
"Kak Dio ...." Dio menoleh ke sumber suara. Dua gadis yang ia ketahui teman akrab Karin, juga teman dekat adiknya tersenyum ramah. "Semoga dua gadis ini dikirim Tuhan sebagai petunjuk, di mana Karin saat ini berada," gumamnya dalam hati.
"O, hai. Kalian teman Tiffany, kan? Biasanya bertiga, di mana yang satunya?" tanya Dio basa basi, memancing salah satunya agar berkata di mana Karin sekarang.
"O, Karin," jawab Amel. "Kami juga gak tahu itu bocah sekarang ada di mana, Kak. Terakhir dia bilang lanjut kuliah di Indramayu, sambil kerja part time. Habis itu, nomornya gak bisa dihubungi," lanjutnya.
"Kak, foto dong," pinta gadis bernama Merlin. Anggap sebagai tanda terima kasih karena sudah memberi sedikit informasi keberadaan Karin, ia pun menerima permintaan untuk berfoto bersama.
"Terima kasih, ya, Kak."
"Sama-sama."
Sepulang dari acara wisuda Tiffany. Papa Ario yang sejak kedatangannya dari Paris, menangkap ada yang janggal dari anak sulungnya itu, meminta Mama Maria untuk memanggilnya. Papa Ario menunggu putranya dengan perasaan cemas. Sebab ia tahu, Dio adalah tipe yang gampang merasa bersalah.
Sama seperti kejadian si bungsu kena bully dulu, hampir setiap hari orang tua itu ditelpon anaknya, cuma untuk mendengar permintaan maaf karena tak bisa menjaga adiknya dengan baik. Mama Maria menghampiri anak sulungnya, yang tengah membuat mocacinno kesukaannya di dapur.
"Dio, kalau udah bikin minumnya, nanti ke kamar Mama, ya. Papa sama Mama mau ngobrol sama anak ganteng ini," ujar mama Maria sambil mengacak rambut anak sulungnya.
"Mama, jangan acak rambut dong, nanti gantengnya ilang," jawab Dio sembari merapikan rambutnya, sedang tangan kanannya masih tetap mengaduk minumannya. "Mama duluan, nanti Dio nyusul," sambungnya.
Selesai membuat mocacinno, dan sedikit menyeruput. Ia mendatangi kedua orangtuanya segera, tak enak membuat mereka terlalu lama menunggu. Sudah lama juga ia tak bercengkrama bebas dengan panutan hidupnya itu.
Ketika masuk, terlihat kedua orang tua itu tengah berbincang di sofa panjang yang ada di samping jendela kamar. Papa Ario meminta Dio duduk di ranjang, Dio pun menurut.
"Nak, apa ada yang ingin kamu sampaikan pada kami?" tanya papa Ario, to the poin. Dio menunduk, hatinya kembali bergemuruh. Ia berjalan lunglai mendekati sang Mama. Ia bersimpuh, dan memeluk kaki Mama Maria erat. Dio menangis sejadi-jadinya, ia merasa amat berdosa, telah mengecewakan kedua orangtuanya.
Mama Maria panik, ini bukan seperti Dio anaknya. Diangkatnya wajah sang anak, dipandangnya lekat ke dalam matanya. Apa yang telah menimpa anak sulungku ini, Tuhan? Kenapa gurat kesedihan begitu nampak di sana? batin Mama Maria.
"Mah, Pah, Dio minta maaf, Dio sudah mengecewakan kepercayaan Mama juga Papa. Dio lalai." Kembali air matanya mengalir. Tubuhnya gemetar, dadanya sakit membayangkan kalau-kalau benih yang ia tinggalkan di sana berbuah menjadi janin.
__ADS_1
Papa Ario membelai lembut kepala putranya, lalu berkata, "ceritakan apa yang mengganggu pikiranmu, Nak. Papa dan Mama akan mencarikan solusi terbaik untukmu."
Ucapan itu semakin membuat dadanya sesak. Tak mungkin ia menjelaskan yang sebenarnya terjadi, sebab jika ia, Papa dan Mama pasti akan memintanya untuk menikahi Karin saat itu juga. Yang artinya DeeKa Food menjadi miliknya, sedang ia tak inginkan itu.
"Pah, Mah, kalau boleh. Dio minta izin ingin keluar kota satu bulan," pintanya dengan mimik muka sendu. Siapa pun yang melihat, tak akan sanggup berkata tidak.
"Pergilah, Nak. Jika itu membuat hati dan pikiranmu tenang. Bawa yang sekiranya diperlukan. Kalau kami boleh tahu, kamu mau ke mana?" tanya Mama Maria penasaran.
"Indramayu, Jawa Barat." Mama Maria memandang suaminya, papa Ario menggeleng. Artinya, beliau tak memiliki koneksi di Kota kecil itu. Mama Maria menghela napas panjang, kemudian mengangguk.
"Kapan mau berangkat?"
"Sekarang!"
*****
"Mbak, segae loro dibuntel, ya! (mbak, nasinya dua dibungkus, ya!)" pinta salah seorang nenek yang sudah menjadi langganan, di rumah makan Padang tempat Karin mencari pundi-pundi rupiah.
"Mbak, aku mau satu, makan di sini, ya!" Deg ... Sudah berapa banyak suara pria yang ia dengar. Namun, ini yang paling mirip dengan suaranya yang telah mencuri hati.
