
Sambungan telepon langsung terputus begitu dijawab. Dahi Dio berkerut, memandangi handphone dan kekasihnya bergantian. Ingin sekali ia bertanya pada gadisnya, kenapa dia menyimpan nomor telepon Thomas. Tapi, mengingat hubungan yang baru saja membaik, niat itu ia kubur dalam-dalam. Dio pun kembali fokus ke layar besar yang sedang menampilkan drama kesukaannya.
"Dio," panggil Karin.
"Iya, Sayang," jawabnya penuh kelembutan.
"Bagaimana perkembangan anak buahmu mengenai mama?" Deg, Dio lupa menanyakan itu kemarin pada Jafar. Ia terlalu fokus pada rencana menampilkan romantisme ayah dan anak.
"Mereka masih mencari tahu, siapa yang kemungkinan besar mempekerjakan mamamu. Kamu sendiri 'kan tahu, tidak sembarang orang bisa memasuki perumahan kalangan elit itu."
"Hmm ... aku menunggu kabar selanjutnya. Aku mau istirahat, kamu pulang sekarang gih."
"Sayang, aku diusir?" tanya Dio keheranan.
"Iya, udah sana pulang. Aku capek mau tidur." Karin menyeret kekasihnya agar segera pulang. Jujur, ia masih belum bisa memaafkan sepenuhnya kesalahan Dio. Kesalahan yang membuat hati Karin yakin untuk membenci papanya.
☘️☘️☘️
Kurang lebih 5 jam perjalanan udara, sampai juga pasangan kekasih itu di bandara Domine Eduard Osok, Sorong.
"Kamu suka, Sayang?" tanya Dio sembari merangkul pinggang kekasihnya posesif.
"Suka apanya? Bandaranya?" jawab Karin dengan ekspresi datar.
Dio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pertanyaannya terlalu aneh. Jadi wajar kalau jawaban Karina juga begitu.
Di tempat lain, Thomas baru saja selesai "olahraga" dengan Esther. Ya, model berdarah Inggris yang saat pertama kali peluncuran produk minuman DeeKa Food bersikeras tak ingin satu frame dengan model yang mendapat julukan sialan, yang membuat Karin emosi tingkat kabupaten. Gadis berambut blonde itu jatuh cinta setengah mati pada Thomas. Namun, pria itu hanya suka mempermainkan tanpa pernah niat untuk serius. Hanya satu kesungguhannya saat ini, yaitu mempermalukan Karina.
__ADS_1
Esther langsung terlelap, sedang Thomas tidak. Ia menghubungi dua orang kepercayaannya untuk membuntuti Dio juga Karin, ia ingin dua sejoli itu bertengkar hebat. Pada saat itu, ia akan menjadi ibu peri yang selalu membantu dan mendampingi seorang Karina, gadis cantik yang sombong dan angkuh.
[Gimana?]
[Mereka belum juga keluar dari kamarnya dari baru datang, Bos,] balas Etoy anak buahnya.
[Apa rencana Dio sudah dilancarkan?]
[Belum, Bos. Mungkin tidak lama lagi. Tadi saya lihat ada bapak-bapak sama anak sekitar 15 tahunan datang, saya yakin itu pasti bagian rencana Dio.]
[Bagus, kirimi saya terus info terbaru.]
[Siap, Boss.]
Hmm ... Karin, saat pulang dari liburanmu nanti, kamu harus mengerang di bawahku. Batin Thomas dibarengi seringainya yang menakutkan. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, dan pergi ke dapur mencari apa yang bisa dimakan. Cacing dalam perutnya sudah berdemo meminta jatah makan malam.
Dari apartemen Esther, rencananya ia langsung pulang. Namun, perutnya tak bisa dikompromi, sepanjang jalan terus saja membuat kegaduhan bak musik hajatan yang memekakkan telinga. Ia pun meminggirkan mobil mewahnya di sebuah penjual kaki lima. Thomas makan di pinggir jalan? Jawabannya tentu saja tidak, ia berhenti karena melihat Brian tengah entah makan apa, lesehan cuma beralaskan tikar pandan, bersama seorang gadis.
