KARINA

KARINA
Empat belas


__ADS_3

"Bukalah matamu, lihat bintang-bintang yang berkelipan di atas sana. Memang gak akan mengobati luka yang ada di hatimu, tapi seenggaknya, ini bisa menghibur. Membuatmu lupa meski sesaat, akan perihnya lara."


Karin tersenyum tipis, matanya jauh memandang langit yang terhampar begitu luas. Ditambah taburan bintang, membuat malam kian elok. Ia tak peduli bagaimana Dio bisa tahu akan kesedihannya. Yang pasti, sekarang suasana hatinya jauh lebih baik.


Tiffany melambai-lambaikan tangan, dan berteriak, "hei, kalian berdua, ngapain di rooftop? Cepet turun, kita mau game!"


"Iya, kita turun sekarang!" Jawab Karin yang juga berteriak. "Kak Dio, ayo!"


***


Entah berapa lama Dio mematung di depan almari yang pintunya sengaja ia buka. Ada seprai usang di sana. Seprai berwarna biru muda dengan bercak yang sudah menghitam. Iya, itu adalah bercak kegadisan milik Karin yang telah tega ia renggut, semuanya terjadi begitu saja, sungguh di luar kendali.


Tok ... tok ... tok. Dio menoleh ke arah suara.


"Mas? Antar aku ke airport, mas Alvin ada deadline katanya, jadi gak bisa nganterin."


"Kamu udah beres semua?" tanya Dio, Tiffany mengangguk. "Panasin mobil, Mas. Kuncinya ada di meja TV. Nanti Mas nyusul," lanjutnya.


Sepanjang jalan mengantar Tiffany ke bandara, Dio tak berbicara sepatah kata pun. Pikirannya hanya tertuju pada Karin. Dari hari ia mempertemukan ayah dan anak itu, Karin tidak juga menjawab telponnya.


Di kantor, keduanya memang tak begitu banyak interaksi. Namun, dari sorot matanya, nampak kekecewaan tinggal di sana. Gadis itu pernah berkata, "siapa pun yang memaksaku untuk berbaikan dengan papa, maka ia juga termasuk musuhku."


"Maaf sayang. Bagaimanapun, yang selama ini kamu lakukan itu salah. Semoga kamu segera mengerti akan niat baikku," tutur Dio dalam batinnya.


"Mas, sampaikan salamku buat Karin, ya. Maaf gitu, aku gak jadi nginep." Dio sekadar mengangguk dan tersenyum menanggapi perkataan adiknya.


"Mas langsung balik, ya. Mau ke tempat Karin."


"Iya, terima kasih sudah mengantar. Hati-hati."

__ADS_1


Sebelum ke tempat kekasih hati, Dio mampir ke supermarket sebentar membeli bahan makanan untuk wanita kecintaannya. Kalau bukan ia yang belanja, gadis itu tidak akan makan sayuran hijau.


Selesai belanja, dan sesampainya di depan pintu apartemen Karin, ia mencoba memasukkan sandi yang sudah sangat ia tahu. Tapi anehnya, pintu itu tetap tak mau terbuka, apa Karin mengubah kodenya? Pikir Dio.


Dipencetnya tombol bel yang bertengger di sana berkali-kali. Akhirnya, yang dinanti membukakan pintu juga. Meski ekspresinya datar, Dio tetap cinta.


"Aku masuk, ya," kata Dio seraya menunjuk ke dalam.


"Hmm." Begitu masuk Dio langsung menuju dapur, ia juga menata belanjaannya ke dalam kulkas. Benar saja, isinya cuma tinggal telur dua biji saja. Melihat kompor dan panci masih bersih, pun dengan tempat sampah. Ia bisa menebak, Karin pasti belum makan.


"Kamu belum makan? Ini udah siang loh."


"Hmm."


"O, ya. Tiffany udah balik ke Paris, dia titip salam buat kamu, maaf katanya gak jadi nginep," celoteh Dio sembari menyiapkan bahan untuk membuat spaghetti.


Karin meronta, kedua tangannya juga ditekan keras ke tembok.


