KARINA

KARINA
Dua puluh lima


__ADS_3

Karin masih bersusah-susah menyeret dua barang tadi. Sampai sebuah tangan merebut benda yang membuatnya kesusahan itu. Karin menoleh, dan ....


"Biar Papa bantu, Nak."


"Gak perlu, aku bisa sendiri, permisi!"


Papa Rudi tak mau menuruti kata anaknya, beliau tetap memegangi benda itu dan menatap mata gadisnya sendu. Dalam hati papa Rudi bergumam, "sebenci itukah kamu sama Papa, Nak?" Batinnya menangis, nada penolakan bagai anak panah yang melesat tepat mengenai ulu hati, sakit, sangat sakit. Namun, tetap harus papa Rudi terima.


Papa Rudi hanya bisa menatap punggung anak kesayangannya dari kejauhan, lalu menghilang di balik pintu besi. Bahkan Karin tak berbalik saat memasuki ruangan berbentuk kotak itu.


Sambil menunggu jam makan malam. Gadis manis berlesung pipi itu hanya berbaring saja sambil memainkan ponsel pintarnya. Ia sudah mandi, juga sudah berdandan. Bukan yang menor, cuma biar terlihat segar saja. Koper dan tas besar sudah kembali pada sang empu, di lift tadi, Karin bertemu salah seorang staf hotel. Jadi, ia meminta tolong padanya untuk menyerahkan barang-barang itu pada Thomas.


Di sisi lain, Dio kembali mengobrol dengan papa Rudi. Pria penuh pesona itu terus menghibur sang calon papa mertua agar tak lagi bersedih. Jujur, tiap kali bertemu dengan orang tua itu, tak ada yang Dio rasakan selain iba. Iya, jika berada di posisi itu pun, ia pasti akan sangat terluka.


Pertama kali mereka bertemu adalah saat Dio mencari keberadaan Karin dulu. Ketika ia tak mendapati gadisnya di kost yang Tiffany tunjukkan, juga tak ada di rumah teman-temannya. Sebelum menyusul ke kota mangga, ia sempat ke rumah Antara. Di sana ia hanya bertemu papa Rudi dan beberapa asisten rumah tangga, itulah mengapa Dio tak mengenali Tristan sebagai kakak tiri pacarnya.


"Kamu tahu, Nak. Karin sangat menyukai princess, itulah kenapa ketika kamu bilang ingin melamarnya, Om sarankan gaun Cinderella untuk ia kenakan. Kamu lihat sendiri 'kan, dia sangat cantik dalam balutan busana itu." Sungguh, meski senyum ditampilkan, tak menutupi kepedihan yang begitu tergambar di mata yang sekitarnya sudah berkeriput itu.


"Dia gadis yang ceria, manja dan vocal. Namun, sejak kepergian mamanya, dia berubah drastis," lanjutnya. Mata itu kembali menampakkan kepiluan.


"Aku janji, Om. Akan selalu berusaha untuk mendekatkan kalian, aku cuma minta Om untuk bersabar. Tapi Om, apa boleh aku bertanya?"


"Tanyalah, Nak."


"Kenapa mama Karin bisa pergi? Apa Om bener-bener gak tahu alasan di baliknya?" Dio menatap papa Rudi intens.


Papa Rudi menyandarkan tubuhnya, menengadahkan wajahnya menatap langit yang gelap tanpa cahaya bulan dan bintang yang menyinari. Beliau lalu menghirup dalam dan membuangnya kasar.

__ADS_1


"Ini akan sangat panjang, Nak!"


Ponsel Dio berdering, kekasihnya mengirim pesan singkat. Mau tidak mau, ia harus menyudahi pembicaraan ini, dan segera menemui Karin. Kalau tidak, gadis itu bisa curiga kalau sang papa ada di sini karena ia yang mengundang. Tapi, seharusnya dia sudah menduga.


"Om, sepertinya obrolan kita sampai di sini dulu. Nanti kita sambung setelah makan malam." Papa Rudi mengangguk.


Dio beranjak dari duduknya dan menuju kamar sang pujaan. Ia memegang kunci cadangan kamar Karin, jadi dia bisa masuk kapan saja. Tanpa harus menunggu kesayangannya membukakan pintu. Paling ia repot cari momen agar tak dicurigai banyak orang.


