Kesabaran Suamiku

Kesabaran Suamiku
31.Memberi Hak suami


__ADS_3

Aku keluar dari kamar mandi, kulihat Mas Agus masih khusyuk dalam shalat.


Aahh..sambil menunggunya aku mengecek beberapa email yang masuk.


Biasanya jika Mas Agus sholat aku akan keluar kamar,memilih untuk mengobrol dengan Ibu,entah kenapa sekarang justru aku menunggunya.


kusandarkan kepalaku di ranjang tempat tidur dan kuluruskan kedua kaki agar bisa santai,dan kubuat serilex mungkin.


"Kenapa aku jadinya seperti menunggu Mas Agus selesaikan sholatnya,


Hehe...apa aku..??,aahh kok aku jadi mikir yang aneh-aneh sih", ucapku dalam hati.


Cepat-cepat ku alihkan pikiran ku ke HP.


Sangking fokusnya aku dengan email-email yang aku lihat,aku tak sadar jika Mas Agus sudah selesai sholatnya.


Diarebahkan tubuhnya dikasur dan kepalanya berada di atas kedua pahaku.


Karena merasa ada sesuatu pergerakan diatas kasur,aku mengalihkan tatapanku,aku melihat Mas Agus merebahkan kepalanya dipangkuanku


"Mas..." hanya itu yang keluar dari mulutku.


Seketika saja jantung mulai berdisko lagi,


rasa gugup,bingung mau bicara apa.


Mas boleh kan tiduran seperti ini?, rasanya nyaman,hilang semua rasa lelah Mas setelah berdagang.


"Iii..ya.. Mas"ucapku gugup,iiihh aku kenapa sih?


Mas Agus memejamkan matanya,kutatap wajah lelah suamiku,kenapa seperti ada beban berat yang dipukul suamiku.


Apa semua ini ada hubungannya dengan diriku?.


"Kenapa wajah Mas cuma liatin aja,kalau adek mau sentuh juga gak papa,Mas malahan seneng."


Aku kira Mas Agus sudah tertidur hingga aku berani menatap wajahnya dengan intens.


Ditariknya kedua tanganku menyentuh wajahnya,aku tak menolaknya.


kuakui suamiku ini bukan pria yang tampan,bibir yang sedikit tebal,hidung tak mancung,kumis yang tipis dan ada jambang yang tipis dikanan kiri pipinya.


Permukaan wajah yang yang kasar karena tak pernah perawatan, kulit yang hitam namun terlihat bersih.


Alisnya tebal dan yang paling aku suka ada lesung pipit dikanan kiri pipinya,jika Mas Agus tersenyum terlihat manis dan tak bosan untuk dipandang.


"kheemm..kok melamun sih?" ucap Mas Agus membuyarkan semua pikiran yang ada.


Apa aku tanya saja yach, tapi apa tidak akan menyinggungnya.


Mas...boleh aku bertanya?


Boleh...memang mau tanya apa?,serius banget.


Tapi mas jawab yang jujur yach...


Apa Mas ada masalah atau suatu beban gitu?,Mas terlihat lelah seperti menyimpan sesuatu beban masalah atau...


Belum aku selesai bicara mas Agus sudah memotong omonganku.


Memangnya wajah Mas terlihat kusut ya dek,


kaya baju yang belum disetrik.


Mas Agus menatapku,aku hanya menunjukan deretan gigi ku.

__ADS_1


Dek..


iya mas


Mas mau ngomong sesuatu yang serius sebelum kita memulai hubungan yang lebih serius,Mas ingin kamu tau yang sebenarnya Mas saat ini,Setelah tau semuanya mas pasrah apa pun yang menjadi keputusan adek tentang hubungan kita.


Tanganku digenggam dengan erat sebelum Mas Agus berbicara.


Mas Agus menghembuskan nafasnya dengan berat.


Mas...sebenarnya...


Ceritain aja mas jangan ragu,Hani akan mendengarkannya.


Sebenarnya Mas bingung mau memilih apa dan mana yang terbaik Mas enggak tau dek.


Mau pilih rumah dan tanah ini,mas tidak ada penghasilan.


Kalau Mas pilih ladang,berarti Mas harus merelakan rumah dan tanah ini.


Namun yang Mas fikirkan,bukan Mas, ibu dan ayu saja yang akan keluar dari rumah ini,tapi Rudi dan keluarganya juga harus keluar dari rumahnya karena rumah Rudi masih satu sertifikat.


Kenapa mas harus memilih salah satu?


"Karena sertifikat rumah dan ladang digadaikan oleh Mas Bambang,kakaknya Mas


yang paling tua" ucap Mas Agus.


Hah kok bisa!!,terus apa ibu tau mas tentang masalah ini?


Mas Agus hanya menganggukkan kepalanya.


Dua hari yang lalu Mas bertemu dengan guragan yang menggadai sertifikat tanah dan ladang,dia memberikan Tempo satu bulan untuk bisa melunasi sisanya.


Jika tidak bisa melunasinya, Mas harus memilih salah satunya.


"Masih banyak banget dek", Lama Mas Agus terdiam bahkan ia memejamkan matanya untuk sesaat lalu berkata " dua ratus juta".


Kok banyak banget yach mas,memang digadai berapa?


