
Terimakasih Mas sudah mengambil keputusan yang terbaik buat keluarga, meskipun aku tahu Mas Agus ragu untuk itu.
Namun masa depan Ayu tak bisa dikorbankan
begitu saja.
Pakde,Bude..Hani harap apa yang kita bicarakan ini jadi rahasia dulu,Hani ingin tahu seperti apa juragan tanah itu.
Hani juga ingin menggoda Ayu,exspresi seeperti apa ia akan menolaknya.
"Mbak nanti kalau Ayu marah bagaimana?"
ucap Ajeng.
Itu semuanya tinggal tergantung Ibu dan juga Mas Agus,bagaimana akting Ibu dan juga Mas Agus dan juga kamu Rud.
"Kok aku juga sih..!" expresi wajahnya yang dibuat imut-imut.
Bantal kursi pun melayang kewajahnya Rudi.
"Jangan sok manis lho," ucap Mas Agus, namun Ajeng membalas omongan Mas Agus
"emang Mas Rudi manis kok,apalagi rayuannya."
"Hahahaha..." kami tertawa dengan ucapnya.
"Tuh Gus ada yang bela Rudi", ucap bude masih dengan tawanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ya sudah kalau gitu Pakde Sama Bude pamit,mau kerumah Laras.
"Oh ya Pakde omongan yang tadi juga jangan sampai Mas Satria tau,biar dia dengar tentang masalah ini dari orang lain saja." ucap Rudi sebelum mereka keluar rumah.
Pakde hanya menepuk pundak Rudi,kemudian keluar dari rumah Ibu.
"Mbak..mbak yakin bisa pinjam uang segitu besarnya pada tempat mbak kerja,kalau tidak bisa gimana mbak?," ucap Rudi yang ternyata dia pun ragu juga takut jika aku tidak bisa meminjam uang sebanyak itu.
"Kan ada Papa,dulu Mas Agus juga pernah ditawarin tapi gak mau,karena malu mau dapat anak gadisnya, jadi gengsi," ucapku sambil menyenggol lengannya.
Mas jadikan anterin Hani kekantor kan, tau Mas mau istirahat tidur dulu?
Ya jadilah..mumpung dirumah ada Rudi kita berangkat sekarang aja yuk.
"Ayok...titip Ibu sama Rumah yach, awas Ibunya jangan dinakalin," ucapku ke Rudi.
"Bapak itu enggak nakal Tante,tapi...," ucap Reva anak Rudi.
Tapi apa sayang?.
"Tapi suka jahil tante,sama ibu juga begitu hehe," ucapnya .
Oooh...nanti Reva jagain Mbah yach biar enggak diusilin Bapak.
Ok siap tante,tapi pulang bawa es krim yach tante.
Insyaallah yach sayang,semoga Tante pulangnya tidak malam.
iya deh tante.
Kami pun bersiap-siap untuk pergi ke kantor tempat tujuanku.
Kami pun pamit dengan Ibu,Rudi dan juga Ajeng dan anaknya.
"Mau naik mobil apa motor dek?,"
"Naik motor ajalah Mas biar romantis,"
"iya-iya yang lagi jatuh cinta mah,pinginnya yang bisa menempel-nempel terus," Rudi berkomentar.
"Apaan sih nih anak ikut nyambung aja," ucap Mas Agus.
"yok dek,kalau ngomong sama Rudi mah enggak ada habis-habisnya," kami memilih untuk menggunakan motor agar cepet sampai yach walaupun siang ini terasa panas.
__ADS_1
Diskip yach.
Ini untuk pertama kalinya Mas Agus mengantarkan aku sampai dikantor,di terlihat begitu kagum dengan bangunan gedungnya.
Aku pun masuk melewati pos security...
"Pagi Bu." security.
"Pagi Pak,apa kabarnya?," ucapku.
"Alhamdulillah Bu baik," ucap mereka.
"Mas mau ikut Hani masuk enggak atau mau nunggu disini," ucapku kepada Mas Agus.
"nunggu disini aja dek,kebetulan Mas kenal,"
ucap Mas Agus yang mungkin takut akan bosan bila menunggu ku didalam.
"Kalau Mas mau istirahat, itu ada kamar bisa buat istirahat," ucapku sambil menunjuk kearah samping pos satpam.
"Iya dek," ucap Mas Agus singkat,aku mencium tangannya sebelum masuk kantor.
Aku masuk melalui lift khusus...,aku langsung menuju ke ruanganku.
Belum juga aku duduk Gibran sudah langsung
menemuiku.
