku gak semudah yang dibayangin, ya. Capek juga," ucap Karin pada Nesa.


"Ya udah sana pulang, tapi laporannya udah belum?"


"Sudah, Kakak. Aku balik ya, bye Nesa."

__ADS_1


"Bye, hati-hati."


Rupanya gosip murahan yang menyebut ada karyawan main gila sama Presdir, belum juga surut. Malah semakin kencang terdengar. Kali ini malah lebih jelas menyudutkan Karin.


Beberapa karyawan terlihat sedang mengobrol seru di pantry. Nina yang melihat Karin melintas memanggilnya, Nina pribadi tidak percaya kalau Karin ada main dengan Presdir, tapi ia penasaran. Jadi, ia tanyakan langsung pada yang bersangkutan.


"Karin, sini," panggil Nina.


"Iya. Kalian lagi pada ngapain ngumpul di sini, gak makan siang?" jawab Karin.


"Udah tadi, kita mau tanya satu hal sama kamu. Tapi jangan tersinggung, ya," sambung Nina hati-hati, ia tak mau membuat Karin salah paham. Ia hanya penasaran.


"Aku tahu kok kalian mau tanya apa. Soal gosip, kan?" Nina dan yang lain mengangguk. "Aku sama Presdir memang cukup kenal, karena dulu, aku pernah satu universitas dengan Tiffany, adiknya. Yang tempo hari ke sini. Aku pulang duluan, ya. Tiba-tiba gak enak badan gini. Bye semua."


"Bu Mei sialan, tunggu pembalasanku," gerutu Karin dalam hatinya.


Karin merasakan lelah yang luar biasa pada tubuhnya, terutama bagian pinggang, terasa sangat nyeri. Mungkin tamu bulanan akan datang, pikirnya. Untuk mengurangi rasa nyeri, Karin memilih tidur sejenak.


Total ada lima pertemuan, dibantu Bu Mei, semua selesai tepat waktu. Iya, Dio belum punya asisten, jadi, Presdir meminjamkan sekretarisnya untuk mempermudah pekerjaan Dio.


"Apa masih ada meeting lagi, Bu Mei?" tanya Dio.


"Tidak ada pak, semua sudah selesai. Bapak mau ...."


"Saya langsung pulang. Terima kasih, Bu Mei sangat membantu."


"Sama-sama, Pak."


Tentu saja setelah semua meeting-nya selesai, Dio langsung menuju ke apartemen Karin. Namun di persimpangan jalan tak jauh dari hotel ia menginap tadi, ada sekelompok anak berseragam SMA, terlihat seperti sedang melakukan perundungan pada salah satu gadis.


Dio tak bisa diam saja. Tidak sepatutnya pelajar melakukan perbuatan tercela seperti itu. Dio meminggirkan mobilnya, menghampiri gerombolan bocah itu dan membubarkannya.

__ADS_1


"Kamu, gak apa-apa?" tanya Dio pada gadis yang kena bully tadi.


Gadis itu mengangguk sambil menangis, ia juga tak menerima uluran tangan Dio yang ingin membantunya berdiri, ia hanya berterima kasih. Seketika Dio teringat kejadian lalu, saat ia akan menyusul Papanya ke hotel. "Kira-kira, bagaimana kabar gadis itu, sekarang, ya?" tanya Dio dalam hatinya.


"Kamu mau saya antar?" tanya Dio sekali lagi.


"Tidak perlu, Kak. Sekali lagi terima kasih." Gadis itu melenggang, meninggalkan Dio yang masih berdiri menatapnya.


***


Karin terbangun dari tidur siangnya, ia merasakan sesuatu menempel di dahinya. Perlahan Karin membuka mata, melihat sekeliling, ia berada di kamar, "bukannya tadi, aku tidur di sofa?" pikir Karin kebingungan. Tak lama seseorang membuka pintu, Karin kaget setengah mati melihat siapa yang masuk.


"Tristan?" teriak Karin.


"Iya, ini aku. Tadi siang aku ke kantor tempat kamu kerja, terus lihat kamu pulang. Muka kamu pucat, jadi aku ikutin. Buka mulutmu, makan dulu terus minum obat. Kamu demam!" jelas Tristan sambil menyuapi Karin bubur.


"Enak, beli di mana?" tanya Karin di tengah-tengah makannya.


"Di depan ada yang jual," Tristan menyerahkan mangkuk bubur itu pada Karin, dan menatapnya lekat. "Lain kali, tutup pintu yang benar, untung aku yang datang. Gimana kalau orang lain," lanjutnya.


"Terima kasih, Indah apa kabar?"


"Indah baik. Habiskan, terus minum obatnya. Aku mau mandi dulu." Tristan meletakkan obat pereda demam yang ia beli tadi, di samping Karin. Tak lupa, Tristan mengusap lembut pucuk kepala Karin.


Karin menghentikan makannya, seketika itu juga air matanya mengalir. Jalan napasnya seperti tercekat, sesak sekali.


Mendengar Karin menangis, Tristan yang baru saja membuka baju segera kembali ke kamar Karin. Ia memandang gadis di depannya dengan tatapan sendu.


"Jangan menatapku seperti itu, aku ...."


Braaakkk, "brengsek! Siapa kau, beraninya masuk kamar kekasihku."

__ADS_1


__ADS_2