
Ketika orang kantor mulai bergosip tentang dirinya dengan calon kakak iparnya itu, Brian bukan menikmati, bukan juga mengabaikan. Bagaimanapun, mereka tidak salah, selama ini ia memang hampir selalu melindungi Karin. Tentu saja itu ia lakukan demi Dio kakaknya. Tapi tak dipungkiri, ia sedikit terpesona oleh kecantikan juga keuletan sahabat adiknya itu.
Dulu, ketika Karin dan teman-temannya main, ia sering curi pandang pada gadis manis itu. Sebatas memandang, ia tak mau membuat kakaknya salah paham. Karena ia tahu, Dio mencintai gadisnya begitu banyak, pun sebaliknya. Brian masih memberi kesempatan pada bu Mei untuk memperbaiki sikap dan perilaku, lebih-lebih mulutnya. Jika ke depannya wanita itu tetap membuat gaduh, terpaksa, SP akan menyambanginya.
Hari ini rapat untuk kelanjutan pembuatan iklan varian rasa terbaru dilangsungkan. Tidak banyak yang hadir, hanya yang benar-benar terlibat saja. Dio dan Karin duduk bersandingan di depannya, mereka tampak serasi, tampan dan cantik.
"Dengan siapa kali ini kita bekerja?" tanya Brian pada Dio selaku penanggung jawab.
"Saya ada Advertising yang bagus, setelah storyline mereka siap, kita diskusikan lagi."
"Good, Karin gimana?"
"Saya gak ada masalah, Pak."
"Good, berhubungan sudah masuk jam makan siang, kita lunch bareng, gimana?"
Karin dan Dio setuju. Kini ketiganya tengah makan di restoran Jepang tak jaug dari kantor. Inilah waktunya mereka berbicara santai, layaknya keluarga.
"Rin, maaf, ya. Aku gak bisa tegas sama sikapnya bu Mei," ujar Brian sopan.
"Udahlah, yang penting sekarang mereka semua sudah bungkam, kan."
"Hmm."
Hening ... sampai makan siang selesai, di dalam mobil, mereka tak juga bicara satu sama lain. Pukul 13.00 mereka sampai parkiran kantor, masih hening.
"Kalian gak mau turun? Kita udah sampe dari tadi loh!" seloroh Brian memecah keheningan. Barulah sepasang kekasih itu turun.
Dio berjalan mendahului kekasihnya juga Brian, entah bagaimana ceritanya, sebuah pot berukuran cukup besar jatuh dan hampir menimpa kepala Karin. Brian yang poisinya paling dekat langsung menarik tangan calon kakak iparnya itu, hingga tanpa sadar, pria berkumis tipis itu memeluk gadis kakaknya cukup erat.
Untunglah itu tak berlangsung lama, sebab Karin segera melepas dekapan itu dan kembali ke ruangannya. Dio menatap adiknya lekat.
"Maaf, Mas. Aku refleks." Dio tersenyum, menyentuh pundak adiknya, lalu tersenyum lagi.
"Kita masuk, biar nanti aku yang cari tahu, siapa pelakunya. Mau main-main dia dengan keamanan sini."
__ADS_1
*****
Seorang pria muda sibuk membolak-balikkan tubuhnya, ia tak tahu apa yang melanda jiwanya kini. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Untuk mengurangi kegelisahan, ia memilih membuat kopi hitam dan menonton berita malam di televisi.
Rupanya Dio juga tak bisa tidur, saat keluar dari dapur, kakaknya sudah lebih dulu duduk di sana. Bukan tak ada asisten rumah tangga, sehingga membuat minum sendiri. Namun, baik Dio maupun Brian tak suka ada orang lain di rumah mereka. Jadi, ART langsung pulang begitu pekerjaan mereka selesai.
"Mas?"
"Eh, Vin. Belum tidur?"
"Belum. Mas juga belum tidur?"
"Belum ngantuk. Tiffany telpon kamu gak? Tadi siang dia telpon, Mas. Katanya, kalau ada libur, kita diminta papa ke sana." Brian tersenyum getir.
"Kenapa Mas gak ambil cuti? Terus kunjungi mama, papa."
"Nanti. Sekarang, Mas lagi ada misi yang lebih penting."
"Misi? Apa?"
"Memang sulit, Mas. O ya, kalian lagi berantem?"
