
Setelah selesai berolahraga panas,aku membersihkan diriku terlebih dahulu,namun Mas Agus keluar dari kamar mandi terlebih dahulu.
kurebahkan tubuhku diatas kasur,kutatap suami yang khusyuk sholatnya,dia melanjutkan dengan mengaji,rasa tenang dan nyaman mendengarkan lantunan suaranya.
"Mas...", Mas Agus mendekati ku setelah membereskan perlengkapan sholatnya.
"Iya dek,masih pingin?," ucapan yang santai namun sempat membuatku tersipu malu.
"Apaan sih mas ini, pikirannya hanya kesitu aja."
"Tapi adek mau kan?," ia berkata sambil mencolek daguku.
"Hani mau ngomong serius"
"Mau ngomong apa?,jangan serius-serius ah Mas jadi deg-degan."
"Hani mau...belajar bacaan sholat dan belajar mengaji mas," ucapku ragu-ragu.
"Masyaallah bidadarinya Mas mau belajar mengaji,Mas seneng dengernya,mau mulai kapan?."
Terserah Mas, kapan Mas sempetnya,tapi nanti jangan menertawakan Hani ya Mas karena Hani belum bisa mengaji.
Kapan terakhir adek belajar mengaji?
"Kelas tiga sekolah dasar hehe." ucapku sambil nyengir.
"Kita mulai nanti malam aja ya dek,lebih cepat lebih baik,oke dek?"
Oke Pak ustadz.
Tadi Mas Mas Sat bicara apa dek?
kok Mas tau,kalau Mas Sat ngikutin Hani tadi.
"Iya tau makanya Mas tanya," ucapnya sambil mencubit hidungku.
Ya..biasa Mas, dia masih penasaran, kalau tadi dia tidak mau menyingkir dari hadapan Hani, mungkin air kopi itu sudah Hani siramkan kewajahnya.
"Galak banget sih," ucapnya sambil menggelitik pinggangku, aku yang tak tahan dengan gelitikannya dan langsung tertawa.
"Mas jangan gelitikkin Hani... geli Mas," uacapku.
"Mas ampun...sudah," Mas Agus berhenti lalu memelukku.
"Emang diapain kok minta ampun,emang Mas
ngelakuin kdrt," masih dengan posisi memeluk.
Sini gantian,Mas yang aku klitikin bisa tahan enggak,kalau Mas bisa tahan nanti malam jatahnya tambah satu ronde,tapi kalau Mas tertawa hukumannya..."jatahnya cukup satu ronde aja,gimana..?berani gak?,"bisikku.
"Hayo siapa takut," ucap mas Agus karena yang aku tahu Mas Agus pun juga tidak bisa menahan rasa geli.
Aku pun mulai menggelitik pinggangnya,kulihat wajahnya yang menahan tawa.
"Jangan ditahan Mas... kalau mau tertawa ya tertawa aja,awas ya kalau diatas ditahan yang bawah keluar,perjanjiannya batal," Mas Agus hanya menganggukkan kepalanya.
"Iiihh Kok gak ketawa-ketawa sih," ucapku dalam hati sambil terus menggelitik pinggangnya,namun tiba-tiba ada suara dari bawah "ttruuuttt", nyaring bunyinya.
"Hah...," aku terkesima dengan suara bunyinya,kemudian aku tertawa lepas.
Hahahaha...sudah Hani bilang jangan ditahan tawanya,jadikan yang bagian bawah yang tertawa hahahaha.
"Yang penting kan bukan Mas yang tertawa,jadi Mas yang menang...iya kan,"
ucap Mas Agus dengan senyam senyum.
"Iih mana ada" ucapku singkat karena masih tertawa karena tingkah Mas Agus.
__ADS_1
"Yang tertawa kan adek, bukannya Mas kan," ucap Mas Agus memelukku dari belakang dan jatuhkan tubuh kami diatas kasur dengan berkata"seneng bener bisa mengetawain suaminya."dengan menduselkan kepalanya di leherku.
"Sekarang hayo ngomong kalau Mas yang menang atau mas gak akan ngelepasin adek,"
ucapnya dengan menduselkan kepalanya ke leherku.
"Sudah Mas geli," bukanya berhenti Mas Agus malah menciumi leherku.
"Aaaaghhh," bukannya menolaknya aku mendesah, sentuhan seperti ini yang aku sukai,dan membuat aku selalu terbuai.
Mas Agus paling bisa membangkitkan gairah seksual ku.
Tok..tok..tok.
Le...ada pakde Tio.
"Mas..itu Ibu manggil" aku menghentikan gerakan tangan nakalnya.
"Iya Bu", sahut Mas Agus.
Kami pun buru-buru merapikan pakaian,dan juga rambut Mas Agus yang acak-acakan.
Kami pun keluar dari kamar.
"Apa kabarnya bude,pakde," Sapa Mas Agus sambil mencium tangannya dan aku pun mengikuti apa yang Mas Agus lakukan.
"Alhamdulillah Pakde sama bude sehat,"
ucap mereka.
"Hani permisi mau buat minuman," aku berlalu kedapur.
Setelah minuman yang kubuat selesai, aku pun keluar membawa nampan yang berisi coklat hangat dan cemilannya.
"Silahkan di minum," setelah ku letakkan minuman dan cemilan diatas meja.
