KARINA

KARINA
Sembilan belas


__ADS_3

"Iya, yang di sana, ayo sini!"


Yang mengangkat tangan tadi adalah seorang pria, dia berjalan dengan gaya cool-nya. Lagi, suasana jadi riuh, tak ada yang bisa menolak pesona sang model internasional itu. Badan kekar dan wajah khas cowok macho, selalu berhasil membuat gadis-gadis histeris. Pengecualian untuk Karin, baginya, lelaki gagah perkasa di dunia ini yang cuma Dio seorang.


Thomas mengambil tempat kosong di samping Karin, ia juga tersenyum ... ah tidak, tepatnya nyengir, yang bikin Karin jengkel. Dalam hati, "cowok alay, sok kegantengan."


"Hai, mulai sekarang kita harus akrab, sebab kita akan bekerja sama dalam waktu yang lama. Kamu harusnya bersyukur, aku memilihmu untuk menjadi asisten selama proses pembuatan iklan nanti," bisiknya tepat di telinga kanan Karin. Karin menoleh dengan mimik muka terkejut. "Gak usah syok gitu, aku tahu aslinya kamu seneng banget 'kan?" lanjutnya.


Gadis berlesung pipi itu langsung mengalihkan pandangan, ia juga mengorek kupingnya, barangkali tadi ia salah dengar. Tapi, sepertinya tidak. Model yang mendapat julukan sialan itu, sibuk manggut-manggut dan melambaikan tangan ke sana-sini.


"Aku rasa waktu kecil dia pernah jatuh dari pesawat, dan kepalanya dulu yang mendarat ke tanah." Karin menghela napas panjang.


Selesai pengundian kupon, juga penyerahan doorprize. Makan siang bersama dilaksanakan dalam stadion, mereka semua makan dengan lesehan. Sepertinya yang dikatakan Thomas soal keakraban itu bukan bualan semata, kini model berambut agak bergelombang itu ikut makan bersama Karina dan lainnya, ia juga duduk tepat di depan gadis berambut hitam itu. Sesekali pria berkulit eksotis itu terlihat mencuri pandang pada gadis di depannya.


Mual, itulah yang Karin rasakan. Melihat pria sialan di depannya curi-curi pandang, juga cengengesan membuatnya ingin mengeluarkan apa yang sudah melewati tenggorokannya.


"Cuci mata, Rin. Dia gak kalah ganteng kok dari pak Dio," bisik Nesa menggoda sahabatnya itu. Karin berdesis juga melotot mendengar apa yang baru saja sahabatnya bisikan. Sedangkan Nesa malah terkekeh geli.


******


Malam puncak acara diisi lagu-lagu romantis yang dibawakan langsung, oleh penyanyi top dalam negeri. Entah kemana perginya Dio, sejak jalan santai tadi, pria itu tidak juga terlihat batang hidungnya, ia juga tidak bisa dihubungi.


Brian menghampiri Karin yang duduk sendiri di salah satu meja, ia tampak gelisah, beberapa kali gadis bermata bulat itu terlihat memandangi ponsel pintarnya. Mungkin ia sedang menunggu telpon seseorang.

__ADS_1


"Hai!" sapa Brian.


"Presdir, duduk!" Karin menarik satu kursi di sampingnya.


"Padahal saya bisa sendiri. Kamu sendirian aja? Biasanya sama Nesa?"


"Nesa lagi ke kamarnya, mau terima telpon katanya."


"Hmmm." Brian menggeser kursinya menjadi lebih dekat dengan Karin. Ia mengamati kekasih kakaknya ini sesaat, lalu ia tersenyum penuh arti.


Kembali, gadis berparas ayu itu mengecek benda pipih yang ada di tangannya. Brian juga penasaran, ke mana kakaknya itu pergi. Dio cuma pamit ada keperluan, dan memintanya untuk menjaga gadis pujaannya itu.


"Kamu terlihat luar biasa, malam ini!" Lelaki itu bangkit dari duduknya, dan meninggalkan Karin yang syok mendengar penuturan calon adik iparnya ini.


