
Dua jam lamanya kami melakukan percintaan,
hingga akhirnya mas Agus ambruk diatas tubuhku sambil memeluk tubuhku yang tak terhalang apa pun,ia mencium keningku kemudian mengecup bibirku dan berkata"terima kasih dek,kamu sudah mau menjaga mahkotamu dan menyerahkannya ke Mas."
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya.
"Mas...", aku melirik kearah Mas Agus,kulihat Mas Agus memejamkan matanya.
hemm..
"Kok hanya hemm sih..capek yach Mas",Mas Agus langsung memiringkan tubuhnya kearahku dengan salah satu tangan menyanggah Kepalanya.
"Adek masih mau??...kalau masih mau,Mas masih kuat kok," Mas Agus menarikku dalam pelukannya.
"Aahh..." terikku ketika Mas Agus menarikku keatas tubuhnya.
Jangan bergerak dek...nanti si otoynya bangun.
"Iihh apaan sih mas," kucubit dadanya
Aduh dek sakit, cubitannya sakit lho sayangku...tapi nyubitnya pake bibir lebih enak lho,kaya Mas tadi bikin adek keenakan.
His mulai dech ngomongnya.
"Tapi adek suka kan,liat tuh mukanya merah",
ucap mas Agus sambil memegang kedua pipiku.
Mas awas tangannya aku mau turun..
"begini aja dulu dek,Mas masih pingin meluk kamu kaya gini,tapi jangan banyak gerak"
akhirnya aku pasrah,meletakkan kepalaku di dadanya.
Tadi adek ngomongin apa sama Mas Satria, kayanya kok serius banget,Mas gak suka dengan tatapannya ke adek.
Apalagi dia melihatnya dari atas sampai bawah.
Lho kok Mas tau kalau tadi Hani bicara sama Mas Satria.
Dih ditanya malah balik tanya...jawab dulu sayang baru Mas ngomong.
Duh hati rasanya melayang seperti ada lope-lope yang terbang kalau mas Agus udah mulai genitnya kata-katanya.
"Ya... sebenernya itu yang mau Hani ngomong kan,Mas Sat pernah menemui Hani dirumah pas Mas Agus dan Ibu tak dirumah."
Aku mendongakkan kepala ku dengan tangan melipat diatas dadanya,kulihat kening Mas Agus berkerut.
Mau ngapain?,kok Mas Sat datengin adek diam-diam, terus apa yang diomongkannya?
Hampir sering Mas,Hani pikir itu biasa aja datang kesini karena ini juga rumah mertuanya tapi lama kelamaan kok dia seperti orang gak suka dengan hubungan kita ya mas.
Jadi mulai saat itu Hani tidak pernah meladeni nya.
sampai suatu hari dia bicara kalau Mas itu...
itu...apa?,kok berhenti!.
katanya Mas itu impoten dan juga dia bilang kalau Mas itu menikah buat memanfaatkan keluargaku buat melunasi hutang-hutang Mas.
Terus adek percaya??
"Eemm...kalau sekarang sih gak percaya,kan udah ngerasain, hehe.." aku berkata dengan menunjukkan deretan gigi ku,dengan gemas Mas Agus mencubit hidungku dengan gemasnya.
"Terus pas tadi didapur Mas Sat bertanya apa?" tanya mas Agus penuh selidik.
Dia tanya..apakah aku mau serius membina rumahtangga dengan Mas, terus apa nanti aku tidak akan menyesal.
Ya Hani jawab kalau Hani sudah memberikan hak nya Mas sebagai suami...hehe padahal belum,tapi dia tidak percaya,terus Hani jawab ya terserah mau percaya atau tidak itu bukan urusan Hani.
__ADS_1
Mas minta ya dek,jangan terlalu Deket-deket dengannya Mas gak suka dan jangan lupa pakai selalu jilbabnya walaupun dirumah.
Iya suami solehku,boleh turun gak Hani mau mandi sudah lengket nich.
"Padahal Mas masih pingin lho dek", bisik mas Agus.
"Capek.. sudah gak kuat"rengekku,ini kan Jum'at emang gak mau siap-siap entar terlambat sholatnya.
Mas Agus menepuk jidatnya..hehe abis dikasih enak-enak jadi lupa..Untung diingetin",Mas Agus melepaskan pelukannya dan merebahkan kembali tubuhku.
Aku perlahan untuk duduk,ooh ternyata buat untuk bergerak masih terasa linu,bagaimana mau kekamar mandi.
"Mau kekamar mandi?,sini Mas genndong..
itunya nyeri yach."
Aku hanya menganggukkan kepalaku, kerana aku memang sudah tak punya tenaga lagi.
Mas Agus pun mengendong ku kekamar mandi,sampai dikamar mandi..mas Agus menurunkan ku."mau Mas mandiin,Mas janji gak macam-macam,tapi adek jangan mendesah yach... mas takut khilaf, wudhu dulu dek, terus baca doa *Nawaitu guslan liroffil hadasil akbari anjamiil badani fardhu lillahita'ala*."
Aku pun mengikuti apa yang diajarkan Mas Agus.
Kini Mas Agus memandikanku,sesuai ucapannya ia tak melakukan apapun, namun aku yakin jika Mas Agus menahan hasratnya.
Setelah selesai Mas Agus mengendong ku kembali menuju ranjang.
"Adek bisa pake sendiri kan bajunya... Mas mau mandi,siap-siap sholat Jum'at."
"Iya mas Hani bisa sendiri" Mas Agus mengambilkan pakaian yang buat aku kenakan.
Istirahat aja dulu...nanti Mas bangunin kalau sudah pulang dari masjid, pintunya mas kunci dari luar yach.
