
Karin menyusuri koridor kantor, merasakan atmosfer yang tak biasa. Setiap berpapasan dengan orang, mereka menatapnya dengan pandangan lain. Awalnya tak begitu menggubris, ia anggap hanya perasaannya saja. Namun, saat melewati ruang divisi Humas, ia berhenti, menyandarkan tubuhnya pada dinding, dan menyimak obrolan yang tengah berlangsung seru di dalam sana.
"Kalian tahu, gosip Karin main gila dengan Presdir itu ternyata benar!" seru seseorang, suaranya terdengar menggebu-gebu
"Serius? Aku pernah tanya langsung, dia bilang hanya sekedar kenal. Karena dulu, ia pernah satu universitas dengan adiknya, yang modis itu loh." Karin yakin itu suara Nina, sebab cuma dia yang berani menanyakan langsung kabar burung itu padanya.
"Halah, itu paling akal-akalan si Karin doang. Kalian percaya gitu, dia bisa kuliah di kampus yang bagus? Emangnya siapa dia, latar belakang keluarganya aja, kita gak ada yang tahu 'kan?" Karin tersenyum sinis.
"Emang, kamu denger dari siapa kalau Karin beneran main gila sama Presdir?" Kembali suara Nina terdengar. Karin menajamkan indra pendengarannya.
"Bu Mei, sekretaris Presdir. Kalian ingat saat acara anniversary perusahaan? Karin menampar Thomas? Dia diajak keluar sama pak Brian 'kan, bu Mei bilang, mereka berciuman sangat panas, lalu Karin ditarik masuk kamar Presdir. Ya, kalian bayangin aja sendiri, dua orang dewasa dalam satu kamar."
"Kok aku masih gak percaya, ya. Karin orangnya begitu."
Dari jauh terlihat Adam, yang juga bagian dari Humas berjalan ke arahnya. Pria kalem itu menyapa Karin dan mengajaknya masuk.
"Kenapa gak langsung masuk. Pak Bekti ada kok di dalam. Ayo!" Karin mengekori pria berkacamata itu masuk. Yang tadi bergosip, langsung duduk di tempatnya masing-masing. Tetap saja, tatapan mereka seperti sedang merendahkan Karin secara tidak langsung.
Karin hanya diminta Dio untuk menyerahkan beberapa berkas, jadi tak lama, ia keluar. Sebelum benar-benar keluar dari ruangan besar itu, gadis yang selalu "memberi lebih" itu berhenti sejenak. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, lalu mengambil foto ketiga gadis yang tadi bergosip, kecuali Nina. Karena ia tahu, Nina bukan tipe yang berbicara di belakang.
"Ngapain kamu foto-foto kami?" tanya gadis bernama Sandra.
"Buat kenang-kenangan." Lalu ia pergi, meninggalkan mereka yang masih bingung dengan jawaban yang Karin lontarkan.
Jam menunjukkan waktu makan siang, dari yang ia dengar, Bu Mei, alias si penyebar gosip tengah santap siang di kantin kantor.
"Tempat bagus untuk sebuah pertunjukan. Nes, aku ke kantin dulu." Nesa mengangguk, gadis keturunan Tionghoa itu belum tahu apa yang sahabatnya rencanakan.
Sebelum ke kantin, Karin ke pantry terlebih dahulu. Ia membuat ramuan khusus untuk wanita penyebar fitnah itu. Segelas air mineral, campur 3 sendok makan garam, 5 sendok saus sambal super pedas, dan 5 sendok makan cuka. Ia genggam erat ramuan itu. Begitu sampai kantin, matanya sibuk mencari di mana wanita tua itu duduk, dan ketemu.
Wanita berusia 40-an itu duduk di meja paling sudut. Karin berjalan cepat, tepat di depan bu Mei.
__ADS_1
"Ngapain kamu ke ...." Byuurrr ... segelas ramuan yang ia racik khusus sudah membasahi seluruh wajah wanita itu. Ia menjerit histeris. Tidak sampai di situ, Karin juga menjambak dan menyeret tubuh gempal itu ke tengah kantin.
Dipelintirnya tangan Bu Mei ke belakang, ia injak bagian pundak dan kembali menjambak rambut sebahu itu. Bu Mei kembali menjerit, kini lebih kencang.
Tak ada yang berani melerai keributan itu, mereka terlampau takut melihat Karin yang begitu brutal.
"Ini akibat dari sebab yang Anda buat. Saya tidak segan 'memberi lebih' kepada orang macam Anda." Karin lantas meninggalkan tempat itu, tanpa memedulikan Bu Mei yang berteriak sarkas kepadanya. Netranya sempat berkeliling, mengamati siapa saja yang melihat kejadian itu, sebelum benar-benar pergi.