Ia berkali-kali mengerjapkan matanya, juga menggeleng-geleng. Berusaha mengenyahkan pikiran buruk, atas apa yang baru saja ia dengar. Entah maksudnya memuji atau apa, itu sangat membuat Karin tidak nyaman. Untuk menetralkan kembali perasaan tak nyamannya, ia mencoba menelpon Dio lagi, dan, kembali tidak dijawab, ia mulai kesal.


Gadis berlesung pipi itu meliuk-liukkan tubuh rampingnya, menikmati tiap dentuman musik yang disuguhkan oleh DJ ternama. Saat asyik menggoyangkan badan, sebuah tangan menelusup, merangkul pinggangnya. Karin tak ada minat untuk menoleh, ia lebih memilih menyingkirkan tangan itu. Dua kali Karin tetap hanya menepis. Ketiga kali, ia berbalik dan menampar sang pemilik tangan sangat keras. Kegaduhan pun terjadi. Musik terhenti, semua mata memandang dua manusia yang tengah beradu pandang.


"Beraninya kamu menamparku! Apa kamu tidak tahu siapa aku? Hah!!!" bentak Thomas penuh amarah.


"Beraninya Anda menyentuh pinggang saya! Apa Anda tidak tahu siapa saya? Hah!!!" tukas Karin tak kalah sengit.


Beberapa orang bergumam disekitar, dan suara sumbang itu tertangkap oleh indra pendengaran Thomas. Demi menjaga reputasi, ia lekas meninggalkan Karin yang masih menatapnya tajam. Brian memberi tanda agar DJ melanjutkan lagi musiknya. Kemudian, ia meminta Karin agar mengikutinya.

__ADS_1


*****


Fajar menyingsing dari ufuk timur, menandakan hari baru telah tiba. Membangunkan tiap jiwa yang masih terbuai dalam indahnya mimpi, tak terkecuali Karina. Dengan mata masih terpejam, tangannya sibuk mencari ponsel yang ia simpan di bawah bantal. Matanya mengerjap, menyesuaikan cahaya yang keluar dari benda pipih serbaguna itu. Tak ada tanda-tanda Dio balas menghubunginya, gadis ayu itu memutar bola matanya malas.


Jam masih menunjukkan pukul 04.00 pagi, diletakkannya kembali handphone itu di bawah bantal, dan melanjutkan tidurnya. Karin masih tidak sadar, kalau lelaki yang semalam susah ia hubungi, sudah berada di sisi lain kasur, sampai suara dengkuran halus menelusup manja, menyentuh gendang telinganya.


Rasa kantuknya seketika hilang, ia berjalan ke meja tak jauh dari tempat tidurnya, mengambil air mineral yang ada di sana, dan ... byuurrr.


"Banjir ... banjir ... ban ...." Sontak ia melompat turun dari kasur. Aneh, lantainya kering. Dio melirik gadis yang tengah melipat kedua tangannya. Wajah menakutkan, tatapan tajam, seperti pembunuh yang siap menikam korbannya.


"Berani kamu masuk kamarku, ya! Kemarin kemana aja, hah!" cecar gadis itu, botol air mineral yang tadi di tangannya sudah melayang indah, dengan sigap Dio menghindar.


"Ada kerjaan yang gak bisa kutinggal, Sayang," jelasnya.


"Kerjaan macam apa yang buat kamu gak bisa dihubungi? Hah!"


"Aku gak bisa cerita sekarang, Sayang."


"Gak bisa cerita, ok. Pergi kamu dari sini, pergi!!!"


"Iya aku pergi." Dio lekas berlari meninggalkan kamar gadisnya, melalu pintu penghubung. Sangat berbahaya jika ia tetap ngeyel di sana.


Belum juga lima menit, pria rupawan itu masuk lagi. "Bajuku ketinggalan," serunya, langsung kembali keluar.

__ADS_1


"Baju ketinggalan ingat, aku dilupakan. Dasar lelaki kardus," gerutunya bersungut-sungut.


Di tempat lain, Thomas sedang berkemas. Top model itu memilih pulang lebih awal, mengingat kejadian semalam membuatnya malu bukan main. "Saat banyak gadis memohon untuk kusentuh, kamu malah menolakku, juga berani mempermalukanku, sangat menarik. Karin, aku harus mendapatkanmu."


__ADS_2