"Walaikumsalam," ucap kami serempak.
Mereka pun melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Mas Agus.
"wiiih coklat panas...enak nih," ucap Rudi
"iya nih...rasanya enak banget,pinter nduk Hani buatnya.
Pakde merasa heran dengan tingkahnya Rudi,
yang tangannya seperti mau menangkap sesuatu.."tanganmu kenapa Rud?."
"Takut ada yang melayang Pakde, jadi saya siap-siap buat nangkap." ucap Rudi membuat Pakde Tio berkerut dahinya.
"Pakde tadi ngomong apa tentang minuman yang Pakde minum?."
"Enak..nduk hani pinter buatnya," jawaban Pakde.
"Nah itu.." ucapnya sambil memukul meja,hingga kami kaget karena ulahnya Rudi.
Spontan Mas Agus melempar bantal kursi yang sejak tadi dipegangnya.
"Ini..ini Pakde," menunjukkan bantal kursi yang ditangkapnya.
"Maksudnya apa?," tanya Pakde kembali.
"Ada yang bucin Pakde,kalau muji istrinya nanti ada yang melayang,tadi pagi nota buku melayang kearahku Untung saja saya langsung menangkapnya kalau tidak lemparannya pasti kena jidat," penjelasan dari Rudi.
Pakde dan bude langsung menatap kearah Mas Agus,lalu tersenyum.
"Ya wajar toh jika mamas mu itu bucin,lah wong bojone uuwayu lan pinter gawe minuman,Iyo gak Gus."
__ADS_1
{ya wajar ya jika mamas mu itu bucin,lah orang istrinya cantik dan pintar buat minuman,iya gak Gus.}
Ucap bude dengan menatapku dan tersenyum,aku pun hanya membalasnya dengan senyuman,padahal aku sendiri tidak tau arti dari ucapan bude.
Oh ya Mbak,Gus,nduk Hani, sekalian juga Rudi sama Ajeng..
pakde sama bude kesini mau ada keperluan, Vidia mau lamaran Minggu depan.
Pakde sama bude harap kalian bisa datang kerumah.
"Insyaallah...Pakde,semoga gak ada halangan
kami semua bisa kerumah Pakde," ucap Mas mewakili keluarganya.
"Nanti nduk Hani rewang tempat bude ya...kumpul-kumpul sama keluarga juga biar kenal sama tetangga," ucap bude ke aku.
Aku melirik kearah Mas Agus minta penjelasan.
"Kenapa bingung?" yang kulirik malah bertanya balik.
"Hehe..iya,rewang itu apa?," ucapku dengan agak ragu-ragu
"Rewang itu bantu-bantu masak,bantu-bantu apa aja yang bisa dikerjakan,"Mas Agus menjelaskan apa yang tadi aku tanyakan.
"Iya bude insyaallah," aku menjawab setelah tau artinya.
"Apa nanti mereka akan datang dek Tio," ucap ibu yang terlihat ragu untuk menanyakannya.
Mungkin tidak mbak,nanti pas acara pernikahan saja Tio akan memberikan kabar kepada mereka.
Oh iya Gus masalah mu dengan juragan tanah itu bagaimana?,Pakde dengar-dengar kalau dia tidak mau melepaskan rumah ini dan ladang,dia ingin kamu harus memilih sertifikat tanah atau menikahkan Ayu dengan anaknya.
Eemm...Agus bingung pakde,perjanjian semula tidak begitu,sekarang dia seenaknya berubah kesepakatan.
Mas...Rudi dan keluarga tidak apa-apa kalau harus pindah,Rudi gak rela kalau Ayu dinikahkan dengan anak juragan Karta yang gak normal itu.
lebih baik kehilangan semuanya daripada harus mengorbankan kebahagian adikku sendiri.
Mas Agus hanya diam,entah apa yang dipikirkannya,aku pun mendengarkan apa yang dikatakan Rudi.
"Le..Ibu juga lebih baik kehilangan semuanya daripada harus melihat adikmu sedih," kini ibu sudah mengeluarkan pendapatnya.
Mas Agus melirik kearahku dengan tatapan sendu.
Mas...apapun keadaan Mas Agus, Hani enggak akan pernah ninggalin Mas.
Tapi Hani mohon Mas mau menerima bantuan Hani ataupun Papa,demi kita semua.
Tapi dek..itu jumlahnya besar banget,buat nyimpen satu tahun aja Mas enggak mampu,
Mas takut itu akan jadi beban buat kamu.
Insyaallah enggak Mas, Hani ada sedikit tabungan dan sisanya nanti Hani pinjam uang keperusahaan.
Gimana Mas?...mau yach?,demi kita semua terutama Ayu yang masa depannya masih panjang.
Walaupun terlihat ragu-ragu Mas Agus akhirnya menganggukan Kepalanya bertanda ia setuju dengan pendapat ku.
Aku senang dengan keputusannya,aku pun spontan memeluknya dan mencium pipinya,dan aku berkata
"Terimakasih...sudah mengambil keputusan yang terbaik buat keluarga."
"Cie..cie mbak Hani, nambah nemplok tuh dia,
jadi iri...
Sini yang Mas pingin dipeluk..", ucap Rudi kepada istrinya.
__ADS_1