
Beberapa minggu sudah aku tinggal dirumah mertuaku, meski terkadang tak cocok dengan masakannya namun aku berusaha untuk bisa menghargainya.
Aku masih cuek dan bersikap biasa saja dengan mas Agus meskipun ia selalu berusaha untuk mendekati dengan candaan.
Mas agus pun sudah mulai melakukan aktivitasnya kembali.
Sebelum subuh mas Agus sudah pergi kepasar untuk membawa sayuran kepara pedagang.
Sebelum mas Agus pergi ia selalu mengecup keningku sambil berbisik " Mas mau nganter sayuran kepasar,jangan lupa sholat subuh,"dan tak lupa mas Agus meletakkan uang diatas meja yang tersedia disamping ranjang.
Ibu mertuaku pun baik,tak pernah ia menyinggung perasaan ku.kata-katanya selalu lembut bukan dengan aku saja tapi dengan semua anak-anaknya.
Aku hanya bisa bantu nyapu rumah ya walaupun sebenarnya aku bisa memasak.
Karena yang mas Agus tahu kalau aku hanya anak manja yang terbiasa dengan adanya bibi dirumah.
Memang pekerjaan rumah yang tak kusukai adalah mencuci pakaian...jadi ya aku tak pernah mencuci pakaian ku sendiri.
....
"Mas,Hani besok mulai kerja."
Aku mencoba untuk meminta izin ke mas Agus karena sebelum menikah aku sudah membicarakannya,dan sekarang aku ingin tahu seperti apa tanggapannya,apakah mas agus akan merubah keputusannya.sudah hampir dua Minggu aku tak masuk kantor ataupun mengecek cafe.
Mas izinin kamu kerja tapi..
Mas Agus menjeda omongannya dan membuat dahiku berkerut.
Apa mas keberatan jika aku bekerja?,tapi kan..
belum selesai ucapanku mas Agus menempelkan jarinya ke bibirku...seer ada berdesir dihati kala jari mas Agus berada di bibirku,ada apa dengan perasaanku.
Kutepis segera jari tangan yang menempel di bibirku.
"Apa sih mas,main pegang-pegang aja," ucapanku yang kubuat terlihat kesal untuk menutupi kegugupan ku.
Iya deh maaf...,yang penting adek bisa menjaga diri dan tidak lupa dengan status pernikahan kita ya meskipun adek belum punya rasa terhadap mas.
Kalau ada apa-apa cepet hubungin mas,dan satu yang mas pinta selama adek jadi istri mas jangan pernah membuka penutup kepala bila diluar rumah.
"Bisa dek...??"
setelah berkata" bisa dek" kulihat tatapan yang begitu serius dari mata mas Agus hingga aku sendiri merasa takut.
Aku pun hanya menganggukkan kepalaku menjawab pertanyaan yang mas Agus ucapkan.
Kenapa dek..takut?kok hanya menganggukkan kepala aja,maaf ya kalau bikin adek takut.
Tapi untuk masalah itu mas gak ada toleransi nya,karena adek tanggung jawab mas.
Mas gak akan membatasi apa yang adek lakukan selagi itu masih dibatas wajar sebagai seorang istri.
Iya mas,Hani akan berusaha sebisanya.
Tegur Hani jika salah dan jangan bosan atau pun berpaling sampai Hani siap menerima mas seutuhnya.
Mas juga hanya manusia biasa dek,takut hilaf ngelihatin kamu terus,mas juga takut gak bisa menjaga hati mas terus dek.
__ADS_1
Aku tak menjawab apa yang dikatakan mas Agus karena aku sendiri belum bisa yakin dengan perasaanku.
Dan jawaban terakhirnya mas Agus membuat jantungku berdegup seolah ada yang mengganjal.
Apa adek mau mas anter berangkat kerjanya,motor kan dirumah cuma ada satu dipake Ayu sekolah.
Apa nanti gak mengganggu mas dagang?
Sebenarnya bisa saja aku menelpon supir kantor untuk menjemput ku namun aku berusaha untuk menghargai tawaran mas Agus.
Mas gak merasa terganggu, kan jam 6 mas juga masih ngambil sisa dagangan yang belum terbawa.
Iya deh besok mas anter Hani sampai rumah Mama aja,biar Hani kesana sekalian ambil motor buat Hani pulang pergi kerja.
Hening....
"Mas maaf" ucapku sebelum beranjak ketempat tidur.
Jangan sering meminta maaf,jika itu membuatmu tak nyaman.
Anggap mas ini sebagai teman agar adek tak merasa canggung.
Mau kan adek berteman dalam hubungan pernikahan kita agar adek bisa merasa nyaman dan bisa saling bercerita bila masalah ataupun yang lain.
