
kujalani kehidupanku yang sederhana,tanpa fasilitas mewah yang biasa aku dapatkan dirumah orangtuaku.
Aku harus berusaha untuk bisa menyesuaikan diriku dengan keadaan keluarga suamiku,..toh suami mau melakukan apa yang aku inginkan.
Saat aku pulang kerja kemalaman,tanpa aku memintanya ia sudah merebuskan air panas buat aku mandi,jika aku kelelahan sepulang dari kantor...tidurku pun tak bisa nyenyak dan terlihat gelisah,ia akan reflek memberikan aku pijatan yang bisa membuatku merasa nyaman,setelah merasa aku sudah tertidur maka suamiku pun baru akan tidur.
Kelemahannya tak bisa melihat aku menangis,dan tidur dalam keadaan gelisah.
Ia pasti akan memelukku dan memberikan kenyamanan dan kata maaf yang akan keluar jika aku sedang menangis.
Jam delapan pagi aku masih bersantai dirumah,karena tak ada jadwal meeting aku malas untuk berangkat kekantor.
Kusambut kepulangan suamiku seperti biasanya,Mas Agus memeluk pinggangku dengan sedikit sikap jailnya.
"his kebiasaan deh," paham dengan sikap jailnya.
"Enggak kerja?"
"Malas Mas...mau santai dirumah aja menemani suamiku tercinta."
"kenapa?apa ada masalah?," aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Mas nanti siang temeni Hani yach,ada seseorang yang mau kenal dengan Mas Agus."
Mas Agus menatapku heran,aneh rasanya jika ada seseorang yang mau berkenalan dengan dirinya.
"Mantanku..."
"Tadi dia menelpon ku dan ingin tau siapa suamiku."
kutatap mata suamiku dan aku berkata" cemburu...???Mas Agus cemburu."
kucolek dagunya...kucubit gemes kedua pipinya.
"Dek"
hemm
"kok hemm sih jawabannya"
lah harus jawab apa,Mas aja belum bertanya.
"Apa adek masih mencintainya?."
Apa Mas masih ragu dengan semua yang Hani berikan buat Mas?,apa dengan menyerahkan kehormatanku masih membuat Mas ragu? aku memilih untuk tinggal disini bersama Mas Agus dan meninggalkan rumah kedua orangtuaku serta kemewahan yang aku rasakan sejak kecil...apa itu tidak membuktikan ketulusan cintaku bahwa aku benar-benar menerima suamiku apa adanya,
masihkah Mas ragukan semua itu?
Mas takut dek,kamu...
usstt...apa pun keadaan suamiku,tak akan pernah Hani berubah,Hani tak butuh harta...yang Hani butuhkan kenyaman,kasih sayang serta belaian mesra yang selalu Hani dambakan dari dirimu Mas.
Ia selalu merasa ragu dan tak mempunyai percaya diri yang kuat,selalu ada rasa takut dalam diri suamiku.
Jangan pernah mikir yang tidak-tidak ah,kita jalani saja,percaya dan pasrahkah segalanya kepada Allah.
Dan jangan pernah merubah kepercayaan itu,Hani tak akan pernah merubah keputusan yang Hani ambil untuk menjadi istrimu Mas.
Maafin Mas yach dek,Mas masih takut jika adek suatu saat nanti akan kembali kepada mantan adek.
__ADS_1
Ya gak mungkin lah Mas, aku juga punya prinsip "tak akan pernah kembali pada orang yang pernah membuat luka dan malu keluargaku.
"Hatiku yang berkecamuk dengan apa yang aku lihat.
Tanpa sengaja aku melihat istriku sedang duduk berdua dengan laki-laki yang disebut MANTAN,kulihat dari Hani menangis,terlihat sangat ia terluka.
Aku hanya bisa memandanginya dari jauh.
Saat malam ia tertidur dalam keadaan gelisah dan tak tenang,keringat dingin keluar dari dahinya.
kupeluk dan usap lembut kepala dan kukecup berulang kali dan memberikan rasa nyaman lama kelamaan Hani terlihat tenang tidurnya.
Entah apa yang sedang Hani pikirkan,apakah ada keraguan dalam dirinya setelah ia bertemu dengan mantannya??.
Apa aku tanya saja ya?."
"Boleh Mas tanya.." sungguh aneh dengan suamiku ini,mau tanya saja pake acara izin segala sih,aku pun hanya menganggukkan kepalaku.
Kenapa semalam adek tidurnya sangat gelisah?,apakah ada sesuatu yang mengganjal dihati adek?
Kusandarkan kepalaku...aku lingkarkan lengannya dipundakku..kupegang dan kupeluk telapak tangannya sambil kugenggam erat dengan kedua telapak tanganku.
"Mas..apa yang rasain saat aku seperti ini?"
Rasa nyaman,tenang...seakan semua bebanku menjauh pergi,lelah setelah berdagang pun terasa hilang.
Kamu adalah separuh nyawaku,penyemangatku senyum adek penyejuk hati buat Mas." ungkapan hati suamiku.
"Itu pun sama yang Hani rasakan,semua yang ada dalam diri mas adalah candu buat Hani.
Kenapa Mas bertanya demikian,apakah ada sesuatu yang mengganjal di hati Mas?" aku pun balik bertanya.
Oooh ternyata itu yang membuat suamiku bertanya seperti itu.
