
Diperjalanan menjadi hening, beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di pekarangan keluarga Wijaya. Ivan segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Nindya karena menggendong Atala yang tertidur pulas.
"Makasih." ucap Nindya sudah berada di luar mobil.
"Sama-sama" jawab Ivan.
"Sini biar Atala aku aja yang gendong." sambungnya.
"Gausah aku aja takutnya malah kebangun." tolak Nindya.
"Okelah." jawab Ivan.
"Assalamu'alaikum." seru Nindya dan Ivan barengan saat masuk ke rumah.
"Wa'alaikumsalam." jawab yang ada di ruang tamu.
"Atala tidur dek?" tanya Reni kepada Nindya.
"Engga cuma pingsan." jawab Nindya, membuat semua orang disana melotot.
"Canda elah, maap keun." Ucap Nindya terkekeh sambil mengangkat tangan membentuk huruf v.
"Dasar kao dek." ucap Reni.
"Sampun, we mau bawa Atala ke kamar dulu." pamit Nindya.
(Orang tua Dian Bunda Nindya adalah orang jogja.)
"Ati-ati yang ko bawa anak we." ucap Rendi ikut nimbrung.
"Buih dah balek kon, ini juga ponakan we santuy nape." jawab Nindya dan langsung bergegas ke kamar Reni untuk menidurkan Atala.
Setelah merebahkan Atala Nindya menuju kamarnya dan menyimpan tasnya.
__ADS_1
Di ruang tamu
Ivan duduk dan berbincang bersama Refan, Dian, Reni, Rendi.
"Makan malam sekalian disini saja 'a." ucap Refan kepada calon menantunya itu (Azekkk).
"Tak usah Yah, A'a pulang saja nanti merepotkan." Jawab Ivan sopan.
"Aish, kamu ini 'a. Ini juga hampir magrib, siapa juga yang merasa direpotkan, lagian kamu juga bagian keluarga ini." sahut Dian.
"Iya kan yah." sambungnya dan melirik ke refan.
"Iya." jawab Refan.
"Ya sudah makan malam sekalian disini ya 'a." ucap Dian, dan mendapat respon anggukan oleh Ivan.
Nindya pun turun dri kamarnya melihat orang-orang sedang berbincang dan bergurau bersama. Nindya oun duduk di samping Reni.
"Kek seru aja nih, ngomogin apa?" tanya Nindya sembari duduk di samping Reni.
"Sabar aku punya kakak begini amad." ucap Nindya membuat orang disana tertawa.
"Sudah-sudah kalian ini kalo lagi barengan debat terus." ucao Dian geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anaknya itu.
"No debat no life." ucap Nindya dan Reni serentak yang membuat semua orang tertawa.
"Sudah yang, debat mulu ama Nindya." Rendi ikut nimbrung.
"Merasa sedang melihat FTV." sindir Nindya melirik ke arah Reni dan Rendi bergantian.
"Iri bilang bos." jawab Reni dan beralih duduk di samping Rendi.
"Dek, kenapa iri tu ada Ivan nganggur." ucap Refan kepada Nindya.
__ADS_1
"Aish, beda kali yah. Kak Reni rangkulan, Ayah rangkulan. Berasa nonton FTV." ucap Nindya.
"Kode tu Van." ucap Reni.
"Kode apa kak, nay! gaboleh rangkulan belom halal." ucap Nindya.
"Ya halalin sono dek." ucap Reni.
"Seenak jidat kau kak, nikah kek mainan." ucap Nindya melirik sinis kepada Reni.
Sedangkan Ivan hanya tersenyum melihat perdebatan kakak ber adik itu.
"Lanjutkan FTV nya, mayan gausah buang uang buat bayar listrik." ucap Nindya.
"Gak dek kasihan we sama elu." jawab Reni, semua orang pun tertawa.
"Bunda udah siapin makan malam?" tanya Nindya yang sudah malas dengan perdebatan itu.
"Sudad beres semua." jawab Dian kepada anaknya. Nindya hanya ber O ria saja.
Mereka berbincang banyak hal dan diselingi canda tawa, Atala terbangun dari tidurnya dan ikut nimbrung disana. Tak lama kemudian terdengar panggilan Shalat maghrib, semua mengambil air wudhu dan menjalankan shalat berjamaah yang di imami Refan. Setelah selesai shalat mereka menuju meja makan untuk makan malam.
.
.
.
ℕ𝕚𝕟𝕕𝕪𝕒 𝕕𝕒𝕟 𝕀𝕧𝕒𝕟 𝕔𝕠𝕞𝕖 𝕓𝕒𝕔𝕜:)
TBC
Maaf kalo ada yang typo:)
__ADS_1
Happy Reading!