Kesabaran Suamiku

Kesabaran Suamiku
38.Ghibah tetanggaku


__ADS_3

"Assalamualaikum" ku ucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah,namun dengan wajahku yang masih cemberut.


"Itu muka mbak hani diapaain Mas?,ditekuk begitu," Rudi melihatku masuk kedalam rumah dengan wajah yang cemberut.


"Jangan galak-galak sama mbak Hani Mas," Ajeng ikut berkomentar.


"lah Mas ni gak ngapa-ngapain kok," dengan santainya Mas Agus berkata, mendekatiku duduk disebelah ku.


Aku memukulnya dengan pelan,masih ada rasa kesal yang aku rasakan.


Rudi melirik kantong belanjaan yang aku bawa.


"Ini beli dimana?,jangan-jangan beli diwarungnya mbak Nissa Yach," aku menjawab hanya dengan menganggukkan kepalaku.


"Sudah ku duga" jawab Ajeng dan Rudi bersamaan.


Memang begitu mbak mulut mereka terhadap keluarga kita,apalagi semenjak rumah dan ladang digadaikan kejuragan tanah.


Mereka sangat senang merendahkan kita.


"Iya mbak..mbak harus terbiasa dengan ocehan mereka,awalnya aku juga sering merasa sakit hati bahkan aku sampai menangis karena hinaan mereka,tapi sekarang aku masa bodo,enggak perduli mereka ngomong apa,yang penting aku tak pernah mengemis kepada mereka." penuturan Ajeng tentang pedasnya mulut tetangga ku.


"Tapi kan jika kita diam aja mereka akan semakin menjadi-jadi, ada tetangga kesusahan bukan memberi simpati,atau setidaknya rasa peduli...ini mereka malah sengaja menjadi bahan omongan,"ucapku kesal dan ingin sekali mereka-mereka itu aku karungin dan kubuang kelaut biar tak ada mulut samulut


"Apa aku karungin aja yach, Ibu-ibu tadi biar tak ada yang sakit hati gitu," ucapku selanjutnya.


Belum selasai aku berkata Reva sudah nongol.


"Asyik Tante Hani sudah pulang,es krim ku mana," logat bicaranya Ayu dibuat seperti anak kecil.


Karena ada Reva rasa kesal dan marah aku simpan dulu,agar tak tercemar otak kecilnya Reva.


"Sini sayang Tante bawa banyak nih,tinggal pilih mau yang mana.


Yu tolong kamu anterin eskrim juga buat anaknya mbak Laras yach," Mas Agus tersenyum melihat perubahan wajahku yang tadinya cemberut Sekarang tersenyum kala Reva datang.


Ayu pun langsung mengantarkan eskrim tersebut kerumah mbak Laras.


"Sini Mbah itu makan es krim bareng," ajak Reva ketika melihat Mbah utinya.


"kalau Mbah uti ikut makan es krim,nanti Revanya kurang terus Mbah itu suruh ganti," ucap Ibu dengan wajah yang dibuat masam.


"Ndak mbah...nih liat Tante Hani belinya bannnnyaakkk sekali,Reva ndak mungkin habisin makan es krimnya." Reva menjawab ucapan Mbah utinya dengan mulut yang sudah blepotan dengan eskrim,tanpa berhenti memakan es krimnya Reva berkata ke Mbah utinya.


Kami yang melihatnya tertawa dengan apa yang diucapkan oleh Reva.


Reva mendekatiku dan membukakan plastik eskrim dan menyuapiku.

__ADS_1


"Terimakasih sayang," kukecup pipinya yang cabi.


****


Aku,Ayu dan Ibu berangkat terlebih dahulu kerumah Pakde Tio, sedangkan Mas Agus datang menyusul.


"Assalamualaikum" ucap salam kami bergantian.


"Walaikumsalam,Alhamdulillah yang mau masak sudah datang." ucap bude yang terlihat senang dengan kedatangan kami.


Tanpa basa basi pun kami langsung mengerjakan apa yang akan dimasak,tak ada orang lain hanya menantu dan anak-anaknya bude.


Mbak Laras dan Ajeng datang agak siang.


Nduk kamu pinter masak, bude enggak nyangka lho kalau kamu pinter masak apalagi rasanya enak banget.


Aah biasa aja bude,kalau saya memang hobinya masak, kalau nyuci baju dan menyetrika baju aku gak bisa hehe.


"Lho itu si Agus bawa kue?,siapa yang buat,"


ucap anaknya bude yang paling tua.


"Itu buatnya kemarin sore bareng Ayu,"


"Wuih kuenya kayanya enak-enak, duh kalau begini mah besok hajatannya nduk Hani aja yang buat ya bu," ucap gendis anak bude yang akan bertunangan.


