Kesombongan Seorang Mantan

Kesombongan Seorang Mantan
episode 23


__ADS_3

"Al, ada hal yang ingin Papa bicarakan denganmu. Ini serius." ucap Papa seraya menegakkan tubuh.


Aku sedikit tegang, harap-harap cemas menunggu kata selanjutnya yang akan di ucapkan Papa.


"Kamu juga tahu,Al. Papa ini sudah tua, tidak akan selalu bisa menjadi perisai kamu di setiap saat."


"Maksud Papa apa sih bicara kayak gitu?Gak mau melow-melow ah, Pa." Aku mengeratkan tubuh pada Papa, memeluk pinggangnya dengan erat.


"Dengerin dulu,Al. Ini tidak melow, justru pembahasan ini sangat membahagiakan. Untuk Papa, juga untuk masa depan kamu."


"Masa depanku? Papa mau membagikan warisan padaku dan Seila?" ujarku mendongak, melihat Papa tanpa melepaskan tangan dari tubuhnya.


"Dasar nakal, warisan saja yang ada dalam otakmu." Papa menepuk kening ku seraya terkekeh geli.


Ah, rindu sekali aku pada momen seperti sekarang ini. Dimana aku seperti anak kecil yang bercanda dan bermanja pada laki-laki cinta pertama ku itu.


Aku terus memeluk, menenggelamkan kepala di dada Papa, hingga akhirnya kemesraan ini harus berakhir ketika Seila merebut tempatku.


Anak itu, selalu ingin bersama Papa. Lengket, seperti perangko baru, tidak ingin dipisahkan.


"Tadi Papa mau bicara apa?" aku mengingatkan Papa pada pembahasan awal.


"Iya, Papa mau membahas tentang perjodohan kamu dengan anaknya pak Gunawan."


Sudah aku duga, pasti tentang itu.


Tubuh ku merosot, sengaja duduk di lantai dengan menyenderkan kepala di sofa.


"Pah..."


"Demi masa depanmu. Papa tidak akan percaya lagi pada pilihanmu,Al. Yang sudah-sudah pun mengecewakan, bukan?"

__ADS_1


"Itu kan dulu, yang sekarang tidak akan lagi, beneran."


Papa menggelengkan kepala.


"Kecuali kamu memperkenalkan calon yang Papa kenal dan Papa tahu betul siapa laki-laki itu." lanjut Papa.


Aku mengangkat kepala, menatap mata Papa dengan lekat. "Beneran? tanya ku dengan mata berbinar.


"Coba saja, pasti lebih bagus pilihan Papa. Apa susahnya kamu nurut, Al. Selalu saja semaunya sendiri." Papa menggerutu seraya mengangkat tubuh Seila, membawa nya pergi ke tempat bermain yang di sediakan Mama dan Papa untuk cucu nya itu.


Sepergi nya Papa, aku hanya diam melamun merutuki nasib diri. Kenapa pernikahanku tak seindah orang lain?.


Kenapa harus merasakan kecewa dan menjanda di usia muda?


Mungkin karena terlalu banyak dosa dan durhaka pada orangtua, jadi Tuhan tidak meridhoi pernikahanku, dan memperlihatkan siapa mas Nathan yang sebenarnya.


Ya, mungkin saja.


"Tamu untuk siapa?" tanyaku.


"Untuk Neng Alira."


Aku mengernyitkan kening. Lagi-lagi ada tamu untukku, tapi tidak tahu siapa orangnya.


Aku berjalan mengikuti bi Ijah ke ruang tamu. Tidak ada siapa-siapa di sana. Bi Ijah terus berjalan dan berhenti di ambang pintu.


"Mana tamunya?" tanya ku lagi kebingungan.


"Itu di luar,Neng."


Aku menyembulkan kepala melihat ke luar rumah. Ternyata benar, ada pria yang tengah berdiri di ambang pintu gerbang.

__ADS_1


Aku pun berjalan ke sana untuk menanyakan maksud dia ingin bertemu denganku.


"Ada perlu apa, ya?" tanyaku.


"Mbak yang namanya, Alira?"


"Iya, saya."


"Ini ada paket untuk mbak." pria berjaket cokelat itu memberikan kotak cukup besar kepadaku.


Aku diam saja tidak langsung mengambil benda tersebut. Takut, jika isinya akan melukaiku.


"Ini isinya apa, mas?".


"Saya juga tidak tahu,mbak. Saya cuma kurir yang di suruh mengantarkan ini langsung dengan mbak Alira. Tolong tanda tangan di sini dulu." ujar pria itu memberikan buku dan pulpen.


Usai mendapatkan tanda terima dariku, kurir itu pergi meninggalkanku dengan kotak yang tidak bisa aku tebak apa isinya.


Mungkinkah itu teror?


Astaga, seram sekali jika dugaanku benar adanya.


Saat tengah bingung mencari nama si pengirim , mata ku menangkap sebuah kartu ucapan yang menempel pada sisi bawah kotak tersebut.


Aku pun mengambilnya, membaca kartu itu dengan mata melotot.


"Ya Tuhan... Apa-apaan ini."


Bersambung....


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2