
Aku tak habis pikir dengan ibu-ibu itu, bisa-bisanya dia membalikkan omongan untuk mertuaku.
Nduk.. besok-besok kalau mereka ngomong apa aja jangan ditanggapin ya,mereka itu sudah biasa,warga sini juga sudah paham.
Untung anak ibu menikahnya denganmu,Ibu seneng Agus gak jadi nikah sama Nissa.
"Ooh jadi salah satu dari mereka itu ada ibu mantannya Mas Agus yach Bu?" Ibu menjawab dengan anggukan kepala.
Aku duduk santai diteras samping rumah sambil menunggu suamiku pulang.
Aku teringat yang dikatakan Mas Agus tentang masalah hutangnya,kenapa sih dia tak mau menerima bantuan dari Papa padahal orangtuanya sudah berjasa banget bagi perusahaan Papa.
lebih baik aku wa Gibran untuk menyediakan uangnya.
Hani ..."Tolong sediakan uang 300 juta,
nanti siang gue kekantor.
Gibran ..."oke siap.
Tak lama mobil suamiku memasuki pekarangan rumah.
"Mas.." ku menyambutnya dan langsung mencium tangannya dan tak lupa Mas Agus pun mengecup keningku.
Duduk sendirian aja?,Ibu dimana?.
"Ada didalam", jawabku singkat." nanti siang Hani mau kekantor ya Mas, ada urusan."
"Mau mas antar?,siang ini gak ada kiriman kerumah makan" ucap mas Agus dengan tangan yang sedikit usil menggelitik pinggangku.
"Mas..",Dengan wajah yang tak bersalahnya,ia pura-pura bertanya" apa sih dek?",
"..Geli,nanti Hani cubit lho",
" jangan dicubit dong digigit aja pake bibir pasti enak",bisik Mas Agus ditelinga.
Tanpa sadar dibelakang kami masih ada Rudi dan Mas Satria.
"kalau mau mesra-mesraan jadi sini,bikin iri aja" ucap Rudi yang berjalan mendahului.
Kucubit pinggangnya karena tangan Mas Agus tak berhenti menggelitik pinggangku.
"Aduh dek sakit", ucapnya seketika sambil mengusap-usap pinggangnya yang kucubit.
Aku juga refleks mengusap-usap pinggangnya, tapi justru membuat Mas Agus tertawa.
"Iiihh kok tertawa sih mas,gak lucu tau...Hani kan nyubitnya juga cuma pelan masa sakit."
" Hehehe..Mas kan cuma ngerjain kamu,Duh segitu cintanya sama mas,sampai gak bisa lihat suaminya kesakitan."
"Aaahh gak lucu ah", aku melepas pelukannya dan pergi berlalu untuk membuatkan kopi kedapur.
*Rudi dan Agus*
__ADS_1
Rudi
cie..mesra banget,sampe-sampe yang berjalan dibelakang cuma jadi angin lalu.
Agus
"Kaya gak pernah aja", aku berucap sambil menepuk bahunya.
*Satria*
Kenapa Agus dan Hani tambah mesra aja yach, apa mereka sengaja?.
Andai aku yang mengenal Hani lebih dulu pasti aku yang akan menjadi suaminya,daripada si Agus yang penghasilannya pas-pasan.
Aku harus bisa mendapatkan Hani, semua wanita pasti suka dengan kemewahan.
Mumpung dia kedapur,aku akan mengikutinya.
ucapku dalam hati.
*Hani dan Satria*
"Lagi bikin apa dek?,kopinya Mas gak usah manis-manis yach, liat kamu aja kopinya sudah jadi manis," ucap mas Satria.
"Kok diam aja sih,tambah gemes dech,tambah cantik aja," ucapnya lagi namun aku sama sekali tak berniat untuk menjawab
semua ucapannya.
Karena aku tak menanggapi kata-katanya,Mas Satria emosi dan berbicara sedikit keras kepadaku.
"Apa kamu sekarang sudah menerima si Agus itu,laki-laki yang tak akan bisa membahagiakan mu,dan asal kamu tahu sebentar lagi rumah ini dan ladang beserta mobil yang biasa buat berdagang akan ikut kesita,dan dia tak akan punya apa-apa."
"Aku tidak perduli dengan semua itu, dan asal kamu tahu... aku sudah melakukan hubungan intim dengan suamiku dan aku menikmatinya.
