
Tubuh Karin menggigil, padahal, selimut tebal sudah Nesa pakaikan padanya. Ia juga terus mengigau menyebut-nyebut Mama. Nesa sedih, bukan karena melihat kondisi Karin, tapi ia sedih karena tak bisa membantu sahabatnya secara maksimal. Nesa mengambil ponsel Karin, barangkali ada yang bisa ia hubungi. Tapi handphone itu di password, dan ia tidak tahu password-nya apa. Ia menangis.
"Kamu selalu bantu aku, Rin. Sekarang, aku malah bingung mau berbuat apa," ucap Nesa lirih, merasa tak berguna sebagai sahabat.
Dalam tidurnya Karin bermimpi, itu adalah hari di mana ia dan Mama Novi tengah menikmati senja, di tepi pantai nan elok. Deburan ombak dan lambaian pohon kelapa, menambah indah suasana sore.
"Mama, Karin!" Panggil papa Rudi penuh hangat dari dalam mobil, bermaksud mengajak putri dan istrinya untuk pulang.
"Sayang, kamu harus kejar Mama. Kalau kamu menang, Mama janji, akan kasih izin Karin minum susu."
"Janji?"
"Janji, ayo kejar Mama."
Mama dan Karin saling kejar, diselingi gelak tawa, senja semakin terasa begitu indah. Namun satu kenyataan yang akhirnya Karin sadari, ia tak pernah menang dalam lomba lari itu. Karena Mama berlari begitu jauh. Sangat jauh. Sampai Karin, tak tahu harus kemana untuk mengejar.
Ponsel Karin terus saja berdering, nama X terpampang di layar datar itu. Nesa tidak berani menjawab, menurutnya tidak sopan. Lagi pula, Nesa juga tidak tahu siapa itu X, Karin tak pernah cerita.
Dilihatnya Karin sudah tak menangis lagi, badannya juga sudah tidak menggigil. Nesa memutuskan untuk mandi, saat pulang tadi ia tak sempat mandi karena langsung kembali ke kantor, untuk mengambil handphone-nya yang tertinggal.
Selesai mandi dan berpakaian, Nesa juga menggantikan baju Karin. Ia buru-buru memakaikan Karin pakaian, ia mendengar pintu depan seperti ada yang membuka. Diintipnya sekilas, ada dua pria berpakaian santai masuk. Dengan payung panjang di tangan, Nesa bersiap memukul dua orang pria yang baru saja masuk itu.
"Rasakan ini," ujar Nesa bersiap memukul.
******
Kini tubuh Nesa yang menggigil, dua pria tadi tak lain dan tak bukan adalah atasannya di kantor. Presdir dan pak Dio.
"Tamat sudah karir yang sudah susah payah kurintis ini." Batin Nesa menyesali perbuatannya.
__ADS_1
"Di mana Karin? Sedang apa dia? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya pak Dio beruntun.
"Aa-ada di kamar, pak. Se-sedang istirahat," jawab Nesa tergagap, rasanya tenggorokannya tercekik mendengar pertanyaan beruntun itu.
"Mama ...," pekik Karin sangat kencang. Pak Dio langsung berlari ke kamar Karin. Nesa juga sudah mau berlari, tapi Presdir menahannya.
"Biar mas Dio yang urus Karin."
"Mas Dio? Eh maksud saya, pak Dio? Jadi, X itu pak Dio. Ya Tuhan, saya kira itu Anda, presdir!"
"Jadi, kamu juga termakan gosip itu?"
"Bu-bukan begitu maksud saya, Pak. Tapi memang selama ini, Presdir yang selalu terlihat membela Karin."
"Mau mendengar kisah?" Nesa spontan mengangguk, "ini agak rumit, tapi saya tahu kamu bukan orang bodoh," lanjut Brian.
"Saya dan mas Dio adalah saudara se-ayah, fakta itu baru kami ketahui saat kami berusia 9 tahun. Tidak ada yang memberitahu siapa ibu saya, dan bagaimana rupanya. Saya dan mas Dio sempat tak percaya, sampai kami melakukan tes DNA. Kami masih punya seorang adik perempuan, dia sangat cantik, dia masih kuliah di Prancis. Untuk hubungan Karin dan mas Dio, kamu bisa tanyakan sendiri, kalian 'kan akrab."