"Dia tersinggung. Kemarin Mas nasehati dia soal keributan di kantin."
Brian terkekeh, melihat ekspresi kakaknya yang tampak lesu. "Aku masuk duluan, Mas." Dio cuma menanggapi dengan anggukan.
Keesokan harinya, Brian berangkat ke kantor seperti biasanya. Iya, hari-harinya memang tak ada yang spesial. Semua berjalan flat. Pagi ngantor sampai sore, terus pulang. Begitu saja sampai hari ini, maklum, Presdir kita ini masih jomblo. Selain itu, ia juga tidak begitu suka keluyuran atau nongkrong tidak jelas, kecuali itu menyangkut pekerjaan.
Karyawan yang berpapasan menyapa dengan sopan, ia pun membalas sapaan itu tak kalah sopan. Sampai di ruangannya, berkas menumpuk, mereka seperti berteriak minta disentuh oleh tangan dingin sang Presdir. Sebab, sudah dua hari Brian mengabaikan mereka, ia mulai penat dengan kegiatan hariannya. Apa saat syuting untuk iklan nanti, aku ikut aja, ya? Lumayan buat refreshing. Baiklah file, mari kita bekerja sama.
Suara telepon mengalihkan sejenak fokusnya pada berkas-berkas. Sekretarisnya menelpon. Iya, bu Mei tetap bekerja, tak ada luka serius baik pada tubuh maupun matanya. Namun, tetap saja mata itu perlu perawatan, mengingat komposisi yang Karin berikan dalam ramuannya.
"Iya, Bu Mei?"
"Ada Pak Thomas, Pak."
__ADS_1
"Oh, langsung suruh masuk saja, Bu."
"Baik, Pak."
Thomas memasuki ruangan Presdir dengan tawa menggelar khasnya. Brian segera menyudahi kemesraan bersama file-nya, dan duduk bersama karibnya. Tak lupa ia juga meminta bu Mei untuk membawakan minum juga kue.
"Gimana?" tanya Thomas to the poin.
"Apanya?" jawab Brian tak mengerti.
"Haih, Presdir kita ini. Shooting iklan?"
"Oh itu, tenang aja. Pak Dio dan Karin pasti mempersiapkan sebaik mungkin, untuk model Internasional kita ini. Kalau ada kendala atau apa, lo tinggal bilang sama Karin."
"Gue suka sama dia."
"Karin?" Thomas mengangguk. "Gak ada yang gak suka dia. Cantik, pintar, ulet. Cuma, sedikit frontal."
"Itu yang gue suka dari dia. Dia lain dari cewek kebanyakan, gue jadi penasaran. Kalau di ranjang, dia garang juga gak, ya?"
"Gila, Lo!"
Ketukan pintu menghentikan obrolan kedua bujang yang mulai menjurus ke hal berbau mesum. Ternyata itu bu Mei, dia datang membawakan kopi yang ia minta untuk Thomas. Setelah meletakkan minum, wanita itu langsung keluar. Obrolan pun berlanjut.
Jangan kira lelaki tak bergosip, sama seperti kaum hawa. Para Adam pun hobi membicarakan orang lain. Cuma bedanya, mereka tak heboh seperti wanita. Thomas mengakhiri obrolan mereka, ia juga pamit.
"Kalau gitu gue balik dulu, thanks minumnya."
"Iya." Brian mengantar model itu sampai pintu ruangannya. Dan melanjutkan pekerjaannya kembali.
Thomas menyandarkan dirinya di dinding besi itu. Tak lama, lift sudah sampai di lantai dasar. Saat pintu terbuka, gadis yang tempo hari menamparnya terlihat memasuki gedung, mungkin ia habis makan siang di luar, pikirnya. Ia berjalan mendekati gadis bermata bulat itu, tepat saat berpapasan, ia meraih tangan mulus Karin. Namun, langsung ditepis oleh sang empunya.
"Jangan terlalu kaku, Sayang. Sebentar lagi kita akan bersenang-senang," kelakarnya yang diiringi kerlingan mata nakal. Lalu mengusap bibir tipis itu lembut, dan lekas berlalu.
"Oh, mama Novi. Anak gadismu ini sangat menarik." Thomas memelankan langkahnya. Dan mulai menghitung dalam hati. Satu, dua, ti ....
__ADS_1
"BERHENTI!!!"