
Ada banyak cara Tuhan untuk mempertemukan umatnya. Salah satunya sering terlihat seperti ketidaksengajaan, padahal, itulah jalan yang Tuhan pilihkan untuk mereka.
***
Terdengar suara tangisan begitu pilu, Dio menyusuri lorong-lorong, mencari sumber suara. Dari kejauhan Dio melihat seorang gadis, masih berseragam putih abu-abu. Gadis itu jalan terseok-seok dengan air mata yang mengucur, suaranya pun makin terdengar parau.
Tepat berpapasan dengan Dio, gadis itu jatuh tersungkur dan tangisnya makin memilukan hati.
"Biar saya bantu," tutur Dio sambil mengulurkan tangannya.
Uluran tangan Dio tak disambut, tak pula diabaikan. Gadis itu malah mengucapkan terima kasih, lantas pergi.
Jika jarak antara cinta dan benci hanya setipis kertas yang rentan akan robek, tak ubah pula dengan takdir dan ketidaksengajaan. Semua nampak kebetulan, tapi nyatanya itulah yang sudah tergaris untuk hidupnya.
***
"Pak Brian, saya masih penasaran dengan hubungan pak Dio dan Karin. Seperti yang saya bilang sebelumnya, selama ini yang selalu melindungi Karin adalah bapak, tapi kenapa malah pak Dio yang ...," ujar Nesa penasaran.
"Saya juga tidak begitu tahu, tapi dulu, Karin adalah salah satu teman dekat Tiffany, adik kami. Yang artinya, Dia satu kampus dengan mas Dio. Setahu saya, mereka juga dulu sempat dekat, tapi tak begitu lama. Lalu, saya dengar dari adik saya ini, Karin pindah Universitas. Terus saya melihat mereka bersama lagi, saat mas Dio membawa Karin sebagai karyawan dua tahun lalu," jawab Brian sekenanya.
"Kami juga bertemu dua tahun lalu, saat sama-sama akan interview," sambung Nesa singkat.
Setelah makan malam di tempat Karin tadi, Brian menawarkan diri mengantar Nesa pulang. Awalnya Nesa menolak, tapi hari sudah malam, ia juga agak takut kalau pulang sendiri. Tak banyak basa-basi, Brian langsung pulang begitu Nesa memasuki gedung apartemen. Sementara Dio, dia pasti akan menginap di tempat Karin. Menemani pujaan hati yang tengah dilanda kegundahan.
Tak banyak yang tahu bagaimana dua umat manusia itu bersama, apa yang telah mereka lalui, dan apa alasan mereka menyembunyikan hubungannya dari khalayak.
Dua insan itu telah sama-sama terlelap, tenggelam dan hanyut dalam mimpi masing-masing. Merehatkan sejenak otak dari segala pikiran tentang dunia.
***
Kicau burung membangunkan Dio dan Karin dari lelapnya. Keduanya saling pandang dan tersenyum, sungguh kebahagiaan yang dinanti setiap pasangan. Saar membuka mata, mendapati orang terkasih tepat di hadapan.
Kecupan lembut Dio hadirkan di kening gadisnya. Karin kembali membenamkan diri dalam pelukan, ia ingin merasakan lebih lama lagi kehangatan dari tubuh prianya. Dio pun makin mengeratkan dekapannya.
__ADS_1
"Hari ini kamu di rumah aja, ya. Nanti aku urus cutimu."
"Gak perlu, aku udah gak apa-apa, kok."
"Yakin?"
"Hmm ...."
"Ya udah, kamu mandi, gih. Aku siapkan sarapan."
Karin keluar dari dekapan hangat Dio, dan bersiap untuk mandi. Tak lupa ia juga menyiapkan pakaian ganti untuk kekasihnya itu. Dio memang sengaja menyimpan beberapa pasang pakaian untuk ia gunakan ketika menginap, atau sekedar mampir. Supaya tak repot.
Mendapat kabar dari Presdir kalau Karin tetap masuk kerja, Nesa sengaja menunggu di lobby. Di sana Ia tak sendirian, ada banyak karyawan yang memiliki waktu senggang untuk bergosip. Dari yang didengar, katanya hari ini pak Dio datang dengan seorang gadis sangat cantik nan modis. Mereka juga terlihat intim. Mendengar itu, air muka Nesa yang semula tenang berubah kesal.
