
"Ya ampun, Sayang. Pacar datang kok sambutannya gitu." Dio memanyunkan bibirnya, merajuk ala-ala.
Karin tersenyum sinis mendengar Dio menyebut kata pacar. "Seorang yang selalu membuat kecewa, apa pantas disebut PACAR?"
Ada penekanan saat menyebut kata pacar. Dio menelan salivanya, kalimat itu begitu pas mengenai hatinya. Lidahnya tiba-tiba menjadi kelu, tak tahu harus berkata apa. "Lebih baik sekarang kamu pulang, aku capek mau tidur," lanjutnya.
Karin melenggang pergi meninggalkan prianya yang masih duduk di lantai. Menyedihkan, itulah kata yang pantas untuk Dio saat ini. Pria itu mengusap wajahnya kasar, antara kesal dan sedih telah menciptakan kekecewaan untuk kekasihnya.
"Pokoknya malam ini harus bisa baikan sama dia, harus! Semangat Dio!" batinnya menyemangati diri sendiri.
Dio segera menyusul kekasihnya yang sudah melesat jauh meninggalkan dirinya. Ia mengetuk dan memanggil nama Karin dengan suara memelas, berharap dibukakan pintu. Tetapi di dalam sana, gadis bertubuh langsing itu kembali menyumpal telinganya dan berusaha untuk tidur.
Nesa dilanda dilema. Berdiam di kamar, ia tak tega mendengar Dio yang kini seperti meratap. Membukakan pintu membiarkan pria itu masuk, nanti yang ada Karin mengamuk. Jadilah ia keluar, sekadar menemani pacar sahabatnya mengobrol. Ya, setidaknya dengan begitu, pria yang merupakan atasannya ini tak terlalu terabaikan.
Benar saja, ketika ia membuka pintu mimik muka Dio sengaja dibuat memelas, pria itu duduk meringkuk. Sungguh, itu membuat tawa Nesa hampir saja pecah, untunglah masih bisa ditahan. Bagaimanapun, dengan terlihat seperti itu, cukup membuat sang atasan malu bukan kepalang.
"Pak," panggil Nesa. Dio langsung berdiri dan mengajak sahabat gadisnya mengobrol di luar sambil mencari udara segar. Sesak rasanya berada dalam tempat yang sama tapi diabaikan. Mereka kini mengobrol sambil menikmati bajigur di abang-abang tak jauh dari gedung apartemen.
"Pak, saran saya mending Bapak pulang. Terlalu lama di sini, nanti malah buat Karin makin marah." Dio tersenyum kecut.
"Saya bertekad harus mendapatkan maaf dari Karin, malam ini juga."
"Saya gak tahu permasalahan apa yang sedang kalian hadapi. Tetapi, kesedihan sangat terlihat di matanya. Sekeras apa pun usahanya untuk bersembunyi dari kepedihan, dia tetaplah seorang wanita, yang pada dasarnya rapuh. Saya harap, Pak Dio mau memahami kondisi Karin saat ini. Saya pamit, terima kasih traktirannya." Dio terdiam, otaknya mencoba mencerna apa yang baru saja sahabat kekasihnya sampaikan.
Gadis keturunan Tionghoa itu segera kembali ke ke tempat sahabatnya, bisa menimbulkan kesalah pahaman nanti jika ia terlalu lama bersama Dio. Nesa bukannya takut dikira mau merebut pacar teman, tapi ia takut jika Karin mengira ia tak lagi memihak padanya.
__ADS_1
Kala masuk kamar, Nesa mendengar suara gemericik air. Ini sudah hampir tengah malam, untuk apa Karin mandi di jam segini, pikirnya. Lima, sepuluh, sampai dua puluh menit, gadis bersurai hitam itu tak kunjung keluar dari kamar mandi. Nesa mulai khawatir, ia berkali-kali mengetuk pintu. "Rin, udah dong mandinya, ngobrol yuk," seru Nesa sambil masih mengetuk pintu pelan.
Air matanya tak henti mengalir, semua rasa sakit yang berangsur ia lupakan, seketika kembali terkoyak oleh orang yang begitu ia cintai. Di sini, di bawah guyuran shower, Karin menangisi nasibnya yang sungguh tragis.
"Pergi kamu dari sini, Papa gak butuh anak kurang ajar seperti kamu."
