
Dek...,mas mau tanya,tapi kamu jawab yang jujur yach,dek!
Tanya apa sih mas?
kamu sebenarnya nyaman enggak sih dek tinggal dirumahnya mas?
Dan apa kamu merasa tak nyaman dengan hubungan kita atau menjadi beban buat adek?.
Ngomong apain sih,kok pertanyaan seperti itu,apa selama Hani tinggal dirumah orang tuanya mas,mas pernah melihat Hani menangis ataupun marah-marah yang tidak jelas.
Hani mencoba untuk bisa beradaptasi dengan keluarga dan lingkungan sekitar.
Dan termasuk..."Mas".ku ucapkan sangat lirih,terdengar atau tidak dengan Mas Agus.
"Termasuk siapa dek..??,Mas kurang denger tadi."
ucap Mas Agus yang menatapku secara serius sambil menggerakkan alisnya.
Aku yang dipandang begitu jadi salah tingkah.
"Ya sudah kalau Mas enggak denger,tidak ada pengulangan kata." kualihkan pandanganku dengan melipat kedua tanganku diatas dada.
Gemesin banget kalau muka adek kaya gitu,bikin mas pingin aja.
Aku mata melotot mendengar ucapan Mas Agus yang sedikit aneh,bukannya marah justru Mas Agus malahan tertawa.
Apa sih Mas, gak lucu tau.
aku hendak berdiri namun tanganku dikecal mas Agus dan menyuruhku untuk duduk kembali.
Iya..iya ,mas minta maaf,adek itu gak pantes kaya gitu.
Mukanya lucu nambah gemesin,Mas kan enggak pernah liat adek galak kaya tadi.
Mas Agus meraih tanganku,menggenggam tanganku dengan kedua tangannya.
Mas ucapin terimakasih karena adek mau menerima keadaan Mas dan keluarga Mas, Mas harap kita bisa menjalani hubungan ini jadi lebih baik.
Kalau ada sesuatu yang ingin adek tau atau pun ingin bertanya mengenai diri Mas dan keluarga Mas.
Adek bisa tanya langsung ke Mas atau pun Ibu.
"Iya Mas..," hening tak ada lagi pembicaraan.
Mas...
hemmm,
Mas..serius mau nginep disini?
pertanyaan ku hanya dijawab dengan anggukan kepala.
Yaudah kalau memang malam ini mas mau nginap disini,berarti aku bisa istirahat cepat.
Kalau kamu lelah istirahat aja duluan,Mas masih belum mengantuk.
aku tersenyum untuk menanggapi ucapan Mas Agus, aku pun langsung berdiri menuju ketempat pembaringan.
Kurebahkan tubuh diatas kasurku yang empuk,kupenjamkan mataku agar bisa terlelap.
***""***
Hari berganti minggu,Minggu berganti bulan.
Tak terasa kehidupan rumah tangga ku sudah memasuki dua bulan lamanya.
Kini aku mulai terbiasa dengan kehidupan ku rumah tanggaku,aku coba untuk ikhlas menjalani takdir hidupku.
__ADS_1
Secara perlahan aku mulai bisa menerima diri mas Agus sebagai suamiku dan kecupan di kening menjadi candu buatku sebelum tidur.
Aku mulai membuka hatiku,belajar menjadi seorang istri dan sekarang aku mulai bisa merasakan setiap sentuhan lembutnya.
Dan aku mulai tak merasa canggung dengan setiap sentuhannya,bahkan aku mulai berani untuk memberikan perhatian yang lebih untuk mas Agus terutama didepan Mas Satria.
Aku ingin membuktikan apa yang dikatakan Mas Satria tentang mas Agus itu tidak benar.
(aaahhh siap tidak siap aku harus bisa memberikan haknya mas Agus atas diriku sepenuhnya).
Hari ini aku hanya ingin dirumah saja, membuat cemilan buat teman bersantai.
Ini hari pertama aku menyambut suamiku pulang,"Semoga apa yang aku lakukan ini tidak terlambat."
Kudengar suara mobil berhenti didepan rumah,aku pun buru keluar dari dapur untuk menyambutnya.
Assalamualaikum...
"walaikumsalam mas...," kuraih tangannya lalu kucium punggung tangannya,dan tak lupa Mas Agus mencium keningku namun dengan wajah sedikit heran.
Kenapa Mas?,apa ada yang salah?.
ucapku sambil memeluk lengan Mas Agus.
"Kamu gak lagi sakit kan dek?."
Mas Agus menempelkan tangannya didahiku.
(huh, dasar suami yang aneh,giliran aku begini dia tanya aku lagi sakit gak
,,,iihh dasar)
Aku sehat kok,kenapa gak suka aku nyambut Mas pulang?.
