
Aku mantapkan niat untuk melangkah walaupun hati masih belum bisa sepenuhnya.
Ya Allah.. yakinkan hatiku ini untuk menuju mahligai rumah tangga yang kau ridhoi.
bukakan hatiku untuk bisa menerima pasangan yang telah engkau takdirkan untukku.
Jagalah hatinya dan berikan kesabaran untuknya sampai hatiku ini benar-benar bisa menerima dia seutuhnya.
Janganlah engkau palingkan dia kehati yang lain.
Wahai zat yang maha mengetahui segala isi hati hambanya,tetapkan ia sebagai takdir jodoh yang berakhir.
Meski aku belum mempunyai rasa Untuk mas Agus namun dihatiku ada rasa takut jika dia akan berpaling.
Semoga kamu sabar mas.
Dek..!
Apa kamu sudah siap jika kamu mulai besok tinggal dirumah mas?
kalau kamu nanti kurang nyaman kamu bisa nginep dirumah Mama berapa kali dalam seminggu.
Namun mas berharap kamu bisa menyesuaikan dirimu disana.
Aku akan mencobanya mas,jika nanti aku mau nginep dirumah mama.. aku akan ngomong.
Aku akan belajar untuk bisa menyesuaikan diri.
Hatiku sebenarnya selalu deg-degan tidur satu ranjang dengan mas Agus,ada rasa khawatir.
Namun aku berusaha percaya dengan janji mas Agus yang tidak akan pernah memaksaku.
Besok aku akan mulai tinggal dirumah Mas Agus.
keluarga baru,suasana baru,lingkungan baru,semuanya kehidupan baru yang harus aku jalani nantinya.
Hidup dilingkungan yang belum sama sekali aku tau.
Yach mau gimana lagi semua itu harus tetap aku jalani.
Apa kamu takut dan tidak nyaman tidur satu ranjang dengan mas,dek?
Kalau kamu kurang nyaman biar mas tidur di sofa aja,karena mas lihat kamu selalu ragu untuk merebahkan tubuhmu.
hah..! kok mas Agus bisa tau Yach kalau aku merasa tidak nyaman kalau tidur satu ranjang dengannya.
Maafkan aku Yach mas,namun untuk saat ini biarkan ku belajar mengenali dirimu.
" ucapku dalam hati."
Mau bagaimana lagi massak mas Agus kusuruh tidur dilantai atau disofa,bisa-bisa Mama ngomel terus-menerus.
aku kan tidak mau kalau disebut double durhaka mas,bisa berat badanku ini menanggung dosa karena durhakanya double,hehe.
I..ya sih,tapi aku juga gak mungkin menyuruh mas untuk tidur lantai atau disofa .
Nanti aku pas tinggal dirumahnya mas,aku disuruh tidur dilantai lagi ,kan gak enak.
__ADS_1
Ya gak mungkinlah,mas mau membiarkan bidadari surganya mas tidur dilantai. mas juga masih punya perasaan dek.
Daripada tidur dilantai mendingan tidurnya dipelukkan mas.
Mas juga gak tega ngeliat bidadarinya mas harus tidur kedinginan dilantai.
Idih..,kumat lagi.
sebenarnya aku senang saat mas Agus menggoda ku,walaupun aku terkadang merasa kesal dengan ucapannya.
Aku sedikit terhibur dengan ucapan mas Agus,kupalingkan wajahku untuk menyembunyikan tawaku.
.......
Pagi yang cerah dengan hangatnya sinar mentari.
Apakah cerahnya pagi ini merupakan pertanda kehidupan ku yang baik?.
Aku berharap bisa demikian, karena mulai hari ini aku akan banyak belajar dengan lingkungan dan kehidupan ku yang baru.
Semoga saja aku bisa mendapatkan keluarga yang hangat.
Hari ini aku akan diantarkan keluarganya mas Agus .
Ada rasa gelisah dan bimbang dihatiku,ada rasa khawatir dihati.
Apakah aku bisa menyesuaikan diriku?
Mampukah aku bertahan nantinya?
Bisakah aku membiasakan diriku hidup apa adanya?
Hidupku akan berubah seratus delapan puluh derajat.
