KARINA

KARINA
Dua puluh empat


__ADS_3

"Kenapa bengong? Cepat bawa barang-barangku. Kamu asistenku, jadi, membawa mereka adalah tanggung jawabmu," seloroh Thomas lalu pergi, meninggalkan Karin yang masih melongo melihat koper besar, dan sebuah tas yang tak kalah berukuran besar yang model itu seret tadi.


"Kamu ngelawak? Kita syuting di kebun teh, loh. Yang jalannya menanjak, sempit pula. Kamu mau saya mati karena kelelahan?" protes Karin bertubi-tubi.


Thomas berhenti dan menengok sesaat. "Mati kelelahan atau tidak, itu bukan urusanku."


"Oh jadi, dia mau menindasku, baik. Kamu akan kecewa, sebab seorang Karin gak akan pernah bisa ditindas, dasar cowok sialan," gerutunya bersungut-sungut.


Otaknya berputar cepat, memikirkan bagaimana caranya agar tidak perlu capek, tapi koper dan tas sialan itu sampai lokasi.


Di sebuah restoran yang khas dengan menu makanan sunda, Dio tengah bercengkrama dengan pria paruh baya yang tak lain adalah Rudiantara. Wajah orang tua itu selalu penuh kesedihan. Iya, kesedihan itu disebabkan oleh putrinya yang selalu saja menolak keberadaannya. Beliau tak menampik jika itu memang kesalahannya, mungkin, kalau ia berada di posisi yang sama, ia juga akan bertindak serta bersikap seperti itu.


"Diminum, Om, kopinya."


"Iya, Nak Dio." Lelaki paruh baya itu pun menyeruput kopi hitam kesukaannya.


"Gimana? Om mau jam berapa ikut aku ke lokasi syuting?"


"Karin nanti marah tidak?"


"Aku jamin enggak. Atau gak, Om nanti datang pas masuk jam makan malam, biar kita bisa ngobrol lebih lama."


"Om setuju yang makan malam, kalau sekarang, Om juga masih ada kerjaan."


"Ya udah kalau gitu, aku balik ke lokasi, ya, Om. Mau mantau langsung."


"Iya, terima kasih, Nak Dio, sudah membantu Om sejauh ini," ujar papa Rudi tulus. Cuma Dio satu-satunya harapan agar bisa kembali dekat dengan sang anak gadis. Mereka pun berpisah dan kembali ke kegiatan masing-masing.


🌻🌻🌻


Mari kita lihat apa yang Karin lakukan pada tas dan koper besar Thomas.


Tidak tanggung-tanggung, gadis itu memesan jasa pindahan ternama di kota kembang. Iya, jasa pindahan cuma untuk sebuah koper dan tas, yang kalau ditimbang juga gak akan sampai 1 ton beratnya.


Thomas yang sedang menikmati istirahat siangnya dibuat kaget, oleh orang yang bilang kalau ia harus membayar biaya jasa. Ia tidak merasa memesan apa pun, tapi Karin memesan itu atas namanya. Daripada malu, mau tidak mau model itu tetap harus membayar. Ia masih belum sadar kalau ini adalah perbuatan gadis yang tadinya ingin ia tindas.


"Karin, ambilin minum dong, haus nih."

__ADS_1


"Baik, Bapak."


Karin menuruti perintah sang model sialan, tempat pengambilan gambar sedikit lebih tinggi. Otomatis, ia harus turun untuk mengambil minum di tenda, yang memang untuk menyimpan kebutuhan logistik selama syuting. Tenda itu sudah didirikan sejak semalam, dan ada dua orang yang menunggui. Repot 'kan kalau bongkar-pasang.


Rupanya Dio sudah kembali dari urusan luarnya, dia terlihat duduk-duduk dengan staf lain. Karin menghampiri untuk menyapa.


"Siang, Pak. Baru datang?" Yang lain ikut menoleh dan tersenyum pada gadis berlesung pipi itu.


"Dari tadi, kamu sudah makan?"


"Sudah."


Karin merasa ponselnya bergetar, sepertinya ada telpon, tapi Dio ada di sini. Lalu siapa yang menelpon? Ahh ... mungkin Nesa. Begitu pikir otak cantiknya. Dirogohnya tas kecil yang menggantung indah di pundaknya itu. Tapi, nomor baru yang tertera.