Mas Agus mengulurkan jari kelingkingnya,
"Apaan sih mas kaya anak kecil aja."
Ucapanku namun aku pun mengulurkan jari kelingking ku.
Sebenarnya aku sudah merasa nyaman mas,
"Sudah tidur biar besok tidak telat kerjanya,mas masih ngecek pesanan.
Mas Agus pun keluar kamar dan aku berusaha untuk bisa tertidur.
kamu laki-laki yang baik mas,sebenarnya ada rasa bersalah dihatiku.
POV AGUS
Apa salah jika aku jatuh cinta dengan istriku sendiri,cinta yang sempat hilang dan redup, kini aku merasakan ada semangat untuk aku mencari nafkah.
Namun aku tetap harus berjuang untuk mendapatkan cintamu dek,ada rasa takut jika kamu tak bisa membuka dan menerimaku.
Namun aku sadar siapa aku,hanya laki-laki biasa yang berpenghasilan pas-pasan.
Mungkin kamu minder dengan kaeadaanku.
Tak akan pernah aku memaksakan kehendak ku...ya walaupun hasratku sudah di ubun-ubun (bisa bayangin gaes istri cantik,putih mulus,ngecup keningnya saja buat aku ser-seran apalagi kalau tanpa sengaja melihat yang lain tambah panas dingin hehe).
Suatu saat nanti kamu ingin lepas dan kamu menemukan kebahagiaan mu,rela tidak rela aku akan melepas mu.
huufhp....
kuhiruf udara dan kubuang dengan berat,seberat ku menjalani hubungan pernikahan ku.
Mas...,melamun?
__ADS_1
ucapan Rudi membuatku terkejut.
cerita aja mas,siapa tahu saya bisa bantu.
pasti masalah mbak Hani yach, sabar ya mas karena semuanya instan jadi perlu proses yang panjang.
Dan mbak Hani sepertinya masih canggung dengan mas Agus dan belum bisa bersikap layaknya suami istri.
"Mas..," ucapan Rudi berhenti dan menatapku dengan penuh selidik.
Aku pun menatapnya dengan heran.
Apa?? aku bertanya kenapa tatapan adikku Rudi seperti itu.
"Apa mas belum..." Rudi mengerucutkan kedua tangannya kemudian menempelkan tangannya mengisyaratkan seperti orang berciuman .
Namun aku pura-pura tidak paham dengan apa yang di isyaratkannya.
"Halah mas jangan sok gak paham deh,mas tahu kan apa maksudnya,mas tuh bukan sudah dewasa tapi kelewatan dewasa hampir kedaluwarsa."
Aku pun hanya tersenyum dengan sikap dan ucapan adikku yang memang bisa memahami sikapku namun kadang keterlaluan kalau sudah ngomong.
Aku pun hanya menganggukkan kepalaku.
Mas hanya bisa sebatas mengelus rambutnya dan mengecup kuningnya kala mas mau tidur saja Rud.
Cuma mau sampai kapan yach dia bersikap seperti ini.
Sudah hampir satu bulan tapi belum ada perubahan sikapnya.
"Sabar aja mas,istilahnya nih ya...mas itu dapat undian mobil tapi gak ada kuncinya jadi harus sabar untuk bisa membukanya tanpa merusaknya,kalau memang jodoh mbak Hani gak akan pindah ke lain hati tinggal tergantung pada diri mas sendiri, bisa tidak membuat mbak Hani merasa nyaman disisinya mas."
Sudah jodoh eehh masih harus menunggu buka segelnya...kasian bener masku ini,
Apa kabar otoy yang didalam sangkar,jangan sampai karatan..hahaha.
Begitu lepasnya tawa Rudi,kubekap mulutnya agar tawa tak terdengar kemana-mana.
Awas lho mas,tenaganya jangan diforsir buat dagang terus, simpan buat nanti malam pertama sama mbak Hani,jangan sampe mengecewakan lho.
Bisa diam gak Rud, nanti kedengaran mas satria. jangan sampai dia tahu gara-gara tawa mu ini.
hupt..siap mas,aku adik mas yang bisa jaga rahasia mas.
Beri mbak Hani sedikit kata-kata yang bisa membuat dia kangen.
Mas harus banyak mengalah tapi tetap tegas seperti mas ajarin ke saya.
Ok mas selamat menanti dan menghitung hari-hari .
Bismillah semoga selalu diberi kemudahan.
"Aamiin.." terdengar suara mas satria
Aku dan Rudi saling tatap " apakah mas satria mendengar percakapan ku dengan Rudi??."
MAAF YACH LAMA UP
__ADS_1
TERIMA KASIH YANG MASIH SETIA MENUNGGU CERITA KELANJUTANNYA.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA