
"Yodah we pergi dulu okey, mau cari cogan.. tapi boonk. Nanti ndak sakid lagi ati gue." Author.
~Back to topic~
Ivan dan Nindya sudah sampai di kediaman rumah keluarga Wijaya. Sebenarnya Ivan tak mau mampir terlebih dahulu, tapi melihat mobil papanya dia mampir.
"Assalamualaikum." seru Ivan dan Nindya.
"Waalaikumsalam." jawab papa, mama, ayah, dan bunda bersama.
"Waduhh, dari mana aja nih." goda Zein papa Ivan.
"Iya tuh, keknya belom puas, perasaan seharian berdua terus." goda Refan ayah Nindya.
"Baru pulang dari rumah Kak Reni, main sama Atala pa,yah." jawab Ivan tersenyum.
"Pantesan kalo main sama Atala lupa waktu yah." ucap bunda terkekeh.
"Tadi drama dulu bun, Atala nya gak mau ditinggal sama Ivan." jawab Nindya.
"Waduh baru pendekatan iho dah gamau ditinggal pulang. Kalo dah deket banget ga mau pisah rumah paling ya. Setau bunda Atala gak gampang deket sama orang iho." goda bunda.
"Iya bun, disogok sama Ivan, dibeliin buah kesukaannya." jawab Nindya yang menahan tawa karena ekspresi Ivan. Melihat ekspresi Ivan semua orang jadi tertawa.
"Yah, bun, pa, ma Adek pamit ke kamar dulu ya mau bersihin badan." pamit Nindya sopan dan tersenyum.
"Yaudah sana, jan lama-lama ada yang rindu nanti." goda Mama yang melirik ke Ivan.
__ADS_1
"Aish mama gak ada kalik." jawab Nindya terkekeh.
"Itu sampingmu, keknya gamau pisah tuh." jawab bunda.
"Astagfirullah, disini A'a difitnah," jawab Ivan dengan nada melas.
"Fitnah apa itu ekspresi nya pen deket terus ama Nindya," sahut ayah.
"Ayah bisa baca dari mana?" tanya Ivan.
"Nah ketawan kan gamau pisah sama Nindya, dua bulan lagi Van." jawab papa sehingga semua disana tertawa tetapi tidak dengan Nindya yang sedang blushing.
"Aish, sudah nanti adek gajadi mandi. Adek pamit kekamar dulu ya." pamit Nindya.
"Yasudah sana dek, keburu ditahan sama A'a." goda ayah. Nindya hanya menjawab dengan anggukan dan melaju ke kamarnya.
"Besok kalo udah nikah mau tinggal dimana 'a." tanya mama.
"Belum tau ma, tapi keknya di apartemen A'a aja biar buat latihan mandiri." jawab Ivan.
"Yaudah kalo ayah setuju-setuju aja, demi kebaikan kalian." seru ayah.
"Yah, kirain dirumah papa." jawab mama dengan nada agar lemas.
"Ya nanti kalo ada waktu nginep dirumah papa atau ayah, gantian jadi kana adil." jawab Ivan.
"Nah bagus tu 'a, jadi bisa diatur pas malem sabtu dimana malam minggu dimana. kalo gak perminggu gantian." usul ayah.
__ADS_1
"Emm, boleh juga nanti setiap malem sabtu aja. Dan kalo gak lagi ada tugas sekolah." jawab Ivan.
"Yasudah mama pasrahkan saja sama kamu." ucap mama.
Tak lama kemudian Nindya turun karena sudah selesai mandi, dan menghampiri yang ada di ruang keluarga.
"Waduh dek lama banget, A'a dah kangen iho." goda mama.
"Aish, ma baru aja sebentar masa iya dah kangen aja, ya enggak lah." jawab Nindya. Semua tertawa mendengar jawaban Nindya.
Kemudian terdengar suara yang menandakan sudah waktunya shalat Isya, mereka berjamaah shalat yang di imami oleh Refan. Setelah shalat mereka makan malam bersama. Di meja makan tak terdengar suara percakapan. setelah makan keluarga Bramasta pamit karena sudah malam.
Nindya sekarang berada di kamarnya dan sedang membalas chat dari teman-temannya.
Tiba-tiba....
.
.
.
TBC
Maaf kalo ada yang typo
Happy Reading!
__ADS_1