Dan semua yang kamu bilang tentang Mas Agus impoten itu ti..dak be..nar,PUAS.
lepaskan tanganku atau aku siram air kopi ini diwajahmu." ucapku dengan nada yang sangat jengkel dan penekanan kata puas dengan nada emosi.
Kalau ngomong yang sopan,saya ini kakak iparmu.
Saya bisa sopan kalau kamu juga sopan terhadap saya dan suami saya,kamu yang buat saya tak punya rasa sopan terhadap kamu.
Lepaskan tangan saya, saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya.
Dia pun akhirnya melepaskan tanganku,dan aku langsung keluar dari dapur menuju teras samping tempat suami berkumpul.
"Lama banget sich mbak..sudah tidak sabar nih,soalnya kopi buatan mbak Hani tuh eeenaakk ba...nget." ucap Rudi,tak lama Mas Agus melempar buku nota kearah Rudi.
"Etdah hebat banget tuh yach buku bisa melayang" ucap Rudi yang cengar-cengir.
"Mau lihat sendal melayang gak,"ucap Mas Agus yang kesel dengan ucapan adiknya.
"Duh gawat mbak...baru muji mbak aja buku nota melayang plus sendal lagi,apalagi.."
__ADS_1
ucapan Rudi berhenti karena melihat tatapan tajam dari Mas Agus.
Duh sampe segitunya suamiku kalau sedang cemburu..."Hani suka,ternyata Mas bener-bener cinta...I love you" bisikku ditelinganya.
Aku pergi meninggalkan mereka..,aku pun melangkah ke ruang TV.
Daripada mendengarkan mereka,lebih baik aku menonton televisi menemani Ibu.
Tak lama Mas aku menyusul ku dan Ibu diruang kami menonton televisi.
"Assalamualaikum Bu" ucap salam Mas Agus dan mencium tangan ibunya dan memeluknya. "Ibu sehat kan?."
Ibu ..."walaikumsalam,Ibu sehat le..."
Agus ..."Apa kata mereka menyakiti hati Ibu?."
Ibu ..."Ibu sudah biasa,mereka memang begitu,tapi istrimu yang sepertinya tidak terima dengan ucapan mereka."Mas Agus berucap namun masih tetap memeluk ibunya,lalu diakhiri dengan mencium pipi Ibunya.
"Hai bidadarinya mas,apakah masih kesel dengan kata-kata mereka?" kini Mas Agus beralih berkata dan memelukku.
"Masih kesel banget sih,rasanya pingin ngulek cabe terus dilumuri kemulut mereka,biar mulutnya gak asal jeplak"ucapku lembut namun dengan sedikit nada emosi maklum yach jiwa muda meronta-ronta.
Besok-besok jangan adek ladenin yach, karena mas gak mau adek diomongin yang jelek-jelek.
"Tapi mereka itu yang..." belum selesai aku berkata Mas Agus mengecup bibirku.
"Mas..malu ada Ibu" ucapku lirih.
"Bu kita kekamar dulu" pamit Mas Agus ke Ibu.
"Kita lanjutin dikamar yuk" bisiknya,namun ketika aku akan berdiri tiba-tiba saja ia menggendong ku,"Aahh Aaguuus"teriakku karena kesal dengan ulahnya.
hatiku langsung ser-seran takut terjatuh.Aku pun langsung mengalungkan tanganku ke lehernya.
"Iya Mas gendong aja istrinya sampai kepuncak surga...,jangan lepasin."teriak Rudi dari luar.
Sampai dikamar Mas Agus tak menurunkan ku,tapi dibawanya aku kekamar mandi.
" Mas Hani sudah mandi,kenapa dibawa kekamar mandi?."
"Temenin Mas mandi"ucapnya dengan santai,aku diturun didalam bak yang sudah berisi air.
"Aahh...basah,ini mah namanya bukan nemenin tapi..."lagi-lagi belum selesai aku ngomong Mas Agus ******* bibirku dengan lembut.
Aahh..akhirnya runtuh juga rasa kesalku,yang tadinya mau protes malah jadi terbuai.
Setelah selesai dengan olahraga panas dikamar mandi,kami langsung membersihkan
diri dan akhirnya aku mandi lagi karena ulah Mas Agus yang tak ada bosannya dengan olahraga panas.
Terimakasih Yach yang sudah memberikan LIKE dan juga komentarnya.
Tanpa kalian karyaku tak berarti,tanpa dukungan kalian karyaku hanya sebuah tulisan yang tak berharga.
__ADS_1
...Jangan bosan menunggu kelanjutan ceritanya....