
"Nih lagi pantau persiapan buat besok pemilihan pengurus." jawab Nindya.
"Kirain cari cowok." ketus Ivan.
"Buat apa, ga guna banget." jawab Nindya.
"Iya soalnya udah dapet yang ganteng." jawab Ivan pd.
"Dih pede amad, apa iya kamu ganteng?" tanya Nindya dengan mengangkat satu alisnya.
"Ya ganteng lah, kalo ga ganteng mana mau Nindya Putri Bramasta mau sama Ivan Bramasta." jawab Ivan sombong.
"Hilih, pret. Lagian adek masi nona dari keluarga Wijaya belum jadi menantu Bramasta." jawab Nindya.
"Iya-iya k..." jawab Ivan terpotong karena Kelya Dan Reyhan datang membawa makanan.
"Nih makanan kalean, buru dimakan." ucap Kelya dan Reyhan.
mereka makan dengan sesekali bercanda, ahirnya mereka selesai makan. Mereka memutuskan untuk ke kelas karena sebentar lagi mau bel masuk pelajaran. Waktu terus berjalan dan sekarang sudah jam pulang Nindya menunggu jemputan, tapi belum datang hingga ada yang menghampirinya.
"Belum pulang dek?" tanya orang itu siapa lagi kalo bukan Ivan.
"Belum, nunggu jemputan ga dateng-dateng." jawab Nindya.
"Ohh, yaudah bareng aku aja, tadi Bunda telfon aku suruh bareng ama kamu, tadi Bunda juga udah hubungi nomer kamu juga gak bisa." ucap Ivan.
"Astagfirullah, HP aku mati. Yaudah bareng A'a aja." jawab Nindya.
"Yaudah cepetan naik gih!" seruh Ivan. Nindya pun naik ke motor kesayangannya Ivan. Mereka pun meninggalkan sekolah.
"Mau mampir dulu gak?" tanya Ivan.
"Gausah langsung pulang aja, pasti A'a juga cape kan." jawab Nindya.
"Gacape kalau ada kamu." gombal Ivan.
__ADS_1
"Kumat dah, sejak kapan pinter gombal, diajarin siapa? David ati Reyhan, huhh. Pen ku getok palanya." jawab Nindya, membuat Ivan tertawa.
"Dih ketawa lagi." sambung Nindya.
"Yaudah iya udah berhenti ketawanya." jawab Ivan.
"Lagian aku gombal sama calon sendiri gak papa lah ya." sambung Ivan.
"Heem in aja dah." jawab Nindya.
Sekarang mereka pun sudah sampai di kediaman keluarga Wijaya, dan ternyata disana ada Reni dan Atala. Atala yang melihat Ivan langsung berlari ke arah Ivan.
"Om Ipann." seru Atala yang menghampiri Ivan. Ivan dan Nindya yang mendengar itu langsung menghadap ke arah suara, Ivan pun turun dari motornya. langsung jongkok dan menggendong Atala.
"Hmm, mulai gak bisa lepas." ucap Nindya.
"Ehem, kek nya ante mu cemburu tuh La." ucap Ivan terkekeh.
"Idih siapa juga yang cemburu." jawab Nindya.
"Tala, ante mu terlalu gengsi bilang cemburu." ucap Ivan tertawa.
"Enggak, om Ivan aja yang ke geer an." ketus Nindya.
"Sini sama ante aja kasihan om Ivan pasti cape." sambung Nindya.
"Gausah sama A'a aja kamu lebih cape apalagi tadi abis ngurusin pergantian pengurus." jawab Ivan dengan nada lembut.
"Yakin gapapa?" tanya Nindya untuk memastikan.
"Gapapa." jawab Ivan dengan tersenyum.
Di ambang pintu ada Reni yang yang mengamati itu.
"Pantesan lari ternyata ada Ivan." ucap Reni terkekeh.
__ADS_1
"Hehe, iya." jawab Ivan.
"Assalamu'alaikum." seru Nindya dan Ivan.
"Wa'alaikumsalam." jawab Reni dan Dian.
"Wah, Atala dah nempel ama Ivan aja." seru Dian.
"Hehe, iya bun." jawab Ivan.
"Tala sini ama mama aja kasihan om Ivan kan baru pulang sekolah." ucap Reni.
"Gapapa kak, gak cape juga." jawab Ivan sambil tersenyum.
"Oh ya Atala udah makan belom?" sambung Ivan.
"Tala mau dicuapin om." jawab Atala.
"Oke deh." jawab Ivan.
"Masuk dulu Van, sekalian makan bareng." suruh Dian.
"Oh ya, makasi bun." jawab Ivan sopan.
"Bun, kak, 'a aku ke kamar dulu yah mau ganti baju." pamit Nindya.
"Yaudah sana jangan lama-lama." jawab Dian.
.
.
.
TBC
__ADS_1
Maaf kalo ada yang typo
Happy Reading!