
Kualihkan layarku kewajah Mas Agus.
Bella ..."jahat kamu yach yang berduan,enak bener loe yang.
Mas nanti diomongin istrinya yach, kalau kerja jangan malas,kasihan temennya yang gantiin tugasnya.
Mas Agus menatapku meminta jawaban,aku yang ditatap hanya membalasnya dengan senyuman.
Indri ..."Jangan-jangan semalam kamu abis belah duren yach,yang.
Hani ..."Hah!! kok tau sih,emang bau sampe sana atau jangan-jangan kamu ngutit yach.
Indri .."loe ni dodol apa emang gak peka ,ah!!.
Hani ..."apa hubungannya dodol sama gak peka, dodol duren lebih enak tau.
Kayla ..."maksudnya tuh,loe sama suami itu apa sudah ML.
Hani ..."Gak tau,gue lupa semalem gue diapain sama suami gue."
suaraku sedikit kupelankan,karena ada anak bawah umur.
aku bicara sedikit mundur kebelakang, namun ternyata mas Agus mendengarnya.
Mas Agus pun berkata sambil berbisik"istri Mas ini ternyata mulai nakal yach."
dan aku pun hanya menunjukan deretan gigi.
HANIII..!!,teriak mereka bertiga.
Hani ..."hehe.. maaf gue lupa ingatan kalau disamping mas bojoku.
"Kalian bertiga kenapa kumpul disini??", kudengar suara yang tegas menegur mereka.
Kayla ..." yang..suami gue kalau dikantor galak banget,apalagi loe enggak masuk.
Daridulu sampe sekarang enggak pernah berubah tuh galaknya kalau dikantor,tapi gue kok cinta banget yach ama dia.
"Kembali keruangan masing-masing dua jam lagi rapat ,siapkan semua laporannya."
ucap Gibran yang selalu disiplin masalah pekerjaan.
Akhirnya hubungan telpon pun terputus tanpa ada yang permisi.
Aku tersenyum dengan ketegasan Gibran, walaupun kami semua bersahabat namun untuk urusan pekerjaan Gibran selalu tegas dan disiplin.
Ikut mas dek,tanganku ditarik mas Agus untuk masuk kedalam rumah.
Mas mau makan atau mau mandi dulu?
Mas mau makan dulu dek,mas laper abis itu mandi teruuuss...
Terus apa Mas?
"Makan kamu boleh enggak." bisik mas Agus dengan tangan yang sudah melingkar dipanggang.
"Emang Hani bisa dimakan?," aku pura-pura tidak paham dengan maksud perkataan Mas Agus.
Bukannya menjawab Mas Agus mengangkat tubuhku,aku yang terkejut langsung berteriak.
"Aahhh...Mas turunin,Hani nanti bisa jatuh."
__ADS_1
Mas Agus tak menggubris ucapanku,justru dia berkata"pegangan kalau takut jatuh."
Akhirnya aku pun menuruti apa yang dikatakan Mas Agus.
Aku mengalungkan kedua tangan ku dilehernya.
"Lho nduk Hani kenapa Gus,kok kamu bopong begitu." ucap ibu yang terlihat khawatir.
"Ndak papa Bu,tadi kaki Hani kepentok pinggiran pintu,agak ngilu sedikit katanya."
His kok Mas Agus berbohong sih,kan kasian ibu jadi cemas. ucapku dalam hati.
Sudah sampai tempat yang biasa buat makan Mas Agus menurunkan ku.
Kucubit pinggang Mas Agus karena aku gemes sudah buat ibunya khawatir.
"Sini nduk biar ibu kompres kakinya,biar nanti Ndak bengkak." Ibu mendatangiku dengan membawa air hangat dan handuk kecil.
Aku pun menatap kearah mas Agus, meminta tanggungjawabnya yang sudah membuat Ibu seperti itu.
"Sini Bu biar Agus saja yang mengompres kaki nduk Hani." ucap Mas Agus dan langsung mengambil baskom yang berisi air hangat.
Dengan telaten Mas Agus mengompres kakiku,namun Ibu tiba-tiba bertanya"yang kepentok kaki kanan apa yang kiri?."
"Yang kanan Bu."
"Yang kiri Bu", jawabanku dan Mas Agus berbeda dan itu membuat Ibu tersenyum lalu berkata" lanjutkan le".
Mungkin ibu bertanya karena aku memegang kakiku bagian kiri sedangkan Mas Agus mengompres kakiku yang kanan.
Aku dan Mas Agus tersenyum malu mendengar ucapan Ibu.
Setelah Ibu pergi dari dapur,aku mencubit kembali perut Mas Agus.
Mas sih...malukan ditertawakan Ibu,kelihatan bener bohongnnya.
Jangan marah dong...ntar Mas gendong lagi lho,nanti mas gendongnya sampai kekamar.
sudah ah makan dulu,Hani juga lapar belum makan.
Aku pun menyiapkan makanan yang aku masak,aku mengambil piring untuk menuangkan nasi beserta lauk Pauknya.
Kulihat wajah yang bahagia dari Mas Agus.
Tiba-tiba saja ia berdiri dan memelukku dari belakang dan berkata "terimakasih istri Sholehah ku,semoga ini semua adalah nyata,namun jika ini adalah mimpi..Mas tidak ingin terbangun karena saat-saat seperti ini yang Mas harapkan."
Pelukkan Mas Agus semakin erat,ku pegang kedua tangan Mas Agus yang sedang memelukku dengan kedua tangan ku.
Aku merasakan tanganku basah,aku mendongakan kepalaku...ternyata Mas Agus menangis tanpa mengeluarkan suara.
Dikecup kepalaku dari belakang dan dibelainya dengan lembut.
Mas...
Biarkan Mas seperti ini dulu dek.
Aku pun tak bisa apa-apa, aku hanya bisa mengusap-usap tangannya.
Maafkan Hani yach Mas, seharusnya kita bisa seperti ini dari dulu.
Hani sudah egois dan lama untuk bisa menerima diri Mas Agus.
__ADS_1
Pelukkan terlepas dan sekarang Mas Agus bersimpuh di depanku dengan menggenggam kedua tanganku.
"Apa adek sekarang sudah mau menerima Mas?, menjadi milik Mas seutuhnya?."
Dua pertanyaan yang dilontarkan Mas Agus hanya kujawab Dengan mengangguk-anggukan kepalaku dengan senyuman yang paling tulus.
Tiba-tiba mas Agus menciumi seluruh wajah sambil berkata"Alhamdulillah dek,terimakasih..terimakasih."
Iihh sudah lho Mas, kapan mau makannya Hani sudah laper nich.
Mas Agus berhenti dari aksi menciumi wajahku,padahal sih aku ngarep banget dicium dibibir yang biasa Mas Agus lakukan sebelum berangkat ke pasar.
"Iya dek,Mas bahagia banget,seneng dengernya." ucapnya Mas Agus yang kemudian mencium kedua tanganku.
Mas Agus duduk ditempatnya semula,kami pun mulai makan tanpa ada obrolan.
Senyuman tak lepas dari bibirnya.
Setelah selesai makan, Mas Agus membantuku membereskan meja makan dan mencuci piring yang tadi kami gunakan,dengan lihainya Mas Agus mencuci piringnya.
Setelah selesai dengan urusan dapur,aku dan Mas Agus menuju kamar kami.
Mas mau mandi,mau ikut gak dek?
ucap mas Agus dengan mata dikedip-kedipkan.
Hah..
Aku yang sedang asyik menatap Hpku terkejut dengan ucapan mesumnya.
Apaan sih mas,mau mandi,mandi aja sana,
terus itu mata kenapa?,kelilipan?.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkahnya.
Mas Agus pun masuk kekamar mandi melakukan ritual bersih-bersihnya,tak lama pintu kamar mandi terbuka,Mas Agus keluar hanya melilitkan handuk dari perut sampai lutut saja.
"Aahh...Mas, kok gak pake bajunya sih", bukannya menjawab Mas Agus justru mendekati ku.
Aku terkejut karena pergelangan tangan ku disentuhnya dan diletakkan tangan didadanya.
"Mas..."ucap lirih.
"Duh...kok jantungku senam erobik yach, aduh apa mas Agus mau meminta haknya pagi ini.
kuat Hani kuat,tahan Jangan sampai mas Agus tau kalau jantungku kaya lagi disko", moga-moga dia gak denger jedak-jeduk jantungku.
Mas Agus duduk disampingku dan itu...
sumpah buat aku jadi salah tingkah,tiba-tiba gugup,..aaa...apa aku jatuh cinta pada suamiku sendiri.
Selama aku pacaran dulu dengan Andrian, aku tak pernah merasakan getaran seperti ini.
Aku hanya merasa bahagia jika berdua dengannya,bahkan saat aku bergandengan tangan pun aku hanya merasakan biasa saja.
Eet..bukannya aku sudah biasa mencium tangannya,tapi kok sekarang terasa berbeda yach.
Dek..dek..
Iii..ya mas,kenapa?
__ADS_1
Seharusnya tuh Mas yang tanya kamu kenapa?,kok melamun.
Aku menarik tanganku dari tangannya kemudian aku masuk kekamar mandi untuk menghilangkan rasa gugup ku.