Kesombongan Seorang Mantan

Kesombongan Seorang Mantan
episode 22


__ADS_3

Mama mulai melajukan mobil meninggalkan Beauty Salon. Aku melirik sekilas ke sana, pada wanita yang merengut sedih tidak bisa pulang.


Seandainya saja posisi ibu bukan berada di salon, jika dia berada di pasar dengan belanjaan sayur, mungkin aku akan membantu.


Tapi, melihat gaya ibu yang semakin meninggi, hatiku tidak meridhoi membantu nya.


Apakah hatiku sudah diliputi oleh rasa benci?


Iya, aku membenci mereka yang sudah merendahkan diri ku. Menganggapku hanya wanita miskin yang tak pantas di beri kasih sayang.


Huft! Membayangkan masa lalu, membuat luka hatiku kembali berdenyut nyeri.


"Kenapa, Al?"


Aku menoleh ke arah Mama, lalu menggelengkan kepala.


"Ingat pada mertuamu?" tanya Mama lagi.


"Mantan, Mah. Dia sudah jadi mantan mertua."


"Tidak ada mantan antara ibu dan anak. Meskipun, tali pernikahan sudah putus."


"Alira tahu, tapi jangan paksa Alira untuk tidak membenci dia dan anaknya. Kebencian Alira bukan tanpa alasan. Dan Mama pun tahu itu."


"Ya tentu. Mama tahu dan merasakan apa yang kamu rasakan. Sekarang, Mama membiarkan kamu mengeluarkan isi hatimu kepada mereka. Tapi... jangan keterusan. Tidak baik menyimpan dendam terlalu dalam. Ada masanya kamu harus bangkit untuk kebahagiaan kamu sendiri. Ingat, ada Seila si putri cantik yang harus kamu bahagiakan."


Sejuk. Aku merasakan hatiku lebih tenang dan damai mendengarkan ucapan Mama.


Harus aku akui, saat ini tujuanku hanya untuk menunjukkan siapa diriku sebenarnya.

__ADS_1


Membuat mereka menyesal, karena pernah menyia-nyiakan aku dan Seila.


Dua puluh menit berlalu, kini aku sudah kembali ke rumah. Mobil Papa belum ada di halaman, tapi ada mobil hitam yang tak asing bagiku.


"Papa belum pulang bi?" tanya ku pada bi Ijah.


"Belum, Neng geulis. Tapi Neng Seila sudah pulang tadi sama Adi. Tuh, sedang bermain di sana."


Aku mengikuti mata bi Ijah. Ternyata benar jika Seila tengah duduk bersila di atas hamparan rumput yang berada di samping rumah.


Aku pun menghampiri dia yang ternyata sedang menikmati lolipop.


"Hey, sedang apa anak Mama?" ucapku mencubit pelan pipi nya.


"Makan loli," jawabnya menggemaskan.


"Kok Seila bisa sama kamu,Di?" tanya ku pada pria yang sedari tadi diam saja di depan putriku.


"Tadi,, disuruh Bapak. Katanya Bapak akan meeting dengan direksi, jadi aku di suruh bawa Seila pulang."


Aku manggut-manggut seraya membulatkan mulut.


"Oiya, Di. Kamu udah dapat informasi tentang anaknya pak Gunawan?"


Adi menggaruk tengkuknya dengan senyum palsu. Kalau reaksinya seperti itu, aku sudah tahu jawabannya.


"Belum, Non."


Kan, apa aku bilang.

__ADS_1


"Belum mencari tahu, apa belum dapat?"


"Dua-duanya"


"Ish, kamu gak bisa di percaya,Di." Kataku seraya mengusap bibir putriku yang terkena noda permen.


Masa iya aku harus bayar orang untuk menyelidiki orang itu? mana namanya juga tidak tahu lagi.


Ah, bodo amat lah. Sekarang aku mau fokus pada tujuan utamaku dulu.


Menyiapkan diri untuk pesta nanti. Untuk anak pak Gunawan, akan aku cari tahu setelah selesai pesta. Dengan begitu, aku tidak harus menyembunyikan identitas lagi jika nantinya bertemu dengan orang-orang yang ada kaitannya dengan Papa.


***


"Gimana,Pah? tadi Papa meeting apa?"tanyaku setelah Papa kembali.


"Banyak yang Papa bahas tadi. Papa juga sudah menyuruh orang untuk memasang cctv di pabrik tempatmu kerja, dan secara diam-diam tentunya."


Aku tersenyum senang mendengar itu. Artinya, sedikit demi sedikit kecurangan yang ada di sana akan terbongkar. Papa pun bisa melihat mana karyawan yang baik dan mana yang buruk.


Ingin ku bukan hanya menjatuhkan mas Nathan dan Bima. Dengan adanya kamera pengawas tambahan itu, aku harap agar para karyawan yang sudah senior tidak semena-mena pada junior.


Mencegah adanya bullyng agar suasana kerja jadi nyaman dan aman. Kita membutuhkan karyawan, makan kita harus memberikan rasa nyaman untuk mereka agar tetap setia mengabdikan diri pada perusahaan.


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2