
"Nes ...," panggil Karin.
"Hmm ...," jawab Nesa singkat.
"Seharian tadi, aku gak lihat bu Mei, dia gak masuk?" Aneh menurutnya, karena wanita itu biasanya paling hobi berkeliaran, meskipun tidak ada kepentingan.
"Cie kangen." Ledek Nesa gemas.
"Ih apaan sih, enggaklah, ngapain."
"Itu yang mau aku ceritain sama kamu, Rin. Bu Mei dipecat!"
Karin berteriak kaget, dan itu membuat maskernya crack. "Hah! Kok bisa? Di luar mulutnya yang mirip kaleng rombeng, kinerja dia bagus. Kok bisa sih?"
"Menurut yang Pak Brian ceritain, katanya bu Mei ngambil apa gitu di ruangan Presdir. Terus dipecat."
"Udah gitu doang? Yah, gak seru. Ngomong-ngomong ini gara-gara bu Mei maskerku jadi pecah. Aku cuci muka dulu." Nesa menahan agar tak tertawa, atau nanti maskernya juga jadi rusak.
Karin beranjak dari kasurnya, dan menuju kamar mandi untuk membersihkan masker lumpur yang menempel di wajahnya. Di meja rias, Nesa melihat ponsel Karin beberapa kali menyala. Karena penasaran, ia pun melihat layar datar yang menampilkan nama X memanggil. Ia sudah tahu itu nomor siapa.
"Ah ... segarnya. Kamu cuci muka gih, aku buatin mie instan."
"Aku mie kuah, ya." Jari Karin membentuk tanda ok.
Karin lantas menutup laptop yang tadi mereka gunakan untuk menonton film. Emm ... Nesa sih yang menonton, ia cuma tiduran sambil menyimak cerita Nesa.
Air sudah mendidih. Sawi dan tomat sudah masuk, membaur menjadi satu. Tunggu mereka sedikit layu, barulah mie ikut bergabung. Setelah hampir sepuluh menit, siap juga mie instan ala chef Karin.
"Pantes lama, sayurnya selembek ini."
__ADS_1
"Jangan bawel, makan!"
Yang sebenarnya terjadi, seperginya Dio dan tim untuk proses pembuatan iklan, bu Mei bersama dua orang lainnya termasuk yang waktu itu menjatuhkan pot, menjebol kamar pribadi yang ada di ruangan Presdir. Di sana, mereka memasang CCTV, yang bertujuan untuk mengawasi gerak-gerik pimpinan mereka. Dan besoknya, sekretaris senior itu ketahuan mencuri foto-foto saat acara ulang tahun Tiffany dulu. Di mana di antaranya, ada gambar dirinya bersama Karin.
Setelah dikonfrontasi langsung oleh Presdir, akhirnya bu Mei mengaku. Jika ia benar-benar iri dan benci dengan pencapaian Karin, ia merasa gadis itu tak pantas untuk berada di posisi yang sekarang. Padahal, status Karin hanyalah karyawan biasa.
"Anda membenci Karin, itu bukan urusan saya. Tapi, kenapa Anda malah memata-matai saya?"
"Saya masih merasa kalau kalian berdua ada main, makanya gadis itu berani berbuat yang aneh-aneh," jawab bu Mei geram
"Heh, sangat disayangkan. Saya tunggu surat pengunduran diri kalian sampai sore, jika tidak. Kalian akan diberhentikan secara tidak hormat. Silakan keluar!"
☘️☘️☘️
Di tempat lain, Dio tengah duduk di bangku taman belakang rumahnya. Di temani secangkir mocacinno, serta cahaya gemintang yang bertaburan di atap bumi. Indah, sangat. Kembali ia melihat pesan yang sampai detik ini belum juga mendapat jawaban. Jangankan dijawab, dibaca pun tidak. Tak terhitung berapa banyak pesan yang sudah ia kirim dan berapa pula panggilan yang ia lakukan.
Brian merasa iba melihat kakaknya yang terabaikan. Pria rupawan itu tampak menyedihkan, ia terus saja melamun. Di kantor pun ia tak fokus dalam bekerja, terlihat dari hasilnya yang kurang maksimal.
"Eh, Vin."