Menjadi seorang istri,hidup dengan mertua dan saudara-saudara iparku.
Dek,kamu sudah siap.
"aku menjawab dengan mengangguk-anggukkan kepalaku dengan ditambah sedikit senyum Yach."
Maafin mas Yach,tidak ada pesta mewah buat menyambut keluarga dan kita.
Tidak seperti Mama dan Papa yang menyambut keluarga mas dengan pesta yang mewah .
"Ucap mas agus."
Sepertinya mas Agus merasa tidak enak dengan keluargaku,dia merasa bersalah karena tak bisa menyambut keluargaku seperti Mama dan Papa menyambut keluarganya.
Mas..,tak perlu melakukan diluar kemampuan kita atau memaksakan sesuatu dibatas kemampuanmu mas.
Apa pun penyambutan dari keluarga mas,Mama dan Papa pasti akan merasa senang,karena bagi mereka yang terpenting adalah diri mas Agus sendiri.
Mama dan Papa tidak pernah memandang seperti apa keadaan keluarga mas,rumah dan juga pekerjaan mas sendiri.
Yang mereka lihat mas Agus itu seorang laki-laki yang baik untuk menjadi suamiku.
Apakah mas Agus minder ?
__ADS_1
Bukannya menjawab mas Agus malah menatapku dengan heran,seolah-olah pertanyaan itu cocok untukmu.
Seharusnya pertanyaan itu untukmu dek,apa kamu minder mempunyai suami seperti ku?.
Aku hanya laki biasa yang tak punya apa-apa, aku hanya seorang suami yang belum tentu bisa memberikanmu apa yang kamu mau.
"ucap mas Agus yang membalikkan pertanyaanku.
Maaf mas jika aku belum bisa menjadi istri mas seutuhnya, namun aku harap mas bisa memberikanku kenyakinan bahwa mas adalah seorang suami yang setia terhadap pasangannya, karena aku masih belum bisa mempercayai seseorang yang baru aku kenal.
Jika aku minder dengan mas, aku pasti akan melarang Mama dan Papa untuk mengadakan resepsi pernikahan kita.
Aku yakin jika Mama dan Papa tidak salah mencarikan aku jodoh,dan aku yakin mereka tidak salah dengan pilihannya.
Berikanlah bukti untukku mas bahwa pilihan mereka adalah yang terbaik.
Aku tidak mau sakit hati dan terluka lagi.
tok..tok..
Masuk.. tidak dikunci kok pintunya.
Non, yang mau merias non sudah datang..non ditunggu dibawah.
" ucap bibi."
iya bi,sebentar lagi aku turun.
ayok mas cepet turun,nanti Mama kira aku yang keberatan diboyong kerumah mas.
Setelah semuanya selesai di make up kami mulai mempersiapkan segala sesuatunya.
Hanya beberapa keluarga yang ikut untuk mengantarkan kami,aku dan mas Agus satu mobil dengan Mama dan Papa.
"kamu sudah siapkan, sayang !".
ucap Papa yang duduk disamping sopir.
" Insyaallah pah,doain Hani."
ucapku singkat karena dihatiku ada rasa ragu.
aku tak pernah tahu tentang keluarganya, aku kenal mas Agus saja belum sebulan sudah menikah.
antara siap atau tidak hanya waktu yang akan menjawabnya.
"Besok-besok kalau datang bulan jangan minta Mama buat ngelus-ngelus perut kamu ya,sekarang kan kamu sudah punya suami,jadi nanti minta suami yang mengelus perutmu."
bisik Mama ditelingaku.
Karena aku punya kebiasaan kalau datang bulan selalu terasa nyeri,Mama akan selalu mengompres perutku dengan air hangat sambil mengelus perutku.
"Nak Agus, kalau suatu saat nanti Hani nangis tiba-tiba kamu jangan kaget Yach."
sekarang semua tanggung jawab Mama menjadi tanggung jawab mu.
Iya mah,insyaallah saya akan menjadi suami yang bertanggung jawab dunia dan akhirat.
__ADS_1
Saya akan jaga dan menyayangi Hani seperti saya menjaga dan menyayangi ibu.
Jawaban mas Agus membuatku merasa nyaman.