Kesombongan Seorang Mantan

Kesombongan Seorang Mantan
episode 21


__ADS_3

"Makanya, bu. Yang harusnya di tinggikan itu keimanan, bukan gaya hidup. Jadi nya malu sendiri kan kalau gak bisa bayar."


Ibu langsung menarik tanganku agar lebih rapat dengannya. Lalu, ia berkata yang membuatku melebarkan mata.


"Ini menantu saya, mbak. Dia yang akan membayar semua tagihan perawatan saya tadi."


"Bukan!" kataku langsung melepaskan tangannya.


"Mantan. Saya dan anaknya sudah bercerai. Dan tidak ada lagi hak dan kewajiban saya untuk menanggung hidup ibu. Maaf, saya sudah pensiun jadi mesin uangnya ibu." tutur ku langsung menjauhi meja kasir.


Aku biarkan Mama membayar biaya perawatan kami sendiri karena enggan berurusan dengan ibunya mas Nathan.


Apa-apaan mengaku menantu di saat ada butuhnya saja. Lagian, aku dan anaknya sudah tidak memiliki ikatan apapun lagi.


Kemana saja dia selama ini, kenapa baru sekarang menganggapku menantu?


Ya, memang sebenarnya ikatan mertua dan menantu tidak ada bekasnya. Itu jika mertua nya memiliki sikap seperti orangtua sendiri.


Bagiku, ibu Indah Soraya tidak lah mencerminkan seorang ibu mertua yang baik selama aku jadi menantunya.


Aku pun masih sangat mengingat bagaimana perlakuan dia pada putriku saat kami akan pergi kala itu.


Dia menulikan telinga dengan enggan memberikan boneka kesayangan Seila. Dan aku masih sangat sakit hati karena itu.


"Alira, tolong ibu, Alira. Ibu tidak akan bisa pulang kalau tidak segera membayar semuanya." ujar ibu indah kembali mengejarku.

__ADS_1


Mencekal tanganku, memohon agar aku bisa membantunya.


Sebenarnya aku bisa saja membantu dia, tapi aku tidak mau.


Hatiku tidak memberi ijin untuk memberikan bantuan.


"Mana hape ibu?" ujarku mengadahkan tangan.


"Untuk apa? Jangan bayar pakai hape ibu, Alira. Ibu tidak punya hape lagi."


"Bukan untuk aku jual atau di jadikan jaminan, aku hanya pinjam sebentar," kataku meyakinkan.


Ibu mengeluarkan benda pipihnya yang dulu dia beli menggunakan uang gajiku.


Aku mengotak-atiknya sebentar, lalu menempelkan benda itu ke telinga.


Sambungan aku putuskan sepihak setelah memastikan orang di sebrang sana mendengar kata-kataku dengan jelas. Setelahnya, memberikan kembali ponsel itu kepada pemiliknya.


"Kamu menelepon Nathan?" tanyanya.


"Iya,"


"Aduh, nanti Emira bisa marah kalau tahu ibu ke salon. Kenapa harus menelepon Nathan, sih?".


Aku mengeryitkan kening menatap wajah bingung bu indah.

__ADS_1


Jadi, sekarang dia takut sama menantunya? Kemana kegarangan ibu indah soraya yang bengal dulu?


Aku tersenyum miring dengan bersidekap dada. "Ibu takut Emira marah? Menantu ibu yang sekarang suka marah-marah? Gimana bu, enakan jamanku, toh?" ujarku seraya membungkukkan badan, lalu pergi meninggalkan ibu soraya.


Tak aku hiraukan dia yang terus memanggilku.


Dia pun berniat ingin mengejar, namun di tahan penjaga salon karena belum membayar tagihan salon.


Ah, kasihan sekali dia. Karena memaksa ingin tampil sempurna, akhirnya jadi tawanan penjaga salon.


"Ah, segar sekali tubuhku,"


Aku merentangkan tangan menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri.


Rasanya semua lelah dan penat hilang seketika. Aku jadi lebih fresh dan merasa muda kembali.


"Beres, Mah?" tanyaku ketika Mama menghampiri.


"Bereslah. Yuk, kita langsung pulang atau mau belanja dulu?" ujar Mama seraya membuka pintu mobil.


Aku mengikuti Mama, membuka pintu mobil sebelah kiri. "Pulang saja, kasian Seila nanti nyariin."


"Ok, kita pulang."


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2