
"Gue sama Ivan dijodohin." jelas Nindya agar mereka tak salah faham. Sedangkan mereka hanya ber O ria.
Disisi lain ada seorang pemuda yang tengah duduk bersama temannya tetapi pandangannya mengarah ke meja Nindya.
"Woyy!!" seru Denis teman Adit yang melihat Adit tengah bengong.
Adit pun kaget dan membuat lamunannya buyar.
"Anji**r lo, kaget gue ogeb!" seru Adit kaget.
"Bwahhahahahahhaha, lagian lo bengong aje. Mikirin sape seh." seru Hendrik teman satunya Adit.
"Gak mikir apa-apa." elak Adit.
"Iya gak mikir apa-apa. Tapi...." ucap Denis menggantung membuat Adit dan Hendrik menaikan salah satu alis mereka.
"Lagi liatin bidadarinya, yang tak kunjung didapatkan." sambung Denis melirik ke meja Nindya.
Hendrik yang mengerti mangsud Denis pun tersenyum simpul.
"Ohh itu toh masalahnya." ujar Hendrik.
"Tapi kalian ngerasa aneh gak sih?" tanya Adit.
"Aneh???" ujar Denis dan Hendrik saling pandang.
"Hmm." jawab Adit dengan deheman.
"Kenapa?" tanya Denis.
"Padahal dulu mereka gak sedeket ini, dan kemaren itu Nindya sama Ivan barengan berangkatnya." ujar Adit.
"HAHHH!!" seru Denis dan Hendrik kaget.
"Gosip darimana lu?" tanya Hendrik berbisik.
"Gue liat dari mata kepada gue lah." ucap Adit.
"Seriusan lo?" tanya Hendrik.
"Heem." jawab Adit dengan deheman.
"Aduh ada yang jadi kalang kabut nih." celetuk Denis.
"Bodo!" seru Adit lalu meninggalkan kantin.
__ADS_1
"Main tinggal aja tu anak." seru Denis melihat punggung Adit menjauh.
"Woyy, Dit!!! tunggu!!!!!" seru Hendrik dan Denis.
Tetttttttt!!
Bel masuk kelas berbunyi menandakan jam istirahat telah selesai. Nindya dan Ivan dkk meninggalkan kantin dan menuju ke kelas.
Dia hari sudah berlalu, Ivan, Nindya dan lainnya melaksanakan aktifitas seperti biasanya. Dan sekarang waktunya jam pulang sekolah. Nindya dan Ivan berada di dalam mobilnya Ivan.
"Berangkat sekarang?" tanya Ivan melihat ke Nindya.
"Taun depan aja gimana?" tanya balik Nindya lalu melihat ke Ivan.
"Ya sekarang lah." sambungnya.
"Oke." jawab Ivan lalu melajukan mobilnya keluar dari area sekolahan.
Setelah 30 menit dalam perjalanan mereka sampai disalah satu Mall di kota itu.
"Mau makan dulu apa langsung?" tanya Ivan sambil berjalan.
"Makan dulu boleh?" tanya Nindya balik.
"Boleh." jawab Ivan.
Mereka masuk ke salah satu resto di Mall itu. Setelah mereka duduk, pelayan menghampiri mereka untuk menanyakan makanan yang akan dipesan. Mereka pun memesan makanan, setelah selesai pelayan pun pergi dari meja Ivan dan Nindya.
Mereka makan setelah makanan yang mereka pesan sampai.
"Mau cicip gak?" tanya Nindya menawari Ivan puding buah.
"Boleh." jawab Ivan.
Lalu Ivan mencicipi puding itu.
"Enak." ujar Ivan setelah mencicipi puding milik Nindya.
"Suka?" tanya Nindya.
"lumayan." jawab Ivan.
"Gantian kamu cicip cheesecake nya." ujar Ivan.
"Oke." jawab Nindya lalu mencicipinya.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Ivan.
"Tak seburuk yang aku pikirkan." jawab Nindya.
"Kamu baru pertama makan cheesecake?" tanya Ivan.
"Enggak." jawab Nindya singkat.
"Lalu?" tanya Ivan.
"Dulu pernah makan cheesecake tapi rasanya aneh, jadi aku ga pernah mau makan lagi." jelas Nindya.
"Ouhhh, begonoh." ucap Ivan.
"Begitu kalek." sewot Nindya.
"Iyaa dehhh." jawab Ivan.
Mereka menyelesaikan makan mereka, lalu membayarnya. Setelah membayar mereka menuju toko perhiasan untuk mengambil cincin yang di pesan Dina dan Dian.
"Mbak mau ambil pesanan cincin atas nama Nindya." ucap Nindya.
"Mohon ditunggu ya mbak." ucap pekerja di toko perhiasan itu.
"Iya mbak." jawab Nindya.
Tak lama orang itu datang.
"Bisa dilihat dulu mbak cincinnya." ucap orang itu.
Mata Nindya berbinar melihat cincin itu.
"Kamu suka?" tanya Ivan.
"Suka banget." jawab Nindya.
.
.
.
TBC
Maaf kalo typo:)
__ADS_1
Happy Reading💜