KARINA

KARINA
Enam


__ADS_3

[Bu Mei, bangun belum?]


[Belum, cepat masuk!] balas Karin singkat.


Semalam Bu Mei mabuk parah di pesta, tidak jauh berbeda dengan sadarnya, dia tetap saja drama queen.


Alunan musik jazz, rock, pop dan lagu-lagu mellow terdengar begitu indah, mereka diputar bergantian. Semua larut dalam suasana riang tak terkecuali Karin, ia memilih duduk santai sambil mengobrol dengan teman-teman lain, tidak banyak yang menghadiri pesta ini, hanya orang-orang pilihan Presdir. Nesa batal ikut karena ibunya datang berkunjung.


Kala Karin sedang asik bercengkrama dengan yang lain sambil menikmati minuman yang Presdir sediakan, tiba-tiba Bu Mei berteriak pada Karina. Bu Mei berteriak histeris dan juga menangis tersedu-sedu.


"Bocah sialan kamu, Karin. Sejak ada kamu, Presdir tidak lagi memperhatikanku, dasar anak ingusan tak tahu diri, sini kamu, kamu harus kuberi pelajaran," celoteh bu Mei tak karuan, tidak jelas maksudnya apa mengumpat begitu pada Karin.


Yang hadir dalam pesta tentu saja menggeleng keheranan, tak sedikit pula yang mencemooh. Ini pertama kalinya Karin ikut berpesta bersama karyawan lain, biasanya ia tak pernah ikut, malu 'kan kalau sampai mabuk. Untuk itu Karin minum alkohol tak terlalu banyak. Bu Mei masih menangis di lantai, tak ada yang menghiraukan, menurut Nina dari divisi Humas, bu Mei memang seperti itu kalau mabuk.


"Rin, kamu siap-siap aja dibuntutin sama Bu Mei. Kalau sedang benci sama seseorang, biasanya Bu Mei akan terus mengikuti orang yang dia benci," seru Nina.


Dan apa yang Nina katakan tadi itu benar, Bu Mei terus saja membuntutinya sambil tak henti-hentinya meracau. Wanita tua itu bahkan mengikuti Karin sampai masuk taksi, demi kemanusiaan, ia membiarkan Bu Mei ikut pulang ke apartemennya.


Dari bangun tidur, sengaja Karin tidak mengganti lingerie-nya, untuk menyambut kedatangan pria tercinta. Tepat saat sang pujaan masuk, Bu Mei juga keluar dari kamar tamu, baik Dia maupun Karin sama-sama gelagapan. Kekasih yang tadinya mau memeluk jadi berubah haluan bersembunyi di balik sofa. Karin pun memeluk Bu Mei.


"Bu Mei udah bangun? Ibu gak apa-apa 'kan? Bu Mei mau apa? Nanti saya ambilkan."

__ADS_1


"Saya haus dapurnya di mana? Ini juga ngapain sih peluk-peluk." Bu Mei sedikit mendorong Karin. Tapi Karin makin mengeratkan pelukannya.


"Pintu kamar udah terbuka, masuk kamar aja. Nanti minumnya saya antar, lebih baik Bu Mei mandi!"


Pria itu mengerti maksud Karin, dia lantas berlari ke kamar yang biasa kekasihnya gunakan untuk beristirahat. Sementara itu, Karin sibuk mendorong Bu Mei agar masuk kamar lagi dan tak menyadari kalau ada yang datang. Badan Bu Mei yang agak berisi cukup menguras tenaga Karin.


"Hei, saya haus, mau minum!" Bu Mei mendorong pintu kamar itu, tapi Karin sudah lebih dulu menahan dengan sofa dari luar. Jadi, Bu Mei tidak bisa keluar dengan mudah.


"Bu Mei duduk yang manis, saya ambilkan airnya," jawab Karin tersengal-sengal.


Karin berlari secepat kilat untuk mengambilkan air buat Bu Mei. Terdengar suara gemericik air di kamar mandi, mungkin Bu Mei sedang mencuci mukanya. Kalau mandi tidak mungkin, ia pasti gengsi kalau harus meminjam bajunya. Bu Mei keluar, ia baru sadar kalau Karin hanya memakai lingerie.


