Kesombongan Seorang Mantan

Kesombongan Seorang Mantan
episode 1


__ADS_3

"jangan bawa apapun dari rumah ini"


Kaki yang sudah hampir menginjak tanah harus kutarik kembali setelah mendengar seorang berteriak di belakangku.


Aku menoleh. Wajah marah ibu mertua terpampang dia disana. Ia mendekatiku, merebut tas besar berisikan pakaian ku dan seila.


"Itu bajuku, Bu".


"Tapi ini dibeli menggunakan uang Nathan. Aku tidak rida, kamu membawa barang yang di beli oleh uang putraku!" sergahnya seraya merebut boneka yang tengah dipeluk seila.


Putri ku terhuyung, ia jatuh tersungkur karena kasarnya tarikan tangan ibu mertua. Aku langsung mengambil tubuh mungil putriku yang masih berusia 4 tahun itu.


Seila menangis, ia menginginkan boneka kesayangannya kembali. Namun, ibu mertua menutup mata. Ia sama sekali tidak tersentuh dengan rengekan cucunya yang meronta ingin mengambil barang miliknya. Hatinya mati karena rasa benci. Amarah sudah menutupi rasa kasih yang harusnya dia berikan kepada anakku.


"Nenek, Nenek" rengek seila berusaha menjangkau boneka yang kini sudah berada di tangan ibu mertua. Namun, ia abai. Ibu mertua malah menyembunyikan benda itu di balik tubuhnya.


Aku menggendong seila , menenangkan dia meskipun tidak bisa. Barang yang di ambil ibu mertua adalah boneka kesayangan seila. Hadiah ulang tahun dari ku waktu dia berusia 3 tahun.


Tidur, makan, main, benda itu tidak pernah ketinggalan. Sekarang, dia terpaksa harus merelakan boneka kesayangannya itu diambil oleh neneknya sendiri.


"Bu, ibu boleh melarangku untuk tidak membawa apapun, tapi tolong ambil boneka seila juga. Kasihan bu, nanti dia tidak bisa tidur," ucapku mengiba.


Ibu malah mendelikkan mata, bibirnya mencebik seolah olah meledekku. "Tinggal beli saja yang baru, apa susahnya sih? oh iya, kan kamu tidak punya uang ya" sebelah tangan nya menutup mulut menertawakanku.


"Makanya jadi wanita jangan belagu! tinggal turuti maunya suami, kok ini malah memilih pergi. Yasudah, nikmati kemiskinanmu itu!" lanjutnya seraya pergi meninggalkanku.


Tangis seila semakin kencang tak kala ia melihat neneknya membawa barang kesayangannya pergi. Kucium kepalanya mencoba untuk menenangkan. Namun, ia terus meronta memintaku untuk menurunkan tubuh mungilnya.


Sedangkan wanita itu, ia abai. Ibu mertua menulikan telinga enggan mendengar jerit tangis anakku.


"Sabar ya nak, nanti mama belikan yang baru ya," ujarku menepuk-nepuk punggung anakku pelan. Dengan hati yang perih dan diiringi tangis seila, aku keluar dari rumah yang selama 6 tahun telah aku tempati.

__ADS_1


Membangun rumah tangga yang bahagia, namun akhirnya berakhir duka. Aku harus kalah oleh wanita yang lebih berkasta. Seorang anak manager dimana tempat suamiku bekerja.


Tidak, aku tidak kalah. Namun, aku mengalah untuk bisa terbebas dari lingkungan yang tidak sehat untuk jiwaku. Berada disini, kewarasanku benar-benar dipertaruhkan. Aku harus bekerja untuk mendapatkan uang, juga harus bekerja dirumah menjadi pelayan mereka.


Awalnya aku ikhlas untuk sebuah pengabdian sebagai seorang menantu. Namun, rasanya pengabdianku terbuang sia-sia setelah mas Nathan suami ku memutuskan untuk menikah lagi.


Sudah cukup ragaku yang lelah, tidak dengan hati dan pikiranku yang akan menjadi korbannya. Aku enggan untuk diduakan.


"Mau pergi sekarang?"


Aku mengangkat kepala, melihat pada suara yang dulu sangat aku rindukan. Seorang pria turun dari mobil dengan menebar senyuman.


Ah, rasanya sekarang senyuman itu amat mematikan. Membunuh rasa yang dulu begitu menggebu, menjadi butiran debu.


"Iya," jawabku singkat.


"Oke, hati-hati dijalan. Salam untuk mantan mertua. Bilang pada mereka, aku tidak bisa mengantarmu karena ada acara dirumah mertua baruku yang tentunya lebih penting dan lebih berharga".


Kembali aku melangkah hendak melewati mas Nathan, tapi putriku menarik kemeja ayahnya hingga langkahku terhenti seketika.


"Yayah,,," panggil seila berharap yang dipanggil akan menggendongnya.


Hati kembali teriris mas Nathan menghenyakkan tangan seila dengan kasar.


Ia mengusap kemeja yang baru saja dipegang putrinya.


"Duh,, jangan ditarik nanti kotor," ucapnya lebih peduli pada pakaian.


"Sombong sekali kamu mas, kamu lebih peduli sebuah kain daripada darah dagingmu?" kataku penuh penekanan.


Kepala kugelengkan melihat tingkah dia yang semakin hari semakin arogan.

__ADS_1


"Ini baju mahal yang dibelikan Emira. Bagaimana mungkin aku membandingkannya dengan anakmu yang tidak kuharapkan kehadirannya?".


"Mas!"


"Sudahlah, jangan berdrama lagi. Cepat pergi dan jangan minta apapun dariku. Apalagi untuk urusan anak itu. Aku tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun untuk dia," ujar mas Nathan menunjukkan wajah seila.


Aku mundur satu langkah, menjauhkan diri dari jangkauan pria tak punya hati itu.


Gemuruh didada sudah semakin membara.


Namun, aku bersikap tenang menyembunyikan kepedihan yang ia tanam sedari dulu.


Hatiku sudah kebal untuk kata-kata kasar dari bibirnya.


"Tenang saja, Mas. Aku tidak akan menghubungimu untuk meminta uang. Jangankan untuk meminta biaya, seila sakit, sehat bahkan matipun, tidak akan aku memberitahumu!", ucapku dengan mengeratkan gigi.


Mas Nathan mengedikkan bahu, kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.


Aku pandangi punggung itu, kutatap rumah yang sudah menjadi saksi derita seorang wanita dalam mempertahankan kedudukannya sebagai seorang istri. Namun, harus berakhir karena takdir akan membawanya pada kisah lain.


Saat hendak pergi, sebuah ide tiba-tiba muncul untuk memberikan salam perpisahan.


Aku menurunkan tubuh seila, menghampiri mobil mas Nathan yang juga diberikan Emira istri barunya.


"Mama sedang apa?"


"Ssttt,,," aku menempelkan telunjuk di bibir. Seila mengerti. Ia diam saja sampai aku berhasil membuang angin di keempat ban mobil mas Nathan hingga kempes.


Setelah selesai, aku segera berlari seraya menggendong seila keluar dari pagar rumah.


"Jalan," ucapku setelah memasuki mobil yang sedari tadi sudah menunggu.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2