"Aasiiap...Dengan senang hati,"ku acungkan dua jempol.


Acara pertunangan berjalan dengan lancar tak ada hambatan sampai acara berakhir.


Pagi harinya...


Hidup tak selamanya indah dan tak sesuai dengan harapan kita.


Terkadang kita berharap seseorang yang kita cintai akan menjadi pendamping dalam kehidupan kita kelak,namun semua hanyalah harapan semata karena takdir Tuhan lah yang menentukan semuanya.


Hinaan dan direndahkan itulah yang kurasa saat ini,keadaan yang membuat mereka seperti ini...namun hanya kata sabar yang selalu kudengar dari mulut mereka.


sebegitu hina kah keluarga suamiku ini hingga tanpa ada hati mereka berucap.


Seperti saat ini...menjelang sore hari ketika aku pulang kerja,tak sengaja aku melihat Ayu ada diwarung Nissa, entah mengapa aku ingin menghampiri adik iparku yang sedang membeli sesuatu.


"Beli apa yu?,"


"Eh mbak Hani, ini mbak beli rokok disuruh Mas Agus."


Sejak kapan mas Agus merokok,kok aku baru tau ya kalau suamiku itu merokok.

__ADS_1


"Yu..katanya kamu bentar lagi mau nikah sama anaknya juragan Karta yach."


his kumat deh mulut ghibahnya


"Duh..enak dong,ibumu punya menantu orang kaya,bisa mumpang hidup...gak usah capek-capek tuh namem sayuran,"


"Apalagi istri Mas mu yang sombong.." lirikan matanya kearahku dengan bibir dimonyong-monyongin.


"yang katanya kerja LADY'S GRUP,tapi saya gak yakin."


Kira-kira begitulah duri-duri yang beterbangan dari mulut mereka yang merasa tak bersalah.


"Mangkanya Bu-Ibu kalau cari menantu itu yang kaya,biar gak usah capek-capek cari uang dimasa tuanya.


Berarti mertua saya pinter dong Bu mencari menantu buat anak-anaknya.


Doain aja Bu...semoga adiku Ayu ini punya jodoh suami yang kaya,mapan,dan penyayang kepada keluarga seperti saya Bu." Aku ikuti kata-kata mereka tanpa harus emosi,namun kulihat dari wajah mereka ada bibir yang berkumat-kamit kaya lagi baca mantra hehe..lucu banget mulutnya sedang berdisko.


"Iih...mit-amit ya Bu-ibu,kalau calon menantunya kaya anak juragan Karta itu,dikasih juga ogah,"


'Loh Bu,kan lumayan anak juragan Karta kan tampan dan juga kaya,hih lumayan tau gak Bu...daripada jadi perawan tua,siapa tau kan bisa jadi horang khaya,..


"Buat Ayu aja,saya mah ikhlas."


"Bener nih Bu..," kutatap satu-satu dari mereka, kulihat mereka bergidik sambil berbisik, entah apa yang mereka bisikan.


"Kamu tuh yach... masih baru disini jadi jangan sok-sok an,wajahmu saja mungkin hanya cantik karena polesan saja,jangan belagu kamu...suami banyak utang aja hidupnya bergaya mewah,


bisa-bisa tambah melarat tuh suamimu."


"Insyaallah Bu, doa ibu-ibu tak akan terkabul,"


ucapku kubuat santai namun ibu-ibu ghibah itu terlihat menahan emosi.


"Apa kamu belum tahu yach, kalau suamimu itu punya hutang kejuragan Karta...dua ratus juta, denger gak tuh punya kuping,mangkanya Nissa kusuruh menikah dengan suaminya yang sekarang."ucap ibunya Nissa yang tersulit emosi


"Menikah dengan orang lain tapi cincin tunangan tak mau lepas tuh dari jarinya...masih sayang sama cincinnya atau sama orangnya." Setelah aku berbicara seperti itu Nissa langsung masuk kedalam rumahnya.


"Terimakasih sudah mengingatkan hutang suamiku,tapi jangan khawatir saya tidak akan merepotkan kalain semua buat bantu bayarnya." setelah berkata demikian aku dan Ayu pergi dari hadapan mereka dan masih sempat kudengar dari mulut mereka berkata


"Sombong...mentang-mentang anak orang kaya,belagu dia."


Aku tetap melangkah keluar dari warung ghibah,baik buruk tetangga mereka tetap akan memandang sebelah mata.


"hhuuhh dasar...", kuhembuskan nafasku.


Ada gak yach tetangga yang suka mengghibah tetangga yang sedang susah?

__ADS_1


cukup sekian dulu ya nulisnya


MOMMdut lagi sibuk..terimakasih


__ADS_2