KARINA

KARINA
Lima belas


__ADS_3

Beberapa tahun lalu.


Ketukan pintu membangunkan Dio dari tidur nyenyaknya. Namun, ia bingung kala mendapati tubuhnya begitu polos tanpa sehelai benang pun. Pakaiannya juga terlihat berserakan di lantai. Biasanya, hanya kaus yang ia tanggalkan ketika hendak tidur, tidak polos begini. Sampai ia melihat secarik kertas di atas bantal di sampingnya.


Baru mau membaca tulisan dalam kertas itu, adiknya sudah kembali berseru, memanggilnya untuk sarapan bersama.


"Mas, ayo bangun, sarapan," seru Tiffany dari luar kamar.


"Duluan aja, Mas mau mandi dulu," jawab Dio sekenanya.


"Ok!"


*Aku sudah melupakan apa yang terjadi dengan kita semalam, Kak Dio gak salah. Harusnya aku bisa menolak ketika Kak Dio mulai hilang kendali. Tapi, entahlah.


Aku janji, gak akan ada yang tahu tentang ini. Kak Dio jangan menyalahkan diri sendiri, ya. Aku pergi.


From Karin*.


Matanya terbelalak membaca isi surat yang ada di tangannya. Ia ingat, semalam bersama teman-temannya, ia minum banyak. Aku pasti mabuk, sampai tak sadar berbuat hal yang tak seharusnya. Dan dia, apa otaknya rusak sampai menulis pesan begini? Dasar gadis bodoh, masa depanmu rusak karena ku, dan kamu mau aku tidak menyalahkan diri ini?.


Dio menyibak selimut, dan benar saja. Noda kemerahan ada di sana. "Shit ... shit ... shit!!!"


Segera ia ganti seprai itu sebelum ada yang tahu, dan ia simpan di dalam kopernya. Dio bergegas mandi dan menemui kedua adiknya di ruang makan.


"Karin mana?" tanya Dio pada Tiffany.


"Pagi-pagi udah nanyain Karin aja, sarapan dulu, Mas."


"KARIN MANA?" Tiffany dan Brian tersentak, tak biasanya kakak sulung mereka marah begini.


"Ka-Karin udah pulang sebelum Subuh tadi, Mas," jawab Tiffany ketakutan. Brian menyentuh tangan adiknya agar tenang.

__ADS_1


"Dia pulang? Sebelum Subuh? Sendirian?" Tiffany mengangguk. "Dasar gadis bodoh, benar-benar bodoh, sial," lanjutnya dengan nada menggebu menahan amarah. Amarah yang ia tujukan pada dirinya sendiri.


Ia memijit dahinya, kepalanya mendadak sakit memikirkan segala kemungkinan yang terjadi pada gadis itu. Tiffany menyodorkan segelas air hangat. Ia tak tahu apa yang sedang Kakaknya pikirkan. Yang ia tahu Dio nampak seperti sedang linglung.


"Mi-minum dulu, Mas."


Dio menghela napas, tersenyum dan mengambil gelas berisi air itu. "Maaf, ya, De." Tiffany mengangguk.


"De, di mana Karin tinggal? Mas ada perlu."


"Jalan H. Mahali, kost Putri Mecca. Karin kost di sana."


"Vin, Mas pinjam motor kamu, ya?" Brian mengangguk.


Pria pemilik tubuh atletis, bermata hitam jernih itu membetot gas kuda besi milik adiknya, dengan kecepatan tinggi. Bagai seorang pembalap yang tengah bertanding di sirkuit, ia meliuk-liuk melewati padatnya jalanan dari Puncak Bogor sampai alamat yang dituju. Sesampainya di kost yang adiknya maksud, Dio lekas menemui penjaga tempat tinggal khusus mahasiswi putri itu.


Terlambat, dia sudah pergi. Penjaga dan pengurus kost pun tak tahu kemana perginya gadis bersurai hitam lurus itu. Ia hanya pamit ingin pindah tempat tinggal.


Satu persatu alamat yang adiknya kasih disambangi, dan tetap saja, tak ia temukan gadis yang telah ia renggut virginitasnya itu.