"Ia, Mas, tunggu!" jawabnya tanpa menoleh pada pemilik suara.
Sesuai pesanan, Karin membuatkan dua untuk nenek yang dibungkus, dan satu untuk yang makan di sini. Si Nenek ramah seperti biasanya, membuat Karin yang melayani pun senang, "suwun, ya, Mak." Si Nenek mengangguk dengan senyum sumringahnya merekah.
"Mas, ini nasinya. Ya Tuhan!!!" Karin menutup mulutnya yang menganga lebar, matanya membulat sempurna melihat siapa yang memesan makan. Lekas ia berlari menuju dapur.
Di sana, ia menampar-nampar wajahnya. Benar, ia merasakan sakit, berarti ini bukan mimpi. Sekali lagi iya tampar pipi kanannya lebih keras. "Aww ... sakit."
Seorang wanita paruh baya yang sedari tadi memerhatikannya menghampiri, lalu menyentuh pundaknya. Karin menoleh, "Uni? Uni ...."
__ADS_1
Wanita paruh baya itu memberi isyarat agar Karin melanjutkan kalimatnya. Dua tahun lebih gadis bermata bulat itu bekerja padanya, sedikitnya ia tahu, kalau ada yang mengganjal di pikirannya.
"Uni, aku mau izin hari ini kerja setengah hari, bisa? Temanku dari Jakarta datang, mungkin aku juga akan ajak dia jalan-jalan sebentar. Janji, sebelum Magrib, aku udah balik lagi," cerocosnya sambil mengangkat jari kelingking, tanda ia tidak akan berbohong.
"Iya, boleh. Ya sudah sana, ganti bajunya. Masa, mau jalan-jalan pakai baju bernoda gini," timpal Uni pemilik rumah makan, sambil menyentuh noda minyak yang menempel pada kaus Karin.
Sebelum mengganti kausnya, Karin menghampiri Dio terlebih dahulu. Meminta pria itu agar mau menunggunya. Segera ia mengganti pakaiannya dengan kaus bermotif salur yang berpadu dengan celana jeans, tak lupa tas berukuran kecil menggantung indah di bahu kirinya. Barang bawaan Dio ia titipkan di rumah makan tersebut.
Kini dua sejoli yang hampir tiga tahun tak berjumpa itu, sudah berada di taman Cimanuk. Taman yang terletak di bantaran sungai Cimanuk. Rindangnya pepohonan, sejuknya udara, juga wanita yang paling ia cari duduk di samping, membuat Dio merasakan energi lebih dalam dirinya. Keduanya terdiam beberapa saat, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Terima kasih, Tuhan, telah Engkau pertemukan kembali aku dengannya. Aku berjanji padaMu, akan mencintainya seumur hidupku. Akan kubawa segala jenis kebahagiaan yang ada di dunia ini untuknya." Dio tersenyum, dan menatap wanitanya takjub.
"Tuhan, susah payah aku menghindar darinya, kenapa Kau kirim dia kemari? Aku mencintainya, tapi entahlah, aku merasa tak pantas untuknya." Karin menunduk lesu.
Senyum Dio berubah jadi tatapan sendu. Guratan di wajah gadis di depannya ini menunjukkan ketidaksenangan. Dio menggenggam tangan Karin, gerakan itu cukup membuat Karina kaget.
Jika tidak sedang di tempat umum, Dio mungkin akan berlutut. Tapi ia hanya memandang sendu wanita berparas ayu itu.
"Karin, sejak hari itu, hidupku tak tenang, gelisah setiap saat. Seperti ada bagian diriku yang hilang, aku hampir gila setiap hari, memikirkan bagaimana hidupmu setelah apa yang telah tega aku renggut." Dio menunduk. "Sekarang aku memohon padamu, ikutlah bersamaku. Izinkan aku bertanggung jawab atas apa yang telah aku perbuat padamu," sambungnya.
Karin tersenyum getir. "Gak ada yang mesti Kakak pertanggung jawabkan, aku baik-baik aja, kok. Kakak bisa pulang setelah ini."
Gadis berlesung pipi itu bangkit dari duduknya, tentu saja Dio menahan.
"Aku mencintaimu, Karin. Aku ingin bertanggung jawab atas dirimu bukan semata karena hari itu. Aku ingin kamu menjadi bagian hidupku, bukan cuma jadi masa lalu, tapi juga menjadi masa depanku. Di mana ketika orang-orang menyebut namaku, maka mereka pun akan menyebutmu sebagai pasangan jiwaku," seru Dio lantang. Tentu saja itu mengundang perhatian banyak orang, biarlah mereka menganggap ini drama, aku hanya ingin mengutarakan semua isi hatiku, batin Dio.
Hati Karina melemah mendengar penuturan pria yang dicintainya, setitik air matanya mengalir. Ia tak menyangka ada yang mencintainya sedalam itu, saat ia sendiri dicampakkan oleh papanya.
"Ayo, kita pulang," jawab Karin singkat. Dio tersenyum lebar, air mata kebahagiaan lolos begitu saja dari pelupuk mata.
__ADS_1
Mereka pun kembali ke rumah makan Padang yang selama ini menjadi tempat tinggal Karin, berpamitan kepada sang majikan, dan kembali ke Jakarta hari ini juga.