
"Kamu suka?" tanya Ivan.
"Suka banget." jawab Nindya pandangannya masi tertuju kepada cincin itu.
Ivan tersenyum melihat ekspresi Nindya.
"Bayar gih." ucap Nindya pada Ivan.
"Bentar ya." ucap Ivan.
Setelah selesai dengan urusan mereka, mereka memutuskan untuk pulang,
"Udah selesai?" tanya Ivan.
"Udah." jawab Nindya singkat.
"Mau mampir dulu kemana ato langsung pulang?" tanya Ivan
"Ga usah langsung pulang aja." jawab Nindya.
Mereka berjalan menuju mobil, Ivan dengan segera menancap gas meninggalkan area mall tersebut, di perjalanan diselingi perbincangan singkat antara keduanya.
Setelah 30 menit perjalanan mereka sampai di kediaman Wijaya.
"Mau mampir dulu?" tanya Nindya setelah turun dari mobil.
"Ga usah, langsung pulang aja." jawab Ivan.
"Okelah, aku masuk dulu." ujar Nindya.
"Yaudah sana gih masuk." jawab Ivan.
"Assalamu'alaikum." ucap Nindya lalu masuk ke dalam.
"Wa'alaikumsalam." jawab Ivan, ia pun melakukan mobilnya saat Nindya sudah masuk ke dalam rumah.
Hari berganti hari, sekarang hari minggu dan tiba saatnya acara pertunangan Ivan dan Nindya. Pertunangan itu hanya dihadiri keluarga besar dan teman-teman Ivan dan Nindya.
__ADS_1
Nindya tampil dengan kebaya simple berwarna coklat muda, dan jarik batik yang senada dengan baju Ivan.
Acara pertunangan berjalan dengan lancar, Ivan berkumpul dengan teman cowo, dan Nindya dengan cewe.
"Selamat bray, langgeng terus kalian." ujar David.
"Thanks, buat lo juga selamat." ujar balik Ivan.
"Selamat apaan?" tanya David.
"Selamat berjuang demi pujaan hati yang tak kunjung peka." jawab Ivan terkekeh.
"Kalo suka langsung tembak diambil orang baru nangis." sahut Marley.
"Betul tuh kata lu Ley." ucap Tama.
"Tujuse." ucap Reyhan.
"Setuju Reyhan, dan b aja sih." ujar Tama membenarkan sekaligus menjelekkan Reyhan.
"Heeemmmm." ucap Ivan, David, Marley barengan.
"Paduan suara ape?" tanya Tama.
"Sereh!!" ucap Ivan, David, dan Marley barengan lagi.
"Cie kompak!!" ujar Tama dan Reyhan kompak.
"Cie juga kompak." ucap David.
"Gabut bet yak kita." ucap Tama.
"Iya kan biasanya tengkar ama tengger kesayangannya termos." usil Ivan.
"Kam*pret lu." ujar Tama.
"Ngomongin apa nih?" ucap Nindya yang tiba-tiba datang bersama ciwi-ciwi.
__ADS_1
"Kek seru." lanjutnya.
"Itu Si termos kangen ama si tengger." jawab Marley sontak membuat Angger dan Tama melotot dan lainnya tertawa.
"Idihhh, ngapain gue kangen ama si tengger, gak banget lah ya." ujar Tama membela diri.
"Gue juga ogah dikangenin ama termos butut." sahut Angger dengan nada menggebu-gebu. Membuat lainnya semakin tertawa.
"Gue orang pertama yang bakal ngucapin selamat dan sukur kalo kalian berdua jadian." ujar Lia.
"Bicid ko nak." jawab Angger dan Tama barengan.
"Cie kompak." ucap Sari dan Marley barengan.
"Cie juga kompak." seru Reyhan dan Kelya barengan.
"Kompaknya." seru Ivan dan Nindya.
"Kompak jugaaa." seru Lia dan David.
Semuanya menjadi tertawa.
Mereka melanjutkan perbincangan mereka dengan diiringi perdebatan antara Angger dan Tama tentunya. Sampai acara pertunangan selesai mereka sudah kembali ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya Nindya berangkat sekolah diantar oleh Ayahnya seperti biasanya. Nindya segera bergegas ke kelas karena hari ini adalah Senin, jadi ada upacara.
Tapi sebelum Nindya sampai Kelas ada beberapa anak yang mencegat Nindya di Koridor sekolah yang cukup sepi.
orang itu adalah......
Hello guys, maaf beberapa hari gak up karena udah mulai disibukkan dengan tugas-tugas.
TBC
Maaf kalo ada yang typo:)
Happy Reading💜
__ADS_1