"iya mas"
Mas Agus pun keluar kamar dan pintu dikunci dari luar seperti yang dikatakannya.
Aku pun langsung merebahkan tubuh ku yang terasa remuk juga lemes banget.
Malam harinya Mas Satria dan Rudi bersama istri dan juga anak-anak mereka berkumpul dirumah mertuaku.
Rumah terasa agak sempit jika sudah pada berkumpul.
Aku ikut bergabung bersama keluarga Mas Agus, tingkah lucu anak-anak.
Ayu ..."Mbak tadi mbak enggak kerja ya."
Hani .."Iya mbak cuti,kenapa yu?"
Ayu ..."Ayu mau pinjem laptop..nya boleh gak
mbak buat ngerjain tugas."
Hani .."boleh..bila perlu nanti mbak bawain
mesin printer nya,biar kamu gak
terlalu ngeluarin uang banyak.
Sebentar yach mbak ambil"
Aku pun berdiri ingin mengambil laptop yang ada dikamar,karena masih menahan sedikit rasa nyeri ketika aku hendak berdiri tubuh hampir saja jatuh, namun Mas Agus dengan sigap menahan tubuhku.
"Apa masih nyeri dek?," bisiknya ditelingaku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
"Mbak Hani kenapa Mas?... kok jalannya begitu" tanpa disaring lagi Ajeng menanyakannya.
Mas Agus hanya menggaruk kepalanya yang
__ADS_1
tidak gatal.
"Hust..kamu tuh yach, kaya gak pernah jadi pengantin baru,kamu juga dulu seperti itu"
ealah pertanyaan istri malah diperjelas jawabannya oleh Rudi.
"Gimana Mas rasanya?,berapa ronde Mas?"
bisik Rudi ditelinganya Mas Agus.
"Rasanya nikmat banget yach,pantas saja kamu kalau Ajeng datang bulan kaya orang linglung" bisik Mas Agus ditelinganya Rudi.
"Hehehe... sekarang sudah pinter lho Mamas ku ini" ledek Rudi.
"Mas Agus sama Mas Rudi bisik-bisik apa sih,kok cengar-cengir kaya gitu"ucap Ayu yang daritadi memperhatikan kedua Mamasnya.
"Hust anak kecil,gak boleh tau" ucap Rudi dan Mas Agus bersamaan
"Hais kalau sudah kumat kompaknya,ya begitu" Ayu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kulihat Mas Sat menatapku,namun aku sama sekali tidak perlu,aku asyik mengobrol dengan ponakanku yang masih kecil-kecil.
******
Aku libur untuk Beberapa hari kedepan,ingin menikmati hariku yang baru.
Kulihat Ibu belanja ditukang sayur keliling yang berhenti didepan rumah,ada beberapa emak-emak juga ikut belanja.
aku menghampiri Ibu mertuaku,selama ini aku cuek dengan lingkungan dan belum kenal Beberapa tetangga.
"Belanja apa Bu"... sapaku.
Ibu melihat kearahku dan tersenyum" Ibu beli tempe dan ikan asin yang kemarin sudah Ibu pesan."
"Ibu mertuamu itu paling juga beli tempe atau gak tahu,jarang beli ikan"ucap tetangga mertuaku.
"Agus itu pelit banget sih sama Ibunya atau jangan-jangan pelit juga sama istrinya,duh kasian mbak nasibnya," itu ucapan beberapa tetangga yang belum kukenal, mereka mengejek Ibu namun Ibu hanya cuek dan memperdulikan omangan mereka.
Enggak tuh,justru Mas Agus itu sangat royal ke aku istrinya,Ibu,Ayu dan semua saudara-saudaranya.
Dikulkas tuh masih ada ikan bu, tempe sama ikan asin itu buat dimasak dadakkan pake sambal terasi sama rebusan daun singkong,
rasanya mantap banget tuh Bu.
"Halah..namanya juga menantunya pasti tutup-tutupin lah" ucap Bu Ani yang terkenal julid yang kata ibu orang kaya kedua dikampung tempat tinggal ku sekarang.
"Kalau masak cabenya abis berapa kilo Bu..kayanya tuh pedes" sindir ku.
"Saya sekeluarga tuh senang banget sama pedes,jadi kalau beli tuh paling sedikit satu kilo buat stok seminggu walaupun harga cabe mahal saya mah tetep kebeli..orang gitu",ucap Bu Ani sambil ngipas-ngipas tangannya dengan uang yang dia pegang.
"Oooh pantesan..omongan Ibu pedes juga yach sesuai dengan hobinya makan pedes" jawabku
"Apa maksudnya hah..." ucapnya emosi.
"Hais sabar Bu nanti tekanan darah tingginya naik lho...santuy aja kali bu", ucapku santai menanggapinya.
Kamu belum tahu siapa saya yach... asal kamu tahu saya itu orang terkaya no dua dikampung ini Setelah juragan tanah itu.
"Ooo.." kutanggapi ucapan dengan ber ooh ria.
"Tolong ajarkan menantu ibu ini sopan santun kepada orang yang lebih tua",
"Iya ih punya mantu kok gak sopan,cantik doang tapi gak ada sopan"
Ucap Bu Ani dan Bu leha.
Terus apa yang diucapkan sama ibu-ibu tadi,sopan gitu sama orang yang lebih tua.
Hargai orang lain kalau mau dihargai,inget Bu hanya karena lidah yang tak berakhlak bisa membuat orang sakit hati.
__ADS_1
Setelah ku ucapkan kata-kata itu aku mengajak ibu masuk kedalam rumah.