"Alhamdulillah banget,bidadarinya mas mau nyambut Mas pulang, jadi gemes deh."
kualihkan tangan Mas kepundakku dan tanganku memeluk pinggangnya.
"Mas seneng banget kamu seperti ini dek,
Semoga ini tulus dari hati mu."
bisik Mas Agus di telingaku.
Aku membalasnya dengan senyuman.
"Aku buatkan kopi dulu ya mas." ucapku sambil berlalu menuju kearah dapur.
Ketika sampai didapur aku dikejutkan dengan keradaan mas Satria.
"Kamu yakin mau menjalani hubungan pernikahanmu yang lebih serius,apa kamu tidak menyesal nanti." ucap mas Satria sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
Ya...yang seperti mas lihat tadi,aku sudah menyerahkan apa yang menjadi haknya mas Agus sebagai suami.
Dan yang Mas Sat katakan tentang Mas Agus itu adalah tidak benar.
"Aku tidak yakin kamu sudah melakukan hubungan badan dengan suamimu itu,nyatanya jalannya masih biasa-biasa aja." ucap Mas Sat dengan memicingkan matanya,matanya fokus melirik kebagian organ intim ku.
Ya terserah..mau percaya atau tidak,karena bagiku itu tidak penting.
ucapku sambil berlalu membawa nampan yang berisi kopi dan kue bolu untuk cemilannya.
"Ini kopinya..." kutaruh satu persatu kopi yang sudah kubuat bersama cemilannya.
"Wihh..ada cemilannya nih," Rudi berkata dan mengambil cemilannya dan langsung dimakan.
"Enak lho Mas,cobain deh kaya kue bolu yang sering kita makan di cafe cantik manis itu,rasanya sama hanya topingnya aja yang beda." ucap Rudi yang begitu semangatnya.
__ADS_1
"Emang kamu dan Mas Agus sering ngopi atau makan disana?." ucapku pura-pura tidak tau.
ternyata Rudi pintar mengenali rasa kue yang sering diberikan oleh karyawan dicafeku.
Semoga ini tidak membuat Mas Agus curiga.
Hehehe enggak sih mbak,cuma kadang-kadang kita dibuat kopi sama dikasih cemilan dan rasa sama mbak.
Ibu dan istrinya Rudi ikut duduk dan mengobrol bersama.
Aku sengaja duduk didekat Mas Agus.
"Bude..bude kuenya enak,reva boleh minta lagi enggak." ucap anaknya Rudi adiknya Mas Agus.
Hah aku dipanggil bude..masih asing ditelingaku.
Boleh sayang,ambil aja...masih ada kok didapur.
Kulihat wajah Mas Satria yang kurang bersahabat, diam-diam dia melirik kearahku meski dia sedang berbicara dengan Mas Agus atau pun Ibu.
Aku tak memperdulikannya, aku asyik mendengarkan cerita dari Reva yang baru masuk Paud.
Drreet..drreet...
Nada panggilan dari gawaiku tak kuperdulikan,bahkan berulang kali berbunyi.
"Dek...diangkat aja,siapa tau penting."
akhirnya Mas Agus angkat bicara,karena HP ku berdering terus.
Hani ....."Hallo.."
Kayla ...."Haaanniii,kenapa digue nelpon enggak diangkat-angkat.
Bella ...."loe ngapa gak berangkat."
Indri ...."loe yach,kenapa tugas-tugas kita banyak banget,tega banget loe yang.
Kujauhkan gawaiku,teriakan mereka membuat kupingku sakit,aku hanya bisa menahan tawaku mendengar keluhan mereka.
Hani ..."usttt,jangan teriak-teriak kenapa,pecah nanti daun telingaku.
Gue tuh sudah izin sama Gibran, kalau gue enggak kekantor hari ini.
Gue pingin nyantai,bosen liat lembaran kertas-kertas terus.
Bella ..."sekarang loe lagi ngapain, berduan didalam kamar sama ayang beb.
Hani ...."Biasa aja kali raut mukanya,jangan dibikin masam gitu,enggak ngaruh.
Kualih ke layar Vidio agar mereka tau aku sedang apa,yang pertama aku tunjukkan adalah cemilan yang aku buat.
Kayla ..."aahh...mau yang,kok toping cuma keju sama coklat sih,enggak ada buah diatsnya.
Hani ..."mangkanya kesini yang kalau mau,jam istirahat kerumah tapi dengan syarat pekerjaannya harus selesai.
kualihkan layarku ke wajah Mas Agus.
Bella ..."jahat kamu yang berduan,enak benar loe yang.
Mas nanti omongin istrinya yach, kalau kerja jangan males,kasihan temannya yang gantiin tugasnya.
SUDAH SAMPAI
DISINI DULU YACH
TERIMAKASIH
__ADS_1