"Lagi berantem sama Karin?" tanya Brian to the poin. Sebab cuma gadis itu yang bisa membuat kakak semata wayangnya gusar. Dio tersenyum miring.
"Dia marah!"
"Kalau aku boleh kasih saran, daripada Mas terus terlihat mengecewakan di depan Karin. Lebih baik bangun sisi halus darinya. Maksudnya gini loh. Aku perhatikan, walaupun gadis itu terlihat kasar, sebenarnya dia juga lembut. Terbukti dari caranya bersikap dan bertindak. Mas ingat saat kita adakan bakti sosial dulu ke panti asuhan?" Dio mengangguk.
"Dia begitu telaten dan tulus, aku bisa merasakan itu. Yang artinya, dia hanya terlihat kasar di luar, namun begitu lembut di dalam," jelas Brian panjang lebar, berusaha mencarikan solusi untuk permasalahan kakaknya.
"Mas ngerti apa yang kamu maksud, Vin. Terima kasih, ya." Dio beranjak dari duduknya. Dan berlalu meninggalkan adiknya yang cuma bisa tersenyum melihat kakaknya begitu bersemangat.
__ADS_1
Dio melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sebelumnya ia sudah menghubungi Jafar juga anak buahnya untuk bertemu. Rencananya, pria tampan itu ingin menampilkan adegan romantis ayah dan anak, yang bisa menggugah sisi lain dari sang kekasih, sesuai yang adiknya sarankan. Ia tidak bisa bekerja sendirian, makanya ia mengumpulkan orang-orang kepercayaannya.
Rencana disusun sedemikian rupa agar terlihat natural. Dio menaruh harapan besar pada usahanya kali ini. Entahlah, jika ini gagal apalagi yang harus ia perbuat agar hubungan ayah dan anak itu membaik. Kalaupun tidak sepenuhnya baik, setidaknya Karin bisa melapangkan hatinya untuk memberikan maaf.
"Kita mulai jalankan rencana ini minggu depan. Saya akan ajak Karin berlibur. Sekarang, kita sudahi pertemuan ini, saya masih ada keperluan lain, selamat malam."
"Malam Boss. Hati-hati pulangnya."
🍁🍁🍁
Kedua gadis ayu itu sudah selesai dengan mie instan dan sayur lembeknya. Piring, alat masak, juga dapur sudah kembali rapi. Kini mereka duduk di sofa tamu, Nesa lanjut menonton film yang belum selesai tadi, Karin mendengar musik dari handphone menggunakan earphone.
Mereka terlampau fokus pada kegiatan masing-masing, sampai tak ada yang mendengar jika bel pintu sudah berkali-kali berbunyi. Sampai suara gedoran cukup keras, barulah Nesa dengar. Ia menarik earphone dari telinga sahabatnya.
"Rin, kayaknya ada tamu, deh. Buka pintunya sana."
"Males ah, kamu aja." Karin kembali menyumpal telinganya. Nesa segera menghampiri pintu. Ketika dibuka, tamu yang datang tak lain dan tak bukan adalah Dio. Ia jadi teringat adegan tak senonoh waktu itu. Sepertinya malam ini aku akan jadi nyamuk lagi, batin Nesa.
"Hai Nes, lagi nginep?" tanya Dio basa-basi.
"Iya, Pak. Karin lagi rebahan tuh, di sofa. Saya ke kamar dulu Pak," pamit Nesa memberi ruang pada pasangan kekasih itu.
"Terima kasih, Nesa." Nesa mengacung jempol kanannya dan menghilang di balik pintu.
Dio duduk di lantai, tepat di samping kepala gadisnya. Ia memerhatikan cukup lama, wajah wanita yang selalu ia rindukan. Raut itu semakin terlihat menawan kala matanya terpejam.
"Aku di sini, Sayang. Bukalah matamu, tidakkah kamu merindukanku?" gumam Dio dalam hatinya.
Gumaman itu seperti mantra, setelah terucap, sang pujaan membuka mata indahnya. Sungguh, itu pemandangan yang sangat cantik. Senyum terbaik segera ia tampilkan.
__ADS_1
"Selamat malam, Sayang," sapa Dio hangat
"Ngapain kamu di sini?"