"Han uang segini banyaknya buat apa?,apa loe mau buka usaha baru terus gue kok gak tau dan loe juga gak pernah bahas sebelumnya?," ucap Gibran sambil meletakkan amplop yang berisi uang.
"Tarik nafas dulu...lalu keluar dari mulut perlahan-lahan," ucapku buat mengatur pernafasannya.
Busyet deh...loe tuh ya, gue tanya bener-bener
malah nyuruh gue kaya gitu,gak tau apa kalau gue tuh amat sangat penasaran dengan jumlah uang yang loe pinta.
Aku pun berjalan menuju sofa...kudaratkan p**tku disofa,dan Gibran pun mengikuti ku duduk.
Itu buat bayar utang suami gue sama juragan tanah,karena semua sertifikat rumah dan juga ladangnya digadaikan sama kakaknya dan masa Tempo sudah mau habis.
Gue gak mau itu semua...
Suami gue nolak bantuan papa padahal dulu Papanya Mas Agus sangat berjasa terhadap ortu gue.
Usaha Papa bisa berkembang sampai saat ini adalah berkat kucuran dana yang diberikan oleh ortunya suami gue sebelum ortunya menikah.
Jadi bener...ortu loe dan ortunya suami loe itu
itu sahabatan.
"Iya...seperti kita", ucapku singkat.
" loe kemari sama siapa?sendiri atau sama suami loe?,"tanya Gibran lagi.
"Sama suami gue..noh di pos security," tunjukku kearah pos security yang terlihat dari jendala ruangan kerjaku.
"Kebetulan sudah mau jam makan siang,kita makan siang bersama yok,gue chat digroup aja yach,biar lengkap farmasi nya." ucap Gibran.
Gibran
[kita kumpul makan siang bersama, wajib membawa pasangannya]
Indri
[ lah gue...,berati nelpon suami gue dulu ya,lumayan pasti ada bos besar nih,makan gratis hehe]
Bagas
[waduh bini gue lagi ada acara kantor nih..gak bisa ikut,terus gue masih bisa ikutan gak]
Gibran
__ADS_1
[boleh aja sih tapi nantinya loe jadi jomblo yang beristri...kacian banget cih]
Bella
[Hani mana Hani, dia ikut juga kan...kok gak ada komentarnya dia,ndelep dimana dia]
Hani
[Ndelep apa tuh artinya ndelep...gue ikutlah kan gue diruang gue sama Gibran dan gue jug yang ngajak makan siang bareng,mumpung suami gue ikut]
Bella
[Ndelep itu artinya tenggelam say,makanya belajar bahasa suami loe say biar ndak bingung,terus dimana say suami loe?]
Hani
[ ada...nunggu di pos security hehe ]
Kayla
[ Hah..gila loe,suami suruh nunggu di pos,loe berduan sama suami gue..awas ya ayang jangan macam-macam. kenapa gak loe ajak suami loe masuk?,loe malu?.]
Hani
[mana ada gue malu,Mas Agus sendiri yang mau nunggu disitu,gue juga tadi sudah nawarin dia buat ikut...jadi orang prasangka negatif aja.]
Kayla
[ hehe maaf yang]
Hani/Gibran
[Anton mana Anton,kok ada sahutannya]
[Bel..mana suami loe,diem-diem bae tak de suare.]
Anton
[Apa woy...gue nyimak dari tadi tau,hayo mau ngompor-ngomporin bini gue yach, enggak akan mempan tau karena tiap hari udah gue tiup ubun-ubunnya biar lengket sama gue]
Gibran
[ emang ngaruh ]
Bagas
[hahahaha... percaya sama Anton,sesat woy.
gue tiap hari ngelakuin itu gak ngaruh ]
Gibran
[Hah...loe kata sapa ]
Bagas
[ ya kata Anton lah,gue curhat malah dia ngasih sarannya begitu,gue ikutin eeh istri gue marah-marah kirain gue ngedukunin dia]
Kami yang nyimak percakapan mereka tertawa, karena dengan polosnya Bagas mengikuti saranya Anton.
Kayla
[Bella itu gak perlu ditiup ubun-ubunnya kalau cuma mau lengket...Bella itu sudah lengket sebelum menikah,apalagi sudah menikah tambah deh,nambah gak lepas ]
Bella
[ hehe tau aja sih,gue tuh udah jadi pelengkap buat Mas Anton ]
Hani
[ sudah ah ayok...cepet siap-siap, gue tunggu diluar,pake mobil masing-masing ]
__ADS_1
Anton, Gibran ,Bella ,Kayla ,Bagas
[ aasiap]