
Dua hari telah berlalu dari keluarnya aku dari pabrik. Hari ini, semua orang rumah sibuk.
Mama, Papa, sampai bi Ijah ikut sibuk mempersiapkan diri untuk pesta malam nanti.
Aku pun sama, fokus mencari gaun untuk Seila. Masalahnya bukan pada Seila, tapi pada Adi si supir yang sulit aku hubungi akhir-akhir ini.
Alasannya banyak banget ketika aku menyuruh dia datang.
Padahal Papa bayar dia buat jadi supir pribadiku, tapi malah mengambil pekerjaan lain.
"Itu om Adi!" tunjuk Seila pada mobil yang memasuki halaman rumah.
"Euhh... Lama banget!" aku menggerutu dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah berhenti.
Disuruh datang pagi-pagi, sudah hampir tengah hari baru datang.
"Maaf, Non. Tadi saya anter dulu penumpang" ujarnya cengengesan.
"Emangnya gaji kamu dari Papa kurang, sampe harus kerja sampingan jadi supir taxi online? mana mobil ini punya Papa lagi yang dipake narik orang." aku mengeluarkan unek-unek yang sejak tadi di tahan.
"Maaf, Non. Kalau untuk narik, saya enggak pake mobil bapak. Saya ada kendaraan yang lain."
"Nyewa?" tanya ku setengah menyindir.
"Emm... iya."
Aku memutar bola mata malas. Kesal sekali sama Adi yang semaunya sendiri.
Dimana-mana, supir yang nungguin majikan, bukan majikan yang nungguin supir datang. Berasa kayak nungguin angkutan umum jadinya.
"Jadi Non kita cari gaun buat Neng Seila?"
Tak!
Aku memukul sandaran jok mobil yang diduduki Adi dengan tasku.
"Pake nanya, jadilah. Kamu pikir kita mau kemana? aku udah dandan dari pagi, nungguin kamu, masih aja nanya."
"Maaf Non, maaf." Adi menangkupkan tangan menoleh ke arah ku, tapi dengan wajah yang cengengesan.
Sangat menyebalkan.
"Udah, Jalan!" aku semakin gemas di buat nya.
"Siap Non, siap."
Mobil mulai melaju, aku menarik nafas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
Menenangkan hati yang tadi bergemuruh akibat ulah Adi.
__ADS_1
Setelah sampai, aku langsung masuk ke dalam mall, mencari apa yang aku inginkan. Namun, aku tidak menemukannya.
Beberapa toko pakaian anak sudah aku masuki dan mencari gaun untuk putriku. Tapi, belum juga aku menemukan yang cocok.
"Non Alira memangnya mencari baju yang seperti apa untuk Neng Seila?" tanya Adi seraya memperbaiki tubuh Seila yang ada di gendongannya.
Kasihan, putriku sampai kelelahan berjalan mengelilingi toko pakaian.
"Yang seperti punyaku, Di. Aku maunya pakai baju dengan warna senada sama Seila. Tapi kok gak ada ya," aku mulai menyerah mencari.
"Loh, kok Non Alira gak bilang kalau mau mecingan. Bukan di mall ini tempatnya, Non."
"Emang kamu tahu dimana aku bisa menemukan baju yang bagus untuk Seila?" tanyaku menoleh pada pria itu.
"Tahu, yuk kita kesana saja."
Aku tidak berpikir panjang. Langsung menurut dan mengikuti langkah Adi yang keluar dari mall ini.
Ia membawa putriku masuk ke dalam mobil, lalu mendudukkan nya di jok depan, tepat di samping dia.
Seila tidak menolak. Ia justru anteng dan mengoceh sepanjang perjalanan.
Sedangkan aku, memilih diam di belakang tanpa ingin ikut mengobrol dengan dua orang di depan ku itu.
"Itu butiknya, Non," tunjuk Adi, pada sebuah butik di pinggir jalan.
"Yakin disini ada?"
"Ini sudah hampir sore loh, Di. Aku tidak punya banyak waktu lagi buat keliling." kataku masih ragu.
"Makanya Non, cepat turun dan masuk ke dalam butik itu. Kalau diam saja disini, nanti bajunya bisa di borong sama orang."
Aku berdecih, lalu turun dari mobil. Tidak lupa, aku membawa Seila beserta denganku.
Ternyata benar. Di butik ini banyak sekali gaun cantik yang begitu memanjakan mata. Dari ukuran anak-anak sampai dewasa berjejer begitu tertata indah.
"Mau cari gaun kak?" tanya karyawan butik dengan ramah.
"Iya, untuk putri saya," jawabku memperlihatkan Seila yang aku tuntun.
"Oh, silahkan di sebelah sana. Atau, mau di carikan?" tanyanya lagi.
"Biar saya cari sendiri saja."
Aku pun berjalan ke arah yang di tunjuk wanita muda tadi. Memilah dan memilih gaun cantik dengan bawahan yang mengembang.
Satu, dua, sampai tiga gaun yang aku cocokkan dengan tubuh Seila, tapi selalu merasa kurang. Warnanya pun tidak sama dengan gaun ku yang ada di rumah.
Seila sudah terduduk di lantai dengan wajah merengut. Lelah dan kesal ku lihat dari putriku itu.
__ADS_1
"Sayang, coba yang ini ya?" bujukku agar Seila mau berdiri.
Dia menggeleng, menolak gaun yang aku pamerkan.
"Terus Seila maunya yang mana?"
"Mau pulang, Mah."
Pundakku merosot. Sepertinya Seila sudah tidak berselera lagi. Putri kecilku itu sampai merebahkan diri di lantai saking kesalnya.
Matanya sudah memerah, siap untuk mengeluarkan air mata.
Ya Tuhan... tega sekali aku pada putriku sendiri.
"Non, belum dapat?" Adi datang saat aku sedang menenangkan Seila.
Aku menggeleng kepala seraya menggendong putriku.
"Em.. kalau ini, kira-kira cocok gak?"
Mata aku membulat ketika melihat Adi membawa gaun kecil yang aku inginkan.
Warnanya, modelnya sangat sama. Hanya saja, gaun kecil itu terlihat lebih lebar bagian bawahnya. Ya, namanya juga baju anak-anak. Tidak mungkin sampai ketat hingga kaki.
"Adi, kamu dapat ini dari mana?" tanyaku dengan mata yang berbinar.
"Sebelah sana, Non. Cocok gak?"
"Cocok. Aku suka ini, dan... sepertinya pas di tubuh Seila."
Aku menyerahkan Seila pada Adi, sementara aku langsung ke meja kasir. Membayar gaun kecil itu, lalu membawanya pulang.
Ah, rasanya senang sekali karena akhirnya bisa menemukan apa yang aku inginkan.
Hatipun tenang dan siap untuk menghadiri pesta malam nanti.
"Di, kamu tahu butik itu dari siapa? pernah ke sana sebelumnya?" tanya ku saat kami sudah di mobil.
Putriku tertidur saking kelelahannya.
"Dari penumpang, Non. Waktu itu saya pernah mengantarkan penumpang laki-laki yang membeli gaun di sana."
Laki-laki?
Apa jangan-jangan...?
Bersambung ya gaess...
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