PROV ANDREAN
Aku tak menyangka jika aku bertemu kembali dengan Hani... orang yang pernah kukecewakan,andai aku tak melakukan hal bodoh itu semua ini tak akan terjadi.
Hani...wanita yang lembut,dan bisa membuatku berubah,wanita yang dulu pernah kubenci karena sikapnya yang sedikit jutek namun karena keusilannya terhadap sahabat-sahabatnya yang selalu membuatku tersenyum dan merasa terhibur.
Dari situ aku mulai merasa kangen jika aku tak melihat wajahnya dan senyum manis yang selalu mengembang dibibirnya.
Hari ini aku ingin tau siapa laki-laki yang menjadi suaminya...apakah dia lelaki yang baik hingga Hani begitu mempertahankan hubungannya.
Kudatangi tempatnya bekerja, ingin kujelas apa yang sudah terjadi tentang aku yang pergi sebelum pernikahan.
Jam makan siang kulihat Hani keluar dari tempatnya bekerja.
"Hani...," kulihat tatapan yang shock ketika aku memanggilnya.
"Aku ingin bicara"
"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi...semua sudah terjadi."jawabannya terkesan cuek dan tatapan yang tak perduli dengan kehadiran ku.
Aku mohon...kamu mau mendengarkan penjelasan ku dulu,jika kamu menolaknya maka aku akan berteriak dilobby kantor ini.
Akhirnya walaupun dengan terpaksa Hani mau mengikuti ajakanku.
" Baik...tapi aku tak bisa lama,karena ada meeting jam satu siang nanti."
__ADS_1
*
*
"Sebenarnya tak perlu lagi kamu menjelaskan, karena apapun yang akan kamu katakan tak akan pernah merubah keputusanku...
Karena yang telah berlalu sangat menyakitkan hati ku dan juga keluargaku."
Kata yang terlontar begitu saja dari mulut Hani,membuatku tersadar kembali dengan kesalahanku yang dulu.
"Maaf...tapi semua itu kulakukan karena aku...
melakukan kesalahan yang tak pernah aku lakukan dengan kesadaranku, semua terjadi begitu saja,aku dijebak Han..."
"Aku ingin kita seperti dulu,kita teruskan hubungan kita yang pernah put.."
"Kamu pikir aku mau,terus...mau kamu kemanakan istrimu hah!,dan anak itu?."
ucapan Hani yang ketus dan tak mau menatapku.
"Dia anakku dari pernikahanku dengan Laura,
disaat aku akan bersiap kerumahmu seminggu sebelum pernikahan kita,Laura menjebakku dengan memberikan obat perangsang keminuman yang dia suguhkan."
Aku bingung apa yang harus aku lakukan saat itu, ingin aku jujur padamu saat itu namun aku takut kamu kecewa dengan apa yang terjadi...aku hancur..bingung...hingga aku memutuskan untuk memilih pergi.
sebulan kemudian aku mendapatkan kabar jika Laura hamil,bahkan ia berniat untuk bunuh diri dan menggugurkan kandungannya.
Entah pikiran darimana aku tak tega dengan janin yang tak berdosa itu sehingga aku memutuskan untuk menikahi Laura, namun Sampai detik ini aku tak pernah menyentuhnya meski kami sudah menikah.
Bayangan wajah sedih dan sakit hatimu yang selalu terbayang.
Han...beri aku sempatan,aku janji hal itu tak akan terjadi lagi dan aku akan menceraikan Laura karena aku tak pernah mencintainya.
Aku tau kamu menikah karena dijodohkan orang tuamu,kembalilah padaku dan menikahlah denganku.
"Iya..aku menikah karena dijodohkan, bahkan aku tak pernah mengenalnya apalagi mencintainya, tapi itu...waktu pertama aku berapa bulan menikah dengannya."
"Dia yang dulu pernah kutolak saat perjodohan
dia yang dulu pernah tak kuanggap kehadirannya, bahkan aku yang selalu cuek dan masa bodo bahkan tak pernah peduli dengannya.
Dengan kesabarannya, kelembutannya yang selalu dia berikan padaku ,perhatian dan juga terkadang keusilannya yang selalu membuatku tanpa sadar tersenyum dengan tingkahnya dan itu memembuatku luluh,
bahkan ia tak pernah berani menyentuhku apalagi memaksaku.
Lama kelamaan dihatiku tumbuh rasa nyaman kala dia ada di sisiku,bahkan ada rasa kangen kala dia lupa mengecup kening ku sebelum ia berangkat ke pasar."
"Suamiku bukan seorang yang kaya akan harta bahkan bukan seorang yang berpendidikan, namun suamiku adalah seorang laki-laki yang bisa menjadi imam buatku,dia yang membuatku mengenalkanku dan mendekatkan diriku dengan Tuhanku
Aku mencintai suamiku tanpa tapi,menerima apa pun keadaannya, aku tak perduli dengan pekerjaannya,dan aku ingin selalu bersamanya." ia berkata sambil menangis,
dan aku bisa merasakan kalau Hani sangat mencintainya.
Aku tak menyangka jika Haniku sekarang sudah berubah,bahkan ia bisa melupakan hubungan diantara kita yang pernah terjalin.
DUH SI ANDREAN NGAREP KALAU HANI MAU BALIKAN.
HANI TUH NYAMAN DENGAN MAS BOJONYA...SABAR YACH ANDREAN
__ADS_1