
Pria yang paling ia cintai di muka bumi akhirnya muncul dari balik pintu. Dio mengenakan setelan jas berwarna abu muda, begitu pas di tubuh atletisnya. Senyumnya sungguh indah, bak kembang yang sedang mekar.
Lelaki berpawakan tinggi itu terkesiap, melihat gadisnya begitu cantik dan anggun, seperti putri dari negeri dongeng. Ia berjalan, mendekati wanitanya lalu bersimpuh di hadapan sang pujaan hati. Dirogohnya saku yang ada di dalam jas, nampak sebuah benda berwarna merah, berbentuk hati, menyembul dari sana.
Dibukanya benda berbentuk hati itu, digenggamnya tangan halus kekasih hati, lalu ia utarakan semua keinginannya.
"Aku ingin menjadi seseorang, yang selalu ada untuk kamu pukul, kala kesal. Kamu peluk saat sedih, dan menjadi tempatmu berkeluh kesah. Karina, maukah kamu menikah denganku? Menjadi pendamping hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku?"
Karin mengatupkan mulutnya, genangan air sudah siap meluncur bebas dari pelupuk. Ia tidak menyangka, Dio melamarnya secepat ini.
"Ini bukan mimpi, kan?"
"Ini nyata, sayang. Jadi?"
"Aku mau, menjadi pendamping hidupmu, juga menjadi ibu dari anak-anakmu."
Dio pun memasangkan cincin emas bertahtakan berlian di jari manis gadisnya. Seketika itu pula genangan air yang sedari tadi Karin tahan, terjun bebas melewati pipi berlesungnya. Dio kembali berdiri, lalu membawa wanitanya dalam pelukan.
Dio melepaskan pelukannya, mengapit pipi Karin di antara kedua telapak tangannya. Tatapan elangnya akan berubah teduh, ketika bersama wanita pujaan. Iya, mata sendu itu ia tunjukkan hanya pada seorang Karina.
"Aku ingin membawamu ke satu tempat spesial lagi. Tapi janji, kamu gak akan marah!" ujarnya dengan satu tangan mengacungkan jari kelingking.
"Marah?" jawab Karin keheranan.
"Pokoknya janji!"
Karin pun mengangguk dan mengaitkan jari kelingkingnya, "aku janji!"
"Aku tutup matanya, ya." Dio tutup mata Karin dengan sapu tangan yang sudah ia siapkan sebelumnya. Dituntunnya Karin ke mobil perlahan.
__ADS_1
Dio membawa Karin ke taman bermain yang dulu sering gadis itu datangi bersama Mamanya. Tempat itu sengaja ia sewa, agar tak ada orang lain yang menggangu acaranya ini.
Begitu penutup mata dibuka, ekspresi Karin yang semula gembira, seketika berubah datar. Tangannya mengepal kuat menahan amarah. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa, Dio membawanya ke tempat ini. Bukan tempatnya yang membuat emosi Karin naik, melainkan siapa yang berdiri di dalamnya.
"Aku mau pulang, sekarang!" ujar Karin pelan.
"Sayang, kamu 'kan udah janji gak akan marah. Aku cuma ingin ...."
"AKU BILANG MAU PULANG, SEKARANG!" Kini nada kemarahan begitu kentara, Karin melirik kekasihnya tajam.
"Tidak apa, Dio. Antar Karin pulang, ia mungkin masih belum bisa memaafkan Om," gumam papa Rudi lirih. Hatinya sakit, melihat penolakan yang begitu jelas di mata putrinya.
Karin berdecih, lalu pergi begitu saja meninggalkan Papa, juga Dio.
"Om, aku minta maaf, aku harus kejar Karin." Papa Rudi cuma mengangguk, sambil berusaha menyunggingkan senyum pahitnya.
******
Saat itu, hubungan Karin dan Dio baru sebatas teman dekat, mereka sering sharing soal hobi keduanya yang sama-sama menyukai musik.
"Rin, sejak kapan kamu suka musik?" tanya Dio.
"Sejak kecil sepertinya. Dulu, Mama sering memutar lagu-lagunya hits pada waktu itu. Jadilah aku suka musik. Kalau kak Dio?" tanya Karin balik.