"Arggghhh ... perih, perempuan brengsek. Kalian, cepat bantu saya," teriaknya dengan mata masih terpejam, bisa dibayangkan bagaimana perihnya.
Nesa keluar dari ruangan, tadinya ia ingin menitip makanan pada Karin, tapi gadis itu meninggalkan ponselnya di atas meja.
"Hei, tadinya aku mau menyusul ke ... ya ampun Karin, tangan kamu kenapa?" Gadis bermata sipit itu meraih tangan kanan Karin yang nampak membengkak, gurat kekhawatiran tercetak di matanya.
"Ini, sepertinya kena cuka tadi." Iya, tubuh Karin akan segera memberi respon pada hal-hal yang bersifat asam seperti cuka.
"Kita ke klinik, ini mesti segera diobati."
"Iya, biar aku yang pesen. Kamu duduk gih, aku ambil es batu ke pantry dulu, ya." Karin mengangguk.
Berita Karin 'memberi lebih' pada bu Mei sangat cepat tersebar. Sebagian mencemooh kelakuan Karin, sebagian lagi mendukung apa yang gadis itu perbuat. Sebab, kadang-kadang, apa yang sekretaris Presdir itu katakan atau lakukan memang berlebihan, tak jarang malah merugikan orang lain.
Di ruangannya, Dio cuma bisa menghela napas berat, memijit dahinya. Entah bagaimana caranya, agar kekasih hatinya itu tak mudah terpancing emosi.
*****
"Taraaa ... spaghetti bolognese spesial buatan chef Karin sudah siap, ayo makan!"
Jika sedang begini, tak akan ada yang menyangka kalau gadis ini bisa begitu sadis. Habis makan nanti, Dio akan menasehati kekasihnya ini agar lebih bisa lagi dalam mengendalikan emosi.
"Terima kasih, Sayang. Selamat makan." Gadis bermata cokelat itu tersenyum, sangat manis, hingga tanpa sadar membuatnya terkekeh.
__ADS_1
"Kenapa ketawa? Ada yang lucu?"
"Ada, kamu. Udah, ayo makan dulu." Mereka makan dengan tenang, hanya suara sendok dan garpu yang sesekali terdengar beradu.
Rencana Dio menasehati kekasihnya gagal total, sehabis makan, pria seksi itu malah larut dalam drama Korea yang ia tonton. Karin yang masih mencuci piring di dapur hanya tertawa kecil, melihat lelakinya begitu menghayati tiap adegan yang drama itu tampilkan.
"Yang, udah sih beberesnya. Sini, temenin aku nonton."
"Iya, ini juga udah, bentar." Karin melepas sarung tangan khusu mencuci piring, dan duduk di samping kekasih hatinya.
"Loh, drama ini lagi? Bukannya baru Minggu lalu kamu tamatin, ya?"
"Iya, aku suka banget drama ini, ceweknya mungil kayak kamu."
"Aku ini paling tinggi loh, di antara teman-temanku."
"Iya tahu. Ngomong-ngomong, sekarang kamu gak pernah pergi sama, siapa? Ahh iya, Merlin sama Amel, kenapa? Kalian berantem?"
"Emangnya bocah berantem. Gak tahu, nomor mereka gak ada yang aktif." Dio hanya ber-oh ria. Mendengar Karin menyebut kata "bocah" iya jadi ingat tujuan menasehati.
"Oh iya, Sayang. Aku mau minta tolong, boleh?"
"Untuk kekasihku, apa pun. Katakan, mau minta tolong apa?"
"Tolong kendalikan emosimu, aku dengar tadi siang kamu membuat keributan di kantin?"
"Kamu mau, pacarmu ini terus-menerus digosipkan main gila dengan Presdir? Yang notabene akan menjadi adik iparku? Wanita tua itu sudah keterlaluan. Semua orang kantor menjadikan aku bahan gunjingan, ini tidak sebentar, Dio. Sudah berlangsung lama, dan kamu mau aku menahan emosi? Emosi macam apa yang harus kutahan? Hmm."
"Kamu sendiri tahu 'kan, sekretaris Alvin itu seperti apa, kamu harusnya ngerti dong. Bukannya malah kepancing, dia nanti makin seneng loh, kalau kamu terbawa arus begini?"
"Cih, persetan. Kalau tujuanmu kemari cuma ingin menasihatiku, maka lebih baik kamu pulang. Aku capek, mau istirahat." Gadis angkuh itu membanting pintu kamarnya dengan keras.
__ADS_1
"Karin ... Karin!"