"Kamu di rumah pakai itu aja?" tanya bu Mei, lalu menenggak air minum yang Karin bawa tadi.


"Gak perlu, saya bisa pesan sendiri."


"Ya udah," kata Karin sambil berlalu ke kamarnya.


Hambatan sudah pergi, pria tadi menyusul gadisnya yang masih di ruang tamu. Karin sedang membereskan sofa bekas mengganjal kamar tadi. Bukannya membantu, Dia malah membaringkan wanitanya di sofa tadi lalu menindihnya. Menciumi bibir, leher dan juga dua gumpalan daging kenyal milik Karin dengan gemas.


"Kita belum pernah melakukan di sofa 'kan?" Karin mengangguk, lelaki itu pun kembali melancarkan aksinya. Mereka berganti posisi, kini inti keduanya sudah menyatu. Desahan nikmat tak terkontrol lagi. Erangan demi erangan saling bersahutan.

__ADS_1


"Sayang ...," ucap Karin begitu lirih.


******


Desas-desus ada karyawan yang bermain gila dengan Presdir begitu santer terdengar. Entah dari mana gosip itu berasal dan siapa pula yang menyebarluaskan. Ciri-ciri karyawan yang mereka gosipkan mirip seperti Karin.


Sebagai sahabat, Nesa takut Karin terganggu akan gosip yang tengah hangat-hangatnya beredar di kantor. Sebab ia tahu, gosip itu sangat merugikan, terlebih dengan watak Karin yang tempramen.


Melihat kilas balik perjalanan karir Karin. Gadis bermata cokelat itu masuk DeeKa Food dua tahun lalu tanpa melewati proses seleksi. Waktu itu Karin datang membawa lamaran, interview dan diterima pada hari itu juga. Presdir sendiri yang mewawancarai Karin. Pada saat itu, personalia tak menyetujui keputusan Presdir mengenai penerimaan karyawan baru atas nama Karina. Bukan tanpa alasan, kala itu Karin baru sekali lulus dari kuliahnya, tidak ada pengalaman dalam bidang marketing, lebih lagi, Karin bukan lulusan dari universitas terkemuka dan Karin merupakan sarjana kesehatan.


Awal bekerja, Karin sempat diremehkan, tapi dengan kecerdasan serta kecakapannya, dalam kurun waktu kurang dari enam bulan ia sudah bisa membuktikan kemampuannya. Barulah setelah hari itu, yang semula meremehkan mulai respect.


Diam-diam Karin mencari tahu siapa yang membuat gosip murahan mengenai dirinya. Mudah saja bagi Karin menemukan si pembuat gosip, tapi Karin tak gegabah, itu bukan gayanya. Ia masih menunggu waktu yang pas untuk membalas.


Karin berdecih, "ingin bermain denganku, baiklah. Let's play." Karin berbicara dengan dirinya sendiri.


Ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk.


[Aku dengar gosip murahan. Dia belum tahu dengan siapa dia bermain -Tiffany]


[Hahaha, Aku akan membalas berkali-kali lipat,] balas Karin singkat.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan waktu pulang, Karin ada janji temu dengan Amel dan Merlin. Tadinya Ia mau mengajak Nesa, tapi Nesa menolak karena ia tahu, Karin dan teman-temannya pasti akan pergi ke kelab malam. Seringkali Nesa menasehati Karin agar tidak lagi berkunjung ke tempat tak bermanfaat itu, tapi Karin selalu saja pura-pura tidak mendengar, ia akan langsung mengganti topik bahasan mereka.


Di mata sebagian orang, Karin adalah gadis yang frontal, urakan juga tempramental. Namun di mata Nesa, Karin adalah sosok gadis yang hangat dan penyayang. Dia mencintai dan mengasihi dengan caranya, cara yang tidak banyak orang pahami. Bersama Karin, Nesa merasa dirinya begitu berharga, karena hanya Karin yang memperlakukannya dengan baik. Yang lain, hanya tau memanfaatkan kepolosan dan ketulusannya.


__ADS_2