450 juta dan bunganya 50 juta,dan Mas sudah membayarnya 300 juta.


Sebenarnya papa pernah menawarkan uang untuk melusainya,namun mas menolaknya.


Kenapa Mas menolaknya?


kalau cuma 200juta papa enggak akan bangkrut.


Masa iya mas sudah dikasih bidadari cantik kaya gini,masih juga nerima bantuan Papa.


Padahal Mas sempet nolak dijodohkan karena mas takut tidak bisa membahagiakan anak gadis orang atau istri Mas.


FLASHBACK ON


Siang itu ibu kedatangan tamu,ibu bilang tamu itu adalah sahabat bapak.


Surya .."Apa kabarnya Nia,sudah lama kita tidak bertemu.


Nia ..."Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat saat ini.


Surya ..."Sesuai dengan janji saya kepada alm sahabat saya,niat dan tujuan saya kemari ingin menjodohkan salah satu anak kita.


Nia ..."Saya tidak mau memaksakan kehendak saya kepada anak saya apalagi masalah jodoh.


Belum tentu juga anak mu mau dengan anakku.

__ADS_1


Surya ..."itu bisa diatur,jika anakku menolaknya biar itu jadi urusan Mama nya.


Tak lama ibu memanggilku.


Ani ..."ini anakku Agus, dia yang belum menikah sampai sekarang.


Agus ..."saya Agus om,yang dikatakan ibu benar om,belum tentu anak om mau dengan saya.saya anak laki-laki miskin yang tak punya apa-apa, dan saya takut tak bisa membahagiakan putri om.


Surya ..."Saya yakin anak saya bisa bahagia dengan kamu,yang saya cari adalah seorang suami yang bisa menjadi imam buat anak saya.


jika kamu tak keberatan, om akan bantu kamu dan memberikan modal usaha buat kamu.


Agus ...maaf om bukan saya menolak bantuan dari om dan juga bukan menolak perjodohan ini... tapi jujur saya masih belum berani untuk berumahtangga.


Surya ..." Namun om tetap ingin menjodohkan


kalian,karena om sudah janji dengan alm sahabat om yaitu ayahmu.


Mau tak mau kalian akan tetap om jodohkan.


FLASHBACH OFF


"Apa!!!,,jadi Papa yang memaksa Mas untuk menerima perjodohan itu", aku terkejut mendengar ceritanya, ternyata Papa yang memaksa Mas Agus untuk menerima perjodohan itu.


Untung aja anak gadis yang dijodohin sama Mas mau,kalau tidak mau mungkin Mas masih belum nikah sampai sekarang.


Kalau Mama sudah berkata tidak ada penolakan, sekeras apa pun Hani menolak jika Mama sudah mengeluarkan kata pamungkas,enggak akan bisa ditolak.


Memang kata pamungkas apa yang dikatakan mama?


eemm...kalau Hani tak mau menerima perjodohan ini,* lebih baik jangan anggap wanita tua ini sebagai Mama mu*itu yang Mama ucapkan.


Daripada Hani terus berdebat dengan Mama ya terpaksa Hani menerima perjodohan itu, tapi yang ngeselin tuh,Mama bikin maju semua acaranya termasuk hari pernikahannya.


"Sekarang apa keputusan adek?,apa kamu menyesal dengan perjodohan ini.sekarang terserah apa keputusanya mau melanjutkan hubungan kita atau..", belum selesai Mas Agus berkata aku meletakkan jari telunjuk ku kebibir Mas Agus dan aku menggeleng-gelengkan kepalaku, karena aku tidak mau mendengar ucapan yang akan keluar dari mulutnya.


Mas..,benar yang diucapkan Papa itu benar kalau aku memang butuh seorang laki-laki yang bisa menjadi imam,aku tak butuh harta karena aku sudah memilikinya.


Hani akan bantu mas untuk melunasi hutang nya,namun Hani harap Mas tidak menolaknya.


Tapi dek..


Gak ada tapi tapian,semua demi ibu,demi masa depan Ayu dan juga demi masa depan kita.


Hani hanya minta ke Mas, ada masalah sekecil apapun jangan pernah menutupinya,dan ini yang paling penting Mas Hani mau Mas jujur dan setia.


Hani siap jadi istri dan juga seorang Ibu untuk anak-anak Mas Agus nanti.


"Apa kamu serius dek", sekarang Mas Agus merubah posisinya dari rebahan menjadi duduk berhadapan dengan ku.


Iya Mas, kita mulai dari awal.


jadi Mas boleh minta hak nya mas sebagai suami.


Bismillah...Hani siap seutuhnya.


"sekarang boleh??",aku menjawab dengan menganggukan kepalakku.


Mas Agus mulai membelai wajahku dan menyentuh bibirku.


sentuhan lembutnya membuat nyaman dan rasanya ingin terbang.


Mas Agus ******* bibirku,terasa hangat tak terasa aku pun mendesah,tangan terus bergerilya meraba dan meremas.


untuk pertama kalinya aku memeluknya tanpa ada penghalang kain.

__ADS_1


Aahh rasanya nikmat yang tak bisa diungkapkan.


Selanjutnya terserah si Mas Agus yach, kalau dirinci bisa sampai dua bab,Hehe..


__ADS_2