Di kamar lain, tepatnya kamar yang Thomas tempati, ia terlihat sibuk dengan buku seperti diary. Cukup mengejutkan, ya. Model selevel Internasional masih menulis catatan harian begitu. Tapi biarlah, tiap orang memiliki caranya sendiri dalam menuangkan kisah. Ada yang melalui tulisan, gambar, bahkan nada.


Dio sudah berada di dalam kamar kekasihnya, ia tengah memijit kaki Karin. Thomas cukup berhasil membuatnya banyak berjalan hari ini.


"Rasanya kakiku ini mau patah tahu. Capek!" Rengeknya manja. Dio cuma tersenyum, sambil terus memijit pelan kaki pacarnya.


"Itung-itung olahraga, Sayang! Sekarang waktunya makan malam, kamu ke restoran duluan, ya. Nanti aku nyusul."


Semua sudah berkumpul termasuk Thomas. Seperti biasa, lelaki itu pasti akan memilih tempat duduk terdekat dengan Karin.


"Aku punya sebuah rahasia, kamu mau dengar?" bisik Thomas pada Karin. Tetapi, tak gadis itu gubris. "Ya sudah kalau gak mau dengar, kamu akan menyesal," lanjutnya.


"Terserah!" jawab Karin ketus.


"Selamat malam semuanya." Yang ditunggu datang juga. Sang manager marketing, pujaan banyak gadis. Namun, hanya Karin mampu meluluhlantakkan hati dan perasaannya.


"Selamat malam, Pak," jawab semua ramah. Terkecuali Karin, wajahnya datar. Ia cuma mengangguk sebagai tanda hormat.


"Kenapa belum pada makan?" tanya Dio.

__ADS_1


"Sengaja nunggu Bapak," jawab salah seorang staf.


"Sekarang saya sudah di sini, ayo ambil makanannya."


Semua makan dengan lahap, sesekali diselingi guyonan yang saling dilontarkan beberapa orang.


"Kamu menantangku, Sayang! Dan kamu orang tua, pintar juga. Memanfaatkan pria yang tidak tahu apa-apa demi mendekatiku," batin Karin sambil melirik kekasihnya, lalu papanya.


Karin menyudahi makan malamnya, meninggalkan tanda tanya besar pada tiap-tiap yang berada di sana. Pasalnya, Karin membanting alat makan yang dipegangnya sangat keras. Sebelumnya ia ceria, banyak bicara pula. Hanya sesekali berdecih kesal karena diganggu Thomas. Kalau itu bukan piring yang tebal, mungkin sudah pecah karenanya.


☘️☘️☘️☘️☘️


Paginya dibuat tak semangat karena kehadiran sang papa yang begitu ia benci. Ia bahkan tak ikut sarapan, sebab ia tahu, papa Rudi pasti ikut makan di sana. Karena waktu syuting masih cukup lama, dan ia juga tak ingin berjumpa dengan papanya, selesai mandi ia kembali tiduran di kasur.


Dipandangnya foto lawas sang mama. "Mah, Karin kangen!"


Sebulir air hangat mengalir membasahi pipi, meninggalkan jejak kemerahan di mata sendunya. Karin memejamkan matanya, mencoba mengingat kembali momen bahagia yang pernah mereka lewati bersama. Meski takkan terulang, setidaknya itu bisa menjadi penawar rindu.


Sebuah ketukan pintu menyadarkannya dari bayangan masa lalu. Karin beranjak dari kasurnya, menghampiri lubang kecil yang ada di bagian tengah pintu. Ia memicingkan sebelah matanya, melihat siapa yang ada di balik pintu.


Wajah papa Rudi yang nampak di sana. Karin membuka pintu itu lebar, keduanya diam sesaat.


"Papa cuma mau melihat kamu, memastikan kalau putri Papa baik-baik saja. Papa akan langsung pulang sekarang, jaga diri! Jangan salahkan Dio, Papa yang memaksa ingin kemari." Papa Rudi lantas pergi setelah menemui putrinya secara singkat.


"Maafkan Papa, Nak!"


Untuk kesekian kalinya, orang tua itu pergi dengan perasaan kecewa.

__ADS_1


__ADS_2