Kedis Cantik Jodohku

Kedis Cantik Jodohku
KCJ 6


__ADS_3

Skip setelah salat isya


“A’a ayo cepetan, nanti telat.” triak mama.


“Iya-iya A’a udah siap ma.” jawabku sambil menuruni tangga.


“Yaudah kita berangkat ‘a kamu bawa mobil sendiri ya.” imbuh papa.


“Iya pa.”


Ivan mengenakan jas berwarna navy yang senada dengan celananya, serta baju dalam berwarna hitam. Tak lupa sepatu dan jam tanggan sehingga membuat Ivan lebih tampan dan gagah.


---Di kediaman keluarga Wijaya---


*Nindya POV*


Di waktu yang sama. Ayah dan bunda udah nunggu gue di bawah, dan bunda manggil gue karena takut telat.


"Dek,, buruan nanti telat!" Triak bunda.


"Iya bunda, adek udah siap." Jawabku sambil menuruni tangga.


Nindya mengenakan dress muslim dengan warna navy, dengan jilbab senada. Tak lupa jam tangan, tas kecil, dan high heels dengan hak yang tak terlalu tinggi, yap karena sudah direncanakan oleh mama dan bunda.


"Wah,, anak bunda cantik banget ini mah." Puji bunda dengan menggoda.


"Makasih bunda." jawabku dengan tersenyum.


"Anak ayah cantik sekali, sudah ayo kita berangkat nanti takut keluarga calonmu menunggu lama." imbuh ayah.

__ADS_1


30 menit mereka sampai di restoran. Dan segera masuk ke ruangan yang sudah dipesan oleh keluarga Bramasta.


*Author POV*


Skip restoran.


Keluarga Bramasta datang lebih awal daripada keluarga Wijaya. Tak lama kemudian keluarga Wijaya datang.


“Assalamualaikum, maaf menunggu lama.” seru Refan.


“Walaikumsalam, tidak kami juga baru sampai. hei sahabatku bagaimana kabarnya.” jawab zein dan memeluk sahabatnya.


“Yah, sama yang seperti kamu lihat.” jawab refan.


Nindya yang merasa familyar dengan suara tersebut mendongkakan kepada pada orang yang menyapa ayahnya.


“Pak Zein, Tante Dina?” ucap Nindya “Ivann” sambungnya.


“Nindya? Ngapain lo disini?” tanya Ivan dengan nada kaget.


“Ehem…”seru zein, dina, refan, dan dian dengan nada menggoda.


"Adek, sekarang kamu panggil bapak dan tante dengan sebutan yang sama seperti A'a, bagitu juga dengan kamu 'a" perintah Zein.


Nindya dan Ivan menjawab dengan anggukan kepala.


“Yasudah duduk dulu, kita makan setelah itu kita berbicara sesuai rencana kita.” zein


Hah??? yakinan gue mau dijodohin sama Ivan, astaga gini amad yak, tapi dilihat-lihat si Ivan ganteng juga ya tapi sayang nyebelin.-batin Nindya.

__ADS_1


Wadau!!! ciusan gue mau dijodonin ama si cewe rese, ga tau dah gimana nasib gue. Tu cewe gak disekolahan gak diluar cantiknya sama yah. Malah lebih manis diluar, gak kelihatan sangarnya kayak pas di sekolah.-batin Ivan.


Skip setelah makan


“Jadi kapan tanggalnya? Gimana kalau tunangannya minggu depan dan nikahnya dua minggu lagi?” ucap Zein.


Nindya dan Ivan yang mendengarkan itu menjadi melihat ke arah papa Zein karena kaget. Tapi mereka masih bungkam.


“Kalo aku sih setuju-setuju aja, gimana menurut kalian?” jawab Refan, dan melihat kepada Nindya dan Ivan.


“Yah, Pah kalo menurut adek tunanangannya terserah kalian. Dan untuk nikah, adek belom siap pah.” jawab Nindya.


“Dek kenapa belom siyap? Ivan gaboleh apa-apain kamu sebelum kalian lulus. Dan untuk sekolah tenang kalian gak akan dikeluarin, karena papah sudah bilang sama semua guru, lagian papa yang punya yayasan itu.” saut Zein dengan nada serius.


“Tapi adek mau fokus dulu belajar buat UKK yah, pah. Kalau adek boleh usul, gimana nikahnya pas liburan aja, adek ga mungkin ninggalin sekolah lama-lama karena adek punya tanggung jawab dan kepercayaan disana yang harus adek jaga. Karena adek ketua kedisiplinan.” jawab Nindya dengan kepala tertunduk.


Mendengar jawaban Nindya semua orang kagum dan tersenyum.


Yakin ini cewe rese? Nyentuh banget jawabannya. Kalo kaya gini mah gue gak nyesel punya calon gini. Mesti dia akan jadi perempuan yang bisa ngubah gue dan nemenin gue apapun keadaannya. Apa mungkin gue udah jatuh cinta ya? Dia satu-satunya cewe yang bikin gue kagum, dia gak kaya kebanyakan cewe.-batin Ivan sambil tersentum tipis melihat ke arah Nindya.


.


.


.


TBC


Maaf kalo ada yang typo!

__ADS_1


Happy Reading!


:)


__ADS_2