"Aku gak tahu pastinya. Tapi, saat penerimaan mahasiswa baru kemarin ini, ada seorang mahasiswi baru, dia entahlah, gagal melaksanakan misi apa dari seniornya, lalu dihukum menyanyi. Aku ingat, ia menyanyikan lagu Almarhumah Nike Ardilla yang judulnya Bintang Kehidupan. Sangat merdu, mungkin sejak itu."
Karin tersipu-sipu mendengar Dio memuji suara gadis itu merdu. Sebab pemilik suara itu bukan lain adalah ia sendiri. Saat itu, ia dihukum senior menyanyi, karena kelupaan membawa buku yang ia pinjam darinya.
Dio mengernyitkan dahi melihat ekspresi wajah Karin, pipinya bersemu kemerahan. Tanpa sadar ia pun terkekeh.
__ADS_1
Pembawa acara mengumumkan acara potong kue segera dimulai, ia memanggil kedua kakak Tiffany agar berdiri di samping adiknya.
"Aku tinggal sebentar," pamit Dio pada Karin. Gadis itu mengangguk.
Sebelum memotong kue berukuran besar itu, Tiffany mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Dio dan Brian, mereka sudah mengurus juga menjaganya dengan baik.
"Terima kasih, mas Dio, mas Alvin. Aku adalah adik yang paling beruntung di dunia, karena memiliki dua orang kakak seperti kalian." Tiffany mencium pipi kedua kakaknya bergantian.
Mendengar ucapan terima kasih Tiffany untuk kedua kakaknya. Tak terasa air mata Karin ikut mengalir, "andai bukan wanita itu yang menjadi istri papa. Aku, Tristan dan Indah, pasti akan berhubungan dengan baik, sama seperti mereka," bisiknya dalam hati.
Karin buru-buru menyeka air matanya dan memutuskan untuk memisahkan diri, ia tak ingin melihat kemesraan kakak beradik itu lebih lama lagi. Ia tak tahan, ia cemburu. Dan lagi, tak ada yang ia kenal selain Tiffany dan kedua kakaknya. Amel dan Merlin tak jadi datang, orang tua mereka tak mengizinkan mereka keluar malam.
Tiffany mengambilkan sepotong kue, ia meminta Dio untuk memberikan potongan kue itu pada Karin. Dio mengerutkan dahi. "Kenapa gak mau aja yang kasih? Kan kamu yang lagi ulang tahun."
Tiffany menepuk jidatnya, lalu mengangkat kedua tangannya seperti orang berdoa. "Tuhan, kenapa Kakakku ini tidak mengerti apa yang ku maksud? Udah sana, aku lihat tadi Karin ke dalam."
Dio menurut saja, dihampirinya Karin yang tengah menonton televisi itu.
"Di luar lagi pada pesta, kamu malah nonton TV sendirian. Ini, kamu belum nyobain kuenya, kan?" Karin tersenyum dan menerima kue yang Dio bawa. Sedang cowok itu masih berdiri menatap cewek di depannya.
"Kamu cantik!"
Karin kaget, ia sampai tersedak karena mendengar apa yang Dio ucapkan. Buru-buru Dio ambilkan air untuk minum, Karin jadi keselek karena dirinya.
"Ini, minum dulu!" Karin segera menyambar gelas berisi air itu dan meminumnya.
"Sudah baikan?" gadis itu mengangguk. "Maaf buat kamu kaget, aku cuma berkata jujur. Kamu cantik! Terutama matamu." sambungnya.
Kini posisi duduk mereka begitu dekat, sangat dekat. Karin sampai bisa merasakan hangat napas yang pria itu hembuskan, tepat di telinganya.
__ADS_1
"Aku ada cara ampuh mengusir segala kegundahan yang hatimu rasakan, mau mencoba?" Karin diam saja, ia tak tahu mau menjawab apa. "Diam berarti setuju. Ikuti kata-kataku, tutup matamu!"
Entah sihir apa yang Dio gunakan, Karin menurut saja kala diminta. Ia merasakan satu tangan pria itu merangkul pundaknya, dan yang lain menggenggam tangannya lembut.