*****


Sehari, dua hari, sampai seminggu lebih lamanya, Dio tak juga melihat Karin di lingkungan kampus. Ingin rasanya ia menangis, membayangkan bagaimana nasib gadis bermanik cokelat itu kedepannya. Tuhan, tolong segera pertemukan aku dengan Karin, bagaimana jika di rahimnya ... ah, pikiranku mulai kacau.


Tiffany berlari sekencang-kencangnya, menyusul Kakaknya yang tengah duduk termenung di ruang perpustakaan. Ia harus segera menyampaikan kabar buruk ini, meski ia tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Mas Dio ...," teriaknya yang langsung mendapat perhatian juga teguran dari penjaga perpustakaan. Tiffany mengatupkan kedua tangannya, meminta maaf.


"Kenapa sih, De?" tanya Dio penasaran, apa yang membuat adiknya sampai lari-larian begitu.


"Karin, Mas ... dia ...," jawabnya tersengal-sengal.

__ADS_1


"Karin kenapa, De? Jangan buat Mas panik!" Mendengar nama itu disebut, hatinya bergemuruh, ada badai yang berkecamuk di sana.


"Aku dengar dari Amel dan Merlin, dia udah gak kuliah di sini lagi!"


"APA!!!" Pria penuh pesona itu terkejut bukan main. Ia ambruk dalam pelukan adiknya.


Kini kakak-beradik itu jadi tontonan seisi perpustakaan. Tiffany membawa Dio ke meja paling sudut, ia tak ingin ada yang melihat kakak sulungnya ini menangis. Meski tak ada air mata yang mengalir, namun ia sangat yakin, di relung hati terdalam, Dio tengah menangis. Dapat ia rasakan dari tubuh kakaknya yang bergetar.


"Haih, rupanya Kakakku ini sedang jatuh cinta. Percayalah, Mas. Kalau kalian berjodoh, Tuhan pasti akan memudahkan jalan untuk bertemu kembali," ujar Tiffany berusaha menghibur.


"Ini bukan soal jodoh atau tidak, De. Tapi ini tentang masa depan seorang gadis, yang sudah dengan tega Masmu ini koyak. Mas takut. Jelas-jelas Mas yang salah, tapi malah dia yang mengambil risiko besar," ungkapnya dalam hati.


"Kita pulang, yuk. Mas udah gak ada kelas lagi, kan?" Dio menggeleng. "Hari ini papa, mama, pulang dari Paris dan, mereka akan tinggal cukup lama," lanjutnya.


"Kamu seneng?" Tentu saja gadis cantik itu mengangguk. Kesibukan orang tua yang tiada tara, membuat ketiga saudara itu banyak kehilangan momen berharga bersama, seperti keluarga kebanyakan.


*****


Bertahun berlalu. Hari Tiffany di wisuda, di balik kebaya berwarna merah muda, dan make up flawless, membuat adik manisnya kian terlihat cantik. Semua orang berbahagia kecuali Dio. Bukan tak gembira adiknya sudah menjadi sarjana, ia sedih mengingat gadis berlesung pipi yang seharusnya saat ini juga di wisuda. Ia membayangkan andai hari terkutuk itu tak pernah terjadi, pasti Karin akan terlihat sangat anggun dalam balutan jubah toga.


Lamunannya buyar ketika Papa Ario menepuk bahunya. Di samping pria yang paling ia hormati, berdiri wanita yang menjadi cinta pertamanya. Wanita yang tetap terlihat segar dan cantik, di usianya yang tak lagi muda. Siapa lagi kalau bukan sang mama, Mama Maria.


"Papa lihat, dari tadi ngelamun aja. Kenapa?" tanya papa lembut.


"Gak apa, Pah. Dio mau foto sama Fany, sama Alvin dulu. Aissh, gadis kecil itu udah sarjana aja," kelakarnya sambil menghampiri kedua adiknya yang sedang asik berfoto.


Sedang asik berfoto, ekor matanya menangkap sosok yang terlihat seperti dia yang bertahun-tahun ini sedang ia cari. Segera ia berlari, meninggalkan kedua adik dan orang tuanya. Tentu saja kedua orang tua itu bingung, sebab akhir-akhir ini, anak sulungnya lebih suka mengurung diri di kamar, ketimbang bergaul.


Matanya terus mencari di antara kerumunan. Tuhan munculkan dia, aku bisa gila bila terus begini.


"Kak Dio ...."

__ADS_1


__ADS_2