
Dio tidak ke kantor karena ada perjalanan bisnis, mungkin lusa baru akan pulang. Untuk itu, Dio memutuskan akan menginap lagi di tempat Karin. Tiffany yang sudah jauh hari berencana menginap terpaksa harus mengalah pada kakak tertuanya itu, padahal ia sudah lebih dulu sampai di apartemen Karin. Tetap saja, Dio tega mengusir paksa adik manjanya.
"Mas nih, ya. Rese. Aku di sini cuma sampai minggu depan, menginap di apartemen sahabat sendiri pun diusir, jahat emang. Padahal kemarin 'kan sudah menginap," seru Tiffany kesal.
"Ayolah adik mas, sayang. Besok kamu boleh menginap," sahut Dio dengan ekspresi wajah memelas.
"Sudah, sudah. Kenapa kalian gak nginep bareng aja, masih ada kamar satu lagi," tukas Karin menengahi perdebatan konyol kakak-beradik itu.
"Aku gak mau jadi nyamuk. Aku pulang!"
"Kamu emang adik perempuan mas yang paling baik, love you sayangku."
Tak mau terlalu lama jadi nyamuk, Tiffany pulang. Di luar gedung sudah ada Brian yang menunggu, Dio yang menyuruhnya untuk menjemput adik bungsu. Meski hari belum terlalu malam, tetap saja ia tak ingin adik perempuannya pulang sendirian.
Biasanya Dio akan memasak makanan sehat kala menginap, tapi kali ini tidak. Ia membebaskan pujaan hatinya untuk makan apa saja. Karena sudah dapat kebebasan, Karin memesan pizza, spaghetti juga camilan tak sehat lainnya. Sambil menunggu pesanannya datang, Karin membuatkan mocacinno kesukaan pacarnya.
Ting ... tong.
"Sayang, makananmu datang. Cepat ambil, kalau gak, kurirnya aku suruh balik lagi."
"Jangan dong. Ini mocacinno-nya, aku ambil bagian favoritku dulu."
Karin kembali dengan tangan penuh kotak berisi makanan. Ia bukan gadis pemilih soal makan, itu juga yang membuat Dio jatuh hati. Di saat banyak gadis sibuk menjaga image di depan pria, maka tidak dengan Karin. Ia selalu bertindak apa adanya.
"Sayang aku punya film baru." Dio mengeluarkan flashdisk khusus yang berisi film-film favoritnya.
"Drakor?" Dio mengangguk. Ia, Dio yang tegas dan penuh daya pikat adalah pecinta drama dari negeri yang terkenal akan ginsengnya itu.
"Ini lagi trending tahu, aku putar dulu, ya. Kamu juga cepet makan, nanti keburu dingin, gak enak."
Hanya Karin yang tahu kalau Dio menyukai drakor, bahkan Brian dan Tiffany juga tidak tahu. Bisa habis ditertawakan kalau sampai dua adiknya itu tahu. Pasalnya dulu, ia sering mengejek Tiffany. Ia juga menyebut itu film plastik, karena banyak aktor dan aktrisnya yang melakukan operasi plastik demi terlihat cantik dan tampan.
Siapa sangka, sekarang, ia malah punya tempat khusus untuk menyimpan drama-drama itu.
Sepanjang menonton, Dio terus saya memberi spoiler. Nanti beginilah, terus begitulah. Sebentar lagi ciuman, pelukan, lalu mabuk. Membuat Karin jengkel.
"Kamu berisik tahu gak! Nikmati tontonan itu, jangan banyak kasih spoiler. Ganggu orang makan aja."
"Awas kalau makannya gak habis, kamu yang aku makan."
__ADS_1
Ting ... tong. Bel pintu berbunyi, Karin dan Dio saling pandang. Karin mengangkat kedua bahu, ia tidak merasa pesan apa-apa lagi, ia juga tidak mengundang tamu.
"Aku lihat dulu, kecilin volumenya."
Ketika membuka pintu, betapa terkejutnya Karin melihat siapa yang bertamu. Karin sontak menutup pintu dan menguncinya, ia berlari dan menyeret Dio agar masuk kamar. Gawat kalau sampai Bu Mei melihat. Di luar bu Mei terus saja menggedor-gedor pintu.
"Kamu jangan bersuara, ok. Aku kunci dari luar." Ditariknya gagang pintu itu kasar.
"Aduh ...."
