
Setelah selesai shalat mereka menuju meja makan untuk makan malam.
"Dek ambilin makan buat Ivan, Itung-itung latihan." ucap Dian kepada Nindya.
"Iya bun." jawab Nindya berdiri.
"A'a lauknya apa saja." tanya Nindya kepada Ivan.
"Ayam kecap sama capcay aja dek." jawab Ivan. Tanpa menjawab Nindya mengambilkan makanan untuk Ivan, dan memberikan kepada Ivan.
"Terimakasih." ucao Ivan tersenyum kepada Nindya, Nindya hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.
Mereka semua menyelesaikan makan malam tanpa ada perbincangan, setelah selesai makan Dian, Nindya, dan Reni membereskan piring dan lainnya, sedangkan para laki-laki kembali ke ruang tamu untuk berbincang sambil menunggu waktu shalat Isya. 15 menit kemudian Dian, Nindya, dan Reni bergabung bersama lainnya yang ada di ruang tamu.
"Van gak pusing gitu, masi muda turun tanggan tentang perusahaan?" tanya Rendi kepada Ivan.
"Biasa aja si bang, kalo niat ya lancar-lancar aja." jawab Ivan.
(Ivan pake sebutan 'Bang' kepada Rendi karna Rendi sendiri yang minta Ivan panggil dia dengan sebutan 'Bang').
"Abang juga dulu dah pegang perusahaan dari SMA kan." sambung Ivan.
"Iya, tapi gak kayak lo, gue lebih ringan." jawab Refan.
"Mantu-mantu Bunda hebat semua, masi muda dah pada sukses." puji Dian kepada Ivan dan Rendi.
"Iya dong bun." jawab Rendi dengan tertawa.
Tak lama kemudian terdengar panggilan untuk melaksanakan shalat Isya.
"Sudah, ayo shalat dulu." ucap Refan.
"Van kamu imamnya ya." sambungnya.
__ADS_1
"Baik yah." jawab Ivan dengan anggukan dan senyum manisnya.
Mereka segera ambil air wudhu dan bergegas ke ruang shalat, shalat berjalan dengan tertib yang di imami oleh Ivan. Setelah selesai shalat mereka semua kembali ke ruang tamu, kecuali Reni yang sedang menemani Atala yang ingin tidur. Ivan pun berpamitan pulang.
"Yah, bun, bang, dek Ivan pamit dulu ya." pamit Ivan.
"Kog buru-buru 'a?" tanya Dian.
"Ada tugas sama sedikit pekerjaan bun, lagipula sudah malam juga." jawab Ivan sopan.
"Yasudah 'a, pasti mama mu sudah nunggu kamu." sahut Refan.
"Dek antar Ivan ke depan." sambung Refan. Nindya menjawab dengan anggukan kepala.
"Yah, bun, bang A'a pulang dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." ucap Refan, Dian, Rendi.
"Ati-ati dek." ucap Rendi yang diacungi jempol oleh Ivan.
"Besok berangkat bareng?" tanya Ivan.
"Gausah besok palingan bawa mobil sendiri." jawab Nindya.
"Kenapa?"
"Besok harus berangkat pagi-pagi banget buat persiapan pemilihan organisasi OSIS sama kedisiplinan."
"Yaudah bareng aja, gak tega kalo kamu berangkat pagi-pagi buta sendirian."
"Gausah 'a, kan A'a juga pasti nanti kerja kan."
"A'a gak Terima penolakan ya."
__ADS_1
"Iya in deh."
"Baru cerdas, sudah A'a pulang dulu ya."
"Sok ga ada yang larang." jawab Nindya terkekeh.
"Mau ngusir nih?" tanya Ivan.
"Ya engga lah, kan tadi di dalem A'a bilang ada tugas sama kerjaan, wlee." jawab Nindya
Betah di rumah kalo Nindya gini terus. -batin Ivan.
"Yasudah aku pulang dulu, Assalamu'alaikum." ucap Ivan Sambil membuka pintu mobil.
"Wa'alaikumsalam, ati-ati dijalan."
"Siap tuan putri." jawab Ivan.
Blush..
Pipi Nindya bersemu merah, kek kepiting rebus.
(Nih saltingnya mending ya, gak sampe badan lemes, keringet dingin.)
.
.
.
TBC
Maaf Kalo ada yang typo:)
__ADS_1
Happy Reading💜