KARINA

KARINA
Tiga puluh


__ADS_3

Saat liburan, di resort tempatnya menginap, kamarnya bersebelahan dengan seorang ayah dan anak. Anak gadis yang cantik dan manis, mereka bukanlah dari kalangan atas, wisata ini hadiah dari seseorang.


Hubungan keduanya begitu hangat, sama seperti keluarga Karin dulu ketika mama Novi masih ada. Banyak yang si ayah ceritakan perihal perjuangannya menghidupi anak gadis semata wayangnya ini. Mulai dari berjualan asongan, menarik becak sampai menjadi sopir angkot, demi anaknya bisa lanjut sekolah, sekarang dia sudah kelas VIII SMP.


Tentu, sebagai manusia yang berhati, Karin terenyuh dengan cerita itu. Pada hari itu pula memutuskan untuk tidak lagi membenci papanya. Tapi niat baik itu hilang, sirna dibawa tipuan yang kekasihnya ciptakan.


Foto-foto yang masuk di ponselnya tidak lain hasil karya anak buah Thomas. Terutama lima gambar terakhir yang membuat Karin meradang. Di sana jelas terlihat Dio seperti sedang memberikan arahan pada ayah dan anak kecil itu.


Sekembalinya dari toilet, Karin langsung mengetik surat pengunduran dirinya. Tanpa sepengetahuan Nesa ia serahkan pada pihak HRD dan hari itu juga ia pulang, tak lupa kontak Dio ia blokir.


"Nes, aku pulang duluan, ya. Capek!" Iya, hatinya lelah karena pria yang begitu ia cintai.


"Kamu sakit? Udah izin? Cuti aja," saran Nesa pada sahabatnya. Karin tak menjawab, ia memeluk gadis bermata sipit di depannya lalu pulang.


Diiringi air mata yang berderai, bak pembalap formula satu, Karin mengendarai mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi. Hingga jarak tempat tinggal dan kantor seperti beberapa langkah saja. Saat hendak memasuki area parkir, sebuah mobil yang nampak asing menghalangi jalannya. Gadis bersurai hitam itu menekan klakson mobilnya berkali-kali dan intens. Namun, kereta besi yang ada di depannya tak pula menepi.


Segera ia seka dengan kasar wajahnya, turun dan menggebrak kaca mobil di depannya itu.


"Keluar!!!" teriaknya lantang.


Pintu terbuka, dan papanya keluar dari sana. Amarah Karin kian membuncah, ia tak bicara apa pun. Gadis bermata cokelat itu kembali masuk ke mobilnya, dan langsung menginjak pedal gas, menabrak kendaraan di depannya berulang-ulang. Hingga bagian cup mesin terbuka dan asap tebal keluar dari sana, barulah ia berhenti.


"Argh ...." Ia berteriak dan meraung seperti orang gila, beruntunglah ia masih di dalam mobil, hingga suaranya tak terlalu terdengar dari luar.

__ADS_1


Papa Rudi terus berteriak dari luar agar putrinya berhenti bertindak anarkis.


"Keluar, Nak. Papa mohon," pinta orang tua itu dengan suara mengiba. Karin membuka pintu tepat ketika papanya menggedor kaca, hingga tubuh tua itu sedikit terpental.


"Berhenti menemuiku, dan segera pergi dari sini!!!" bentak Karin kasar. "Atau aku akan berteriak, kalau Anda tengah melakukan percobaan pemerkosaan terhadapku," sambungnya tak memberi kesempatan pada Papa Rudi untuk bicara lebih banyak.


Karin terus berjalan menuju lift, tak memedulikan teriakan orang tua di belakangnya yang terus saja mengucap kata maaf. Rasanya makian lebih nyaman terdengar di telinga ketimbang maaf.


Di kantor, Dio baru saja pulang dari meeting. Pria gagah itu tak mendapati wanitanya di sana, ia menanyakan pada Nesa di mana Karin. Gadis bermata sipit itu mengedikkan bahu tanda tak tahu. Sesungguhnya ia juga khawatir, sebab nomor sahabatnya ini tak bisa dihubungi. Namun, ia tetap berusaha berpikir jernih. Ya, Karin memintanya agar tak memberitahu Dio kalau ia pulang lebih cepat.


Dio pun masuk ke ruangannya, duduk dengan manis dan membaca ulang hasil diskusi dengan relasi tadi. Mendadak jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya, perasaannya pun jadi tak enak.


Tak ingin perasaan itu terus mengganggunya, ia mengambil ponsel pintarnya dan menekan nomor sang kekasih. Tapi, nomor itu tidak bisa dihubungi. Batinnya bertanya-tanya.


Laptop ditutup, meja dirapikan dan bersiap menuju kediaman sang kekasih. Dio bak anak ayam yang kehilangan induknya, jika sesaat saja tak ada kabar dari pacarnya itu. Senyum sumringah tak pudar barang sedetik pun pasca liburan singkat mereka, ia hanya yakin rencananya berhasil. Sebab, sebelum berpisah di bandara Karin sempat berkata, kalau ia akan berusaha membuka hatinya untuk Papa Rudi. Ia bahkan tak tahu, jika kebencian itu sudah menular pula padanya.


Kini Karin tengah memandang kosong bayangan wajahnya di cermin. Air mata tak lagi mengalir di pipi mulusnya, ia tampak "baik-baik saja".


"Ah ... aku sudah terlalu lama berambut panjang, warna hitam juga terlalu biasa. Ok Karin, mari mulai hidup barumu," celotehnya sambil memainkan rambut hitam nan panjangnya.


Karin meninggalkan ruang pribadinya, bersiap menuju salon kecantikan langganan untuk mengganti model dan warna surai kebanggaannya. Sampai di parkiran, ia baru sadar kalau mobilnya rusak. "Aih, sial! Aku lupa memanggil orang bengkel untuk mengambil mobilku."


Ia pun menghubungi orang bengkel untuk membereskan mobilnya, lalu memesan taksi online. Tak lama kemudian, taksi online datang.

__ADS_1


"Langsung berangkat atau gimana, Mbak?"


"Langsung, Pak. Saya gak lagi nunggu orang, kok." Karin mengambil duduk di kursi belakang. Tetapi, seseorang menahan pintu.


"Kamu mau ke mana?" tanya seseorang itu dengan tatapan menelisik.


"Pak, tunggu sebentar, ya," perintah Karin pada sopir taksi.


"Siap, Mbak."


Ia turun, mengikuti langkah Dio yang menuju ke mobilnya. Lelaki penyuka drama Korea itu menarik gadisnya agar mendekat. Namun, Karin langsung mundur untuk memberi jarak.


"Mau ke mana? Aku antar." Gadis berlesung pipi itu tersenyum sinis.


"Tidak perlu repot-repot, Pak Dio. Saya sudah memesan taksi online." Dio terperangah mendengar penuturan wanitanya.


"Kamu marah?"


"Saya tidak memiliki hak untuk marah."


"Lalu?"


"Saya ada keperluan lain, mari." Gadis penyuka warna ungu itu menunduk sopan, lalu melenggang meninggalkan Dio dengan segala pertanyaan yang tinggal di kepalanya.

__ADS_1


Apa dia marah padaku? Apa aku melakukan kesalahan?


__ADS_2