"Siapa, Rin?" tanya Dio penuh selidik.


"Gak tahu, Pak. Nomor baru, udahlah biarin."


"Jangan gitu, siapa tahu penting. Angkat!"


"MINUM SAYA MANA?" Karin menjauhkan benda itu dari telinganya, lalu menempelkan kembali.


"Iya, Bapak. Sebentar, ya," jawab Karin dengan gigi gemeretak menahan marah. Lantas seseorang di seberang sana memutuskan sambungan telepon sepihak. Ia mengembuskan napas kasar.


"Siapa?"


"Pak Thomas, Pak. Tadi dia minta saya ambilkan minum. Saya naik lagi, Pak."


"Gak perlu!" Dio memanggil staf lain untuk mengantarkan minum pada Thomas.


"Ngomong-ngomong, itu tas sama koper kalian?" tanya Dio pada dua orang staf yang bertugas tidur di tenda. Mereka menggeleng.


"Itu milik Pak Thomas, Pak," jawab Karin sambil mengangkat tangannya.


"Kamu yang bawa itu?"


"Enggak, saya panggil jasa pindahan. Tapi tolong, jangan kasih tahu si empunya, ya." Karin melihat semua yang duduk bersamanya satu-satu. Mereka semua kompak membuat gerakan tangan seperti mengunci bibir. Sebagai tanda, mereka akan tutup mulut. Lalu tertawa bersama.

__ADS_1


Pukul 4 sore syuting hari pertama selesai. Semua kembali ke hotel terkecuali yang jaga tenda dan Karin. Ia masih harus memanggil jasa pindahan untuk membawa dua benda besar milik model sialan itu. "Heran, faedahnya itu tas sama koper apa sih? Perasaan dari pagi gak dibuka sama sekali," celoteh Karin kesal.


"Mungkin jimatnya di dalam situ, Bu," kelakar salah satu staf jaga tenda.


"Iya kali, ya. Nanti kalau orang dari pindahan datang, Bapak suruh mereka langsung bawa ke hotel dan temui pak Thomas, ya, Pak. Saya balik dulu."


"Siap Bu Karin. Hati-hati."


Saat sedang menunggu koper Thomas datang. Karin yang duduk di lobby hotel melihat pemandangan yang membuat hatinya pilu. Ayah, ibu dan anak yang terlihat begitu bahagia berjalan memasuki hotel. Sampai mereka ke resepsionis, Karin mengalihkan pandangannya. Tak kuat, hatinya terlalu sakit, hingga tak terasa setitik cairan hangat mengalir di pipi mulusnya.


Ia segera menghapus air matanya, kala tangan mungil menyentuh rambut hitamnya. Karin menatap gadis kecil itu lekat, ia sangat cantik.


"Adik cantik, namanya siapa?" tanya Karin lembut.


"Namaku Kirana. Nama Kakak siapa?" tanya gadis cilik itu balik.


"Nama Kakak, Karina." Karin tersenyum. "Nama kita hampir mirip," lanjutnya.


Gadis cilik itu tersenyum, sangat manis. Ia menangkup kedua sisi wajah Karin, lalu mencium keningnya. "Kakak jangan nangis lagi, ya. Kata mama, kalau sedih Kakak lihat aja bintang-bintang di langit, pasti sedih Kakak hilang."


"Terima kasih, ya, Adik manis."


"Kiran ... ayo!" seru sang ibu memanggil gadis ciliknya.


"Dah Kakak." Karin melambaikan tangan, tak lupa senyum ramah ia kembangkan.


Manik cokelatnya masih terus memandangi gadis cilik itu. Dia berjalan begitu riang, sambil sesekali masih melambaikan tangan mungilnya pada Karin.


"Permisi, saya mau antar barang atas nama Pak Thomas." Lelaki tua itu menghampiri resepsionis. Karin segera mendatanginya.


"Saya asisten Pak Thomas, biar saya yang bawa. Terima kasih. Biaya sudah saya bayar pakai aplikasi."


"Iya, Bu. Mari." Karin mengangguk.


Susah payah Karin menyeret dua benda besar itu, entah isinya apa. Ini bener-bener berat, Thomas ... apa kamu menaruh batu dalam koper dan tas ini?


Seseorang mengambil alih barang bawaannya, Karin menoleh, dan ....

__ADS_1


__ADS_2