"Mas Dio sangat mencintai Karin."
Di kamar, Dio segera membawa kekasihnya dalam pelukan, mengusap kepalanya lembut, berusaha menenangkan. Entah karena rindu yang sudah tak dapat dibendung, atau ada faktor lain. Dio merasa, akhir-akhir ini Karin terlihat seperti sedang tertekan.
Diangkatnya dagu Karin, dikecupnya bibir ranum itu kilat, berharap ciuman dapat mengurangi sedikit kegelisahan yang sedang melanda jiwa. Belaian lembut tak lupa Dio bubuhkan pada pipi yang sedang tak merona.
"Mimpi, Mama?" tanya Dio memastikan. Karin tak menjawab, ia lebih memilih tenggelam kembali dalam pelukan kekasihnya.
"Ada Nesa dan Alvin di luar, kita keluar juga, yuk!"
"Nesa? Gara-gara aku, dia jadi tahu hubungan kita. Maaf!" Gadis itu menunduk lesu.
__ADS_1
"Tidak masalah, Nesa pasti bisa jaga rahasia. Ayo, aku lapar. Aku akan memasak makanan kesukaan kekasihku ini."
Pemandangan terindah bagi seorang Dio adalah, ketika melihat senyum Karin merekah. Senyum itu masih sama seperti pertama kali ia melihatnya.
******
Kampus, tujuh tahun lalu.
Terjadi kegaduhan di kantin. Karin, Amel dan Merlin tengah menikmati santap siang. Mereka bertiga diam saja, tak mau mencari masalah dengan senior. Ribet. Begitu pikirnya.
Dari percakapan yang terdengar, para senior itu tidak percaya kalau gadis cupu di depannya adalah adik Dio, presiden BEM. Bagaimana bisa, Dio yang begitu karismatik dan cool mempunyai adik yang cupu dan norak. Karin dan Merlin mesem mesem saja sambil saling berbisik.
"Mereka tidak sadar diri, padahal mereka jauh lebih norak," ujar Merlin.
"Ssttt, nanti mereka dengar," tukas Amel.
Posisi duduk Karin yang paling pas menghadap gerombolan senior itu. Diam-diam Karin mengamati, terlihat satu orang mengepalkan tangannya. Karin sudah menebak, dia pasti mau menampar gadis itu. Ia segera berdiri, mengambil segelas capuccino yang dipesannya tadi, dan dibanjurkan pada senior yang sok itu.
"Ups maaf, sengaja. Ayo!" Karin merangkul pundak gadis tertindas itu dan berlalu meninggalkan para senior yang sok kecantikan, diikuti Amel dan Merlin yang juga ikutan menumpahkan air ke sepatu salah satu senior.
"Maaf, sengaja juga."
Gadis itu bernama Tiffany, ia sampai bersumpah kalau ia benar adiknya Dio. Karin tak begitu peduli dia benar adik dari Dio atau bukan, ia cuma tak suka penindasan. Apalagi satu lawan banyak seperti tadi.
Cowok yang membuat Tiffany menerima bully-an datang, dengan napas terengah-engah dia memeluk adiknya. Terlihat seperti ada penyesalan dalam rona wajahnya, "ia pasti merasa bersalah karena merasa tidak bisa melindungi adiknya." Batin Karin.
"Aku gak apa-apa ko, mas. Ada Karin dan teman-temannya yang udah nolongin aku," ucap Tiffany sambil melepas pelukan kakaknya.
"Terima kasih sudah membantu adik saya. Lain kali saya janji, pasti akan lebih melindungi dia."
__ADS_1
"Jangan berjanji padaku, berjanjilah pada dirimu sendiri, kalau kamu tidak akan pernah mengingkari janji yang kamu buat."
Sejak hari itu. Karin, Amel, Merlin dan Tiffany menjadi teman akrab. Tiffany yang cupu sudah tak ada lagi, kini, gadis cupu itu sudah berubah menjadi angsa putih yang cantik dan anggun.