
"Mama, Ceila mau popo," ujar Seila saat pak Gunawan sudah pergi.
Ia merengek ingat lagi dengan boneka kesayangannya.
Mama yang melihat cucu nya menangis, langsung menghampiri dan menanyakan apa yang Seila inginkan.
Padahal, rencananya sepulang dari pabrik tadi aku dan Mama sudah berencana untuk membeli boneka baru untuk Seila. Tapi, harus gagal karena ada insiden yang tidak terduga.
"Hei, kenapa dia menangis?" tanya Papa.
"Ingat lagi, Pah," Mama mengelus rambut Seila.
"Belilah, jangan di biarkan nangis terus."
"Udah malam, Pah. Besok aja ya? pagi-pagi kita beli popo," ujarku membujuk Seila.
Namun, tidak bisa. Rasa rindunya sama boneka kecil itu sudah tidak bisa lagi di bendung.
Seila malah semakin kencang menangis membuat Abang serta istri nya datang menghampiri kami.
"Popo,Mah, popo," rengek anakku semakin tak terkendali.
__ADS_1
"Popo itu apa sih!"
"Boneka, kak. Waktu itu di rampas ibu mertua, jadi Seila gak bisa bawa." aku menjawab pertanyaan kak Rindu dengan terus memerangi Seila yang berontak.
"Astaga... Boneka anak kecil saja harus di tahan. Itu nenek-nenek minta di kurbanin kali, ya?"
Aku tidak lagi menjawab ucapan bang Aldi. Tetap fokus sama Seila yang tantrum sampai guling-guling di karpet. Tidak ada cara lain selain pergi membeli popo yang baru. Kalau Seila mau, kalau menolak dan tetap minta yang lama, aku harus apa? minta memohon pada ibunya mas Nathan?
Aish, menyeramkan sekali untuk kembali ke sana.
Tiga puluh menit berlalu tangis Seila belum juga mereda. Suaranya sudah sangat parau dengan keringat membanjiri wajahnya.
Kalau sudah begini, tidak ada cara lain selain pergi untuk mendapatkan apa yang Seila inginkan. Seila akan kuat untuk menahan tidak jajan atau tidak makan. Itu sudah biasa. Tapi, untuk pisah lama jauh dari bonekanya, ya seperti sekarang ini.
Salah aku juga sih, kemarin menjanjikan akan segera memberikan dia boneka yang baru.
Tapi, kejadian di depan pabrik tadi sudah menyita waktu ku untuk pergi ke toko boneka.
"Dah, yuk, beli yuk". Bang Aldi sudah membawa kunci mobil miliknya.
Dia mengangkat tubuh Seila yang terkulai di lantai. Tidak ada perlawanan dari putriku. Lama menangis membuat dia kelelahan dan pasrah di gendong oleh paman nya itu.
__ADS_1
Di dalam mobil, aku memperbaiki rambut Seila yang berantakan. Mengusap wajahnya yang penuh air mata dengan rasa yang entah mengapa membuat ku ingin menangis.
Seharusnya, seorang ayah ada di saat putri nya merajuk seperti ini. Memeluk, memberikan kata-kata indah yang membuat buah hati nya tenang. Tapi... lihatlah Seila ku. Lelaki cinta pertama nya sama sekali tidak berperan untuk itu.
Seila pergi tanpa popo nya pun, mas Nathan tidak bertanya sama sekali. Ah, jangan kan menanyakan hal sekecil itu, kami tidak membawa baju ganti pun dia tidak peduli.
"Kenapa, Al?" tanya bang Aldi menyadari kebisuanku.
"Tidak apa-apa Bang. Cuma lagi mikir, emang ada toko boneka yang masih buka jam segini?"
"Ada, Al. Kita ke mall saja, di sana tidak cuma ada dua toko boneka, tapi banyak dan biar kan Seila memilih apa yang dia inginkan".
Aku mengangguk paham.
Sepuluh menit perjalanan, Bang Aldi mulai menepikan mobil nya di depan gedung yang tak pernah mati.
Selalu ramai orang hilir mudik dari pagi sampe malam. Tempat dulu aku bermain menghabiskan uang jajan sampai lupa pulang.
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