"Kenapa?"
"Jariku kejepit, pelan-pelan aja tutup pintunya, bisa?"
"Bisa, Sayang. Maafkan. Aku tutup."
Secepat kilat Karin kembali ke pintu utama, kalau tidak, Bu Mei bisa jadi dianggap mengganggu kenyamanan penghuni lain.
"Silakan masuk, Bu Mei."
"Lama banget sih."
Wanita tua itu duduk di tempat bekas Dio duduk tadi, bukan Bu Mei kalau tidak kepo. Dia nyerocos saja. Tanya bagaimana Karin bisa kenal Tiffany, kenapa dia kuliah di Prancis, apa kebiasaannya. Sampai pusing kepala Karin mendengarnya.
"Hmm."
"Kami dulu pernah satu Universitas, dia suka dengan dunia mode jadi ia kuliah lagi di Prancis. Setahu saya, sebelum tidur, biasanya dia akan membaca buku-buku dongeng. Puas dengan jawaban, saya?"
"Hmm, kalau gitu saya pulang. Ngomong-ngomong, kamu lagi ada tamu? Atau pacarmu baru saja ke sini. Sofanya masih hangat."
"Teman saya sedang menginap, Bu. Baru aja masuk kamar. Mari, Bu Mei saya antar pulang."
"Gak usah, saya bisa pulang sendiri." Karin mengantar sampai lift.
"Hati-hati di jalan, Bu Mei. Terima kasih sudah mampir ke tempat saya."
"Hmm."
***
__ADS_1
"Sayang, bangun. Aku berangkat sekarang."
Karin mengerjapkan matanya beberapa kali, sebenarnya malas sekali bangun pagi buta begini. Tapi pujaan hati sudah mau pergi, mau tak mau Karin harus bangun.
Gadis manis itu bergelayut manja di bahu kekar Dio. Sungguh. Ketulusan, kesabaran, serta perhatian yang selama ini ia dapatkan dari seorang Dio, membuat hatinya luluh lantah.
"Aku berangkat, ya. Selesai mengerjakan laporan, langsung keluar. Jangan seperti hari itu. Aku khawatir, Sayang."
"Terima kasih selalu mengkhawatirkan aku. Kamu hati-hati, sering-sering hubungi aku."
"Pasti, aku mencintaimu." Karin mengangguk.
Seperginya Dio, Karin memasak nasi goreng untuk bekal ke kantor, ia ingin sarapan dengan Nesa. Ada nasi sisa semalam, sayang kalau dibuang.
[Jangan sarapan di rumah, aku buat nasi goreng.]
[Ok,] balas Nesa singkat.
Selesai membuat nasi goreng, beberes, juga mandi. Karin langsung memesan taksi online, akhir-akhir ini ia malas menyetir mobil sendiri. Sambil menunggu taksi online datang, Karin ikut nimbrung dengan satpam yang sedang asik berbincang. Ada tiga orang di sana, Karin cukup akrab dengan para penjaga gedung itu.
"Pagi Mbak Karin. Nunggu taksi online, ya?" tanya salah seorang satpam yang bernama Joko.
"Iya Pak, lagi males nyetir. Bapak semua sudah sarapan?"
"Belum, Mbak. Maklum tanggal tua, sarapannya sekalian makan siang nanti." Karin tersenyum.
"Saya ramal, sebentar lagi bapak-bapak akan makan ketupat sayur."
"Mbak Karin ini, ada-ada saja. Itu bukan taksi online nya," tunjuk Pak Joko pada mobil yang baru saja sampai.
"Iya betul, saya duluan, ya, Pak."
"Hati-hati, Mbak Karin."
Tak lama setelah Karin pergi, penjual ketupat sayur datang dengan membawa tiga porsi. Rupanya Karin yang memesan tanpa sepengetahuan mereka.
Sedikit perhatian kita, bisa berarti besar bagi mereka. Menghargai bukan soal apa dan siapa. Sebagai sesama manusia, sudah sepatutnya kita saling menghormati. Tanpa memandang ras, status dan juga agama.
***
__ADS_1
"Hai, aku Dio. Kakaknya Tiffany, yang kamu dan teman-temanmu tolong waktu itu, ingat?" sapa Dio saat berpapasan dengan Karin di koridor kampus, lalu mengulurkan tangannya.
Karin menyambut tangan itu. "Gak ada yang gak tahu Kakak. Aku Karin."