"Rasa-rasanya gadis itu tidak asing, aku pernah melihatnya di mana, ya?" Pertanyaan itu ia tujukan pada dirinya sendiri. Grukkk ... perutnya kembali protes.
"Iya, pak cacing, kita cari makanan enak sekarang," omelnya pada cacing yang ada di dalam perutnya, lalu kembali menancap gasnya.
Sementara Esther, hawa dingin yang dihasilkan AC begitu menusuk hingga ke tulang. Ia menatap sekeliling dan pria pujaannya sudah tak ada di mana pun sejauh matanya memandang, ia tersenyum kecut, lalu beranjak dari kasur empuknya untuk membersihkan diri.
🥀🥀🥀
Seminggu berlalu, artinya liburan pun usai. Otak cantik Karin sudah kembali segar, kini ia sudah siap bermesraan dengan segudang pekerjaan sekalipun. Tapi ada satu hal yang membuat gadis bermata bulat itu heran. Sejak pagi sahabatnya ini sering tertangkap basah senyum-senyum sendiri, lebih-lebih saat mengetik sesuatu di handphone-nya. Apa dia punya pacar? Apa dia sedang membalas pesan dari pacarnya? Pikir Karin.
__ADS_1
Karin menggeser kursinya, mencoba mengintip dengan siapa sahabatnya itu berbalas pesan. Namun, Nesa segera mengunci ponselnya, sehingga hanya layar berwarna hitam yang nampak.
"Chatting-an sama siapa sih? Sampe aku gak boleh lihat?" cecar Karin menelisik.
"Kamu kepo ih." Nesa mendekap telepon genggamnya.
"Pelit banget, sih. Makan yuk, udah jam istirahat ini," ajak Karin sembari menarik lengan Nesa.
"Bentar, balas chat dulu." Karin berdecih, sahabatnya kini sudah seperti ABG yang tengah kasmaran.
Seperti biasa, dua gadis cantik itu makan di kantin kantor. Sedang asyik santap siang, ponsel Karin bergetar tak henti-henti. Ketika dilihat, puluhan foto masuk. Ia tak begitu memperhatikan, dan memilih melanjutkan kegiatan mengisi perutnya.
"Siapa, Rin?" tanya Nesa sekadar ingin tahu.
"Gak tahu, nomor baru. Nanti aja lihatnya, ayo makan lagi." Nesa mengangguk, ia juga sudah tak lagi berbalas pesan, dan menyimpan telepon pintarnya.
Selesai makan, keduanya kembali ke ruangan dan menyelesaikan apa yang belum mereka selesaikan. Tiba-tiba Karin ingat pesan yang belum ia lihat seluruhnya tadi. Satu per satu foto ia perhatikan dengan seksama, Karin masih belum mengerti maksud dari si pengirim, ia juga tak mengenal. Sampai pada lima foto terakhir, matanya terbelalak, napasnya menderu menahan napsu. Dio sialan, rupanya usahamu belum berakhir! Batinnya.
Nesa menangkap adanya perubahan aura di sekeliling sahabatnya. Ia memicingkan matanya, menatap Karin dengan tatapan menelisik.
"Rin, kamu kenapa? Siapa yang kirim pesan tadi? Aku lihat, boleh?" tanya Nesa beruntun. Entahlah, nalurinya berkata suasana suram ini diakibatkan oleh pesan yang sahabatnya terima tadi.
"Bukan sesuatu yang penting, Nes. Aku ke toilet dulu, ya," pamitnya pada Nesa yang masih nampak kebingungan.
Memorinya berputar otomatis, menelaah setiap adegan yang membuatnya sempat tersentuh. Ia pikir semua itu nyata, ia bahkan sempat berniat akan mengakhiri kebenciannya. Tapi tidak, itu semua hanyalah tipuan yang sengaja kekasihnya ciptakan. Yang pada akhirnya hanya membuat luka kian menganga.
Niat baik hilang, rasa simpatik lenyap. Aku membencimu Dio, sangat benci!!!
__ADS_1