
Bukan untuk membela diri, tapi untuk harga diri.
**
"Jadi, semalam kalian bertemu dengan Nathan?" tanya Mama saat kami menikmati sarapan pagi.
"Alira saja, aku enggak. Kalau saat itu aku bertemu dengan dia, akan ku hajar dia habis-habisan," ujar bang Aldi geram.
"Mana bisa, Bang. Di tempat umum kayak gitu, lagian ada CCTV juga. Nanti, malah di laporkan sama polisi lagi."
"Sudah, jangan membicarakan dia di meja makan. Papa jadi tidak berselera," Ucap Papa menghentikan pembahasan kami.
Bang Aldi tak lagi berucap. Ia memilih diam meskipun masih ingin mengeluarkan unek-uneknya.
Begitupun denganku yang kembali menyuapi Seila.
Melihat Seila, aku jadi teringat boneka-boneka nya semalam. Dimana aku akan menyimpannya? dikamar Seila, pasti akan penuh. Di kamar bermain apa lagi.
Sudah banyak boneka dan bermacam-macam mainan di sana. Mungkin akan menyimpan satu atau dua saja boneka poponya Seila disana untuk pelengkap koleksi.
"Mah, Mamah mau bantu Alira, gak?"
"Bantu apa, Al?"
"Berikan boneka yang Alira bawa semalam, ke panti asuhan. Lumayan kan, buat hadiah anak-anak di sana. Disimpan di rumah juga untuk siapa, Seila tidak akan mau memainkan yang lain kalau sudah ada yang dia sayang," tuturku menjelaskan.
Mama bersedia, dan aku merasa lega.
__ADS_1
Waktu sudah pukul tujuh, aku harus bersiap pergi ke pabrik untuk kembali bekerja. Sebenarnya sudah malas, tapi masih ada yang harus aku bereskan disana. Setidaknya, aku akan berada di pabrik sampai pesta nanti. Dimana semua orang akan tau siapa Alira sebenarnya.
"Aku berangkat ya? Sayang, jangan nakal main sama Oma , Ok?" kataku mengelus pucuk kepala Seila.
Gadisku mengangguk dengan sebelah tangannya menyuapkan buah apel, sedangkan tangan satu nya lagi memeluk popo.
"Mau abang antar, Al?"
"Gak usah Bang, makasih. Alira sudah menelepon Adi tadi." Aku menolak tawaran kakakku itu.
Bukan apa-apa, nanti bisa bahaya kalau bang Aldi bertemu dengan mas Nathan. Bisa jadi pertikaian nanti di sana.
Aku keluar dari dalam rumah, dan langsung masuk ke mobil yang sudah terparkir di halaman. Adi sudah berada di tempat tepat waktu.
"Pagi, Non?"
"Baik, Non".
Adi mulai melajukan mobil membelah jalanan ibukota yang sudah padat. Tidak ada percakapan antara aku dan Adi, hingga akhirnya aku mengingat sesuatu.
Pak Gunawan
Harus kah aku bertanya pada Adi?
Apa dia akan tahu? coba saja.
"Di,"
__ADS_1
"Iya, Non?"
"Kamu tahu, pak Gunawan temen Papa?"
Adi tidak langsung menjawab, dia melirik ku dari kaca spion depan.
"Tahu, Non,"
"Tahu anaknya?" tanyaku membuat Adi sedikit memelankan laju mobil.
"Kenapa Non Alira menanyakan anaknya pak Gunawan?"
"Semalam, pak Gunawan datang lagi. Kayaknya, yah mereka masih mau menjodohkan aku dengan anaknya pak Gunawan itu, deh. Aku juga heran, apa laki-laki itu tidak laku-laku hingga masih sendiri sampai saat ini?"
"Ah, masa gak laku Non. Anaknya pak Gunawan ganteng, loh."
"Ya, kamu pikir saja, Di. Aku udah nikah, enam tahun yang lalu. Tapi, itu cowok enggak nikah-nikah. Apa sebenarnya dia sudah menikah, tapi saat mendengar aku cerai, dia juga menceraikan istrinya? Wah, gak bener tuh laki. Sarap."
Adi tidak menjawab. Dia malah terkekeh, menutup mulutnya dengan punggung tangan.
Aku bukan mengada-ngada, tapi menduga-duga.
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1