"Kamu ini mau jadi Nissa Sabyan, iya?" Karin refleks terkekeh mendengar apa yang prianya katakan ini. "Kamu tahu, Nissa Sabyan aja, sehabis 'hmmm' ada lanjutan liriknya. Sedangkan kamu, diem aja. Bilang sama aku, kenapa kamu jawabnya begitu, hmm?" lanjutnya.


"Kamu juga 'hmmm' mau jadi Nissa Sabyan juga?" Kini Karin tak lagi menyembunyikan gelak tawanya. "Kalau kita berdua jadi Nissa Sabyan, dia jadi siapa?" lanjutnya, diiringi tawa renyah khas Karina. Dio tersenyum, sekian lama terbelenggu oleh rindu. Terbayar sudah dengan garis senyum yang mengukir indah di bibir tipis pujaan hati.


Dio melepaskan impitannya, dan melanjutkan membuat spaghetti untuk makan siang. Dengan banyak gaya Dio mengolah makanan yang berasal dari Italia itu. Sedangkan Karin, ia heboh menyemangati prianya seperti sedang menyemangati tim sepak bola. 15 menit bergulat dengan pasta, makanan siap.


"Tadaaa ... selamat makan, Sayang." Karin tersenyum lebar, sebelum menyantap hidangan, ia lebih dulu menyantap bibir kekasihnya. Tentu saja Dio tak mau kalah, tidak cuma mengulum bibir, tangannya sudah mulai bergerilya di daerah lain, menjamah tiap jengkal tubuh gadis yang kini ada di pangkuannya.


Dio terlebih dahulu melepas pagutannya. Dibelainya wajah ayu kekasih.


"Makan dulu, nanti dingin, gak enak."

__ADS_1


"Iya, Sayangku." Sekali lagi Karin mengecup mesra bibir Dio, sebelum ia kembali ke kursinya.


Seperti biasa, gadis pemilik mata cokelat itu akan makan sangat lahap, selama bukan sayur. Kalaupun ada sayur, ia akan memasaknya sampai benar-benar lembek, biar tidak pahit katanya.


Makan selesai. Karena Dio yang memasak, jadi, Karin yang bagian mencuci piring, juga perkakas yang tadi digunakan.


Di sisi lain.


Seseorang dengan dart di tangan, siap mengarahkan tepat di tengah papan. Di mana foto Karin terpajang.


"Karina Apriliantara, enam tahun lalu kamu mempermalukan keluargaku. Enam tahun lalu pula kamu membuatku harus kehilangan proyek besar, dan membayar kerugian karena membatalkan kontrak. Kamu bahkan tidak meminta maaf, benar-benar gadis yang sombong. Sekarang, tiba giliranmu, sayang," seru seseorang itu dengan nada yang menggebu-gebu.


*****


Karin menggoyang-goyangkan tubuh Dio, tidak seperti biasanya manusia ini susah dibangunkan. Jam sudah hampir menunjukkan pukul 6.00.


"Dio ... bangun. Udah mau jam enam ini, kamu gak ke kantor?" gerutu Karin, dan masih mengguncangkan tubuh prianya.


Kesal Dio tak juga bangun, Karin bungkus tubuh lelaki itu dengan selimut, kemudian ia gelindingkan sampai jatuh dari kasur. Spontan Dio pun mengaduh kesakitan. "Rasakan itu, habis, susah banget sih dibangunin," kata Karin sembari berlalu ke kamar mandi.


Tentu, tidak butuh waktu lama bagi Dio lepas dari selimut yang membungkusnya. Segera ia menyusul gadisnya ke kamar mandi. Namun, naas, pintu kamar mandi sudah terkunci.


"Kamu bebersih di kamar mandi dapur aja, baju ganti sudah kusiapkan, tinggal pakai. O, ya. Hari ini aku bawa mobil sendiri," teriak Karin di tengah-tengah ritual mandinya.


Dio tak lantas pergi begitu mendengar Karin akan membawa mobil sendiri, ia bersandar pada dinding dan bertanya, "kamu ada rencana mau main, bawa mobil sendiri?"


"Enggak, sayang aja punya mobil bagus gak pernah dipake." Dio berdecih. "Aku menyesal mendengar jawabanmu." Lalu meninggalkan gadis sombong nan manja pujaan hatinya.


Di dalam sana, Karin sedang tertawa terbahak-bahak, membayangkan bagaimana ekspresi dongkol kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2