"Pak Dio sialan, awas saja kalau sampai mengkhianati Karin," gumamnya dalam hati.
"Nesa!" seru Karin lantang, sampai mengundang perhatian orang lain. "Ada apa dengan gadis ini, masih pagi sudah melamun, mikirin apa?" lanjutnya.
"Taruh tas dulu, baru kita ke kantin, ok!"
Niat Nesa mengajak Karin ke kantin untuk menghindari gosip terbaru perihal pak Dio yang datang dengan seorang gadis. Tapi Karin malah ngotot mau menaruh tas dulu. Alhasil, desas-desus itu sampai di telinga Karin. Tapi Nesa tak melihat adanya kemarahan atau semacamnya di wajah ayu itu.
Seorang berambut cokelat nampak duduk dengan santainya di kursi kerja Karin. Baik Karin maupun Nesa tak ada yang mengenali siapa gadis itu. Gadis itu berputar dan taraaa ....
"Surprise!"
"Tiffany!" Karin menghampiri dan memeluk sahabat lamanya itu.
Otak Nesa terus berputar, ia seperti pernah mendengar nama itu tapi ia lupa, dari siapa mendengar nama tersebut. Berpikir cukup lama, Nesa ingat. Itu nama adik presdir.
"Tiffany ini Nesa, Nesa ini Tiffany teman kuliahku dulu."
Keduanya bersalaman. Karena waktu hampir masuk jam kerja, Tiffany meninggalkan Karin juga Nesa, dan kembali ke ruangan Dio.
__ADS_1
"Nes, kamu gak apa belum sarapan?"
"Sarapan cuma alibi biar kamu gak denger orang-orang bergosip. Tapi rupanya kamu sudah tahu kalau itu adik ipar, jadi tidak masalah. Aku juga sudah sarapan."
"Jangan bicara seperti itu lagi, nanti ada yang dengar." Nesa mengangguk.
***
Bukan bu Mei namanya kalau tidak hobi cari sensasi. Perempuan tua itu membual sana sini kalau ia sangat akrab dengan adiknya boss, ia juga bilang kalau Tiffany sering meminta pendapatnya soal mode. Atau kata lainnya, Bu Mei yang membuat Tiffany menjadi gadis yang fashionable. Padahal, sudahlah pasti tak ada yang mempercayai. Dia sendiri saja, kalau berpakaian suka tabrak lari.
"Ikut kami makan di kantin kantor, mau?" tanya Karin pada Tiffany, ini memang sudah jam makan siang.
"Mau dong. Ajak mas Dio juga mas Alvin, ya."
"Jangan, terlalu mencolok, aku gak suka."
"Ya udah ayo!"
Karin, Nesa dan Tiffany pun ke kantin bersamaan. Rupanya Bu Mei mengikuti mereka bertiga. Tanpa basa-basi sekretaris boss itu langsung duduk di antara mereka bertiga. Dia juga ikut haha, hihi, seolah mereka teman akrab.
Ting ... pesan masuk. Karin membuka ponsel pintarnya, rupanya itu pesan dari Dio. Dio meminta Karin ke ruangannya.
"Aku duluan, ya. Pak Dio minta aku buat ke ruangannya." Nesa dan Tiffany mengangguk.
Dio dan Karin bukanlah anak kemarin sore yang suka mengumbar atau melakukan hal-hal yang bersifat pribadi di sembarang tempat. Mereka pasangan profesional, yang sangat bisa memisahkan antara urusan cinta dan pekerjaan. Jika di kantor, pertemuan mereka hanya terjadi kalau memang ada sangkut pautnya dengan tugas. Selebihnya, keduanya berkomunikasi via pesan saja.
"Besok saya tidak ke kantor. Nanti kamu tolong cek stok bahan baku bersama Kepala Gudang, nanti laporannya kamu taruh saja di meja."
"Kepala Gudang sudah diberitahu, Pak?"
"Sudah, saya juga sudah minta agar ceknya pagi, biar kamu bisa kerjakan laporannya hari itu juga."
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi!"
__ADS_1