Kalimat itu terus menari-nari di otaknya, mengingatkan betapa ia telah menjadi anak durhaka yang tak patuh pada orang tua.
Khawatir sahabatnya tak kunjung keluar, Nesa nekat masuk. Untung saja tidak dikunci. Ketika pintu terbuka, hati Nesa ikut teriris, matanya panas melihat sahabatnya tergeletak di lantai. Tubuhnya hampir membiru akibat guyuran air.
"Ya Tuhan, Rin." Nesa mematikan shower dan membantu sahabatnya duduk. Karin langsung ambruk di pelukan sahabatnya. Tangisnya semakin pecah, menunjukkan betapa rapuhnya ia saat ini.
"Nes, aku bukan anak kurang ajar, bukan." Tangis itu makin terdengar pilu. Tak terasa air mata Nesa pun ikut mengalir.
Sambil membelai lembut rambut panjang sahabatnya, Nesa berkata, "Kamu anak baik, udah yuk, dingin. Ganti baju, nanti kamu masuk angin." Nesa mengangkat wajah Karin dan mengusap lembut air mata yang masih saja mengalir.
Dio memasuki kamar kekasihnya, dan meminta Nesa untuk keluar. Gadis bermata sipit itu memberi isyarat kalau Karin sudah lelap. Pria tampan itu mengangguk sebagai tanggapan.
Digenggamnya tangan halus sang pacar, bulir-bulir bening masih terlihat menetes dari mata yang tertutup. Dio mengembuskan napas panjang, diusapnya pipi mulus Karin yang masih basah.
"Aku mencintaimu, Sayang. Maaf," ucapnya lirih.
Karin yang sebenarnya belum tidur, dapat mendengar apa yang Dio ucapan dengan jelas. Dan, air matanya pun kembali mengalir, bahkan lebih deras. Sakit, itulah yang ia rasakan. Ia mencintai dan membenci kekasihnya secara bersamaan.
Dio segera merengkuh tubuh lemah Karin, dan memeluknya erat. "Maaf!" Kembali, kata itu Dio bisikkan di telinga kekasihnya.
__ADS_1
"Aku membencimu, tapi aku juga mencintaimu. Berhenti berusaha mendekatkan aku dengan pak tua itu, atau aku akan benar-benar menganggapmu musuh," selorohnya lemah, di tengah isak.
"Maaf." Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya. Karin mengangguk sebagai jawaban iya.
🌻🌻🌻
Cuti bergilir yang Dio janjikan saat acara anniversary perusahaan sudah berjalan, setiap orang yang ada di divisi marketing dapat jatah tujuh hari libur. Dan rekan yang lain akan mengambil alih pekerjaannya. Kini tiba giliran Karin dan Dio. Ya, sudah bisa ditebak, ini memang sudah diatur sejak awal. Dio memilih destinasi wisata di bagian timur Indonesia, tepatnya Raja Ampat, Papua.
Ya, hubungan keduanya sudah membaik. Seperti malam yang sudah-sudah ketika menghabiskan waktu bersama. Dio asyik menonton drama Korea favoritnya, sedangkan Karin sibuk dengan camilan tak sehatnya sambil mendengarkan kekasihnya bicara soal adegan ini dan itu. Tiba-tiba ponselnya bergetar, mata kedua manusia itu langsung tertuju pada benda pipih di atas meja.
[Apa kabar, sayang. Aku sangat merindukanmu, em ... aku rindu tubuhmu.]
Karin hanya melihat pesan itu tanpa membalasnya. Itu pesan dari model yang ia beri nama sialan.
"Siapa Sayang?" tanya Dio penasaran, karena gadisnya ini sangat jarang menerima pesan. Kecuali darinya juga Nesa.
"Bukan siapa-siapa," jawabnya singkat, lalu meletakkan ponselnya sembarang. "Oh iya, besok penerbangan kita jam berapa?" lanjutnya
"Jam 10 pagi. Nanti aku jemput."
"Gak perlu, kita ketemu di airport aja."
"Ok!"
Ponsel Karin kembali bergetar, ada telpon masuk. Nama sialan tertera di layar. Tanpa aba-aba Dio langsung menjawab panggilan yang masuk di handphone kekasihnya.
__ADS_1
"Hallo ...."