
Umumnya, orang yang di tolak, ditinggal nikah, pasti mencari kebahagiaan baru dengan orang yang baru.
Tapi orang yang tidak aku tahu namanya itu, seperti yang mati rasa.
"Apa jangan-jangan dia belok ya, Di?"
"Hahaha,, si Non ada-ada saja. Sudah sampai tuh. Mendingan kerja dulu, untuk anak pak Gunawan itu, biar saya yang cari tahu." Ujar Adi membuatku mengedarkan pandangan.
Benar saja, aku sudah ada di depan pabrik. Seperti dugaanku tadi, aku kesiangan.
Semua orang sudah masuk sementara aku masih berada di luar.
Buru-buru aku turun dan mengetuk pintu gerbang. Dimarahi, pasti. Tapi, tetap harus masuk.
Jangan sampai bolos, apalagi hari ini akan ada undangan dari kantor pusat.
"Buruan masuk, mumpung belum mulai kerja," ujar pak satpam membuka pintu gerbang.
"Benarkah? kenapa belum mulai?" tanyaku.
"Lagi pada rapat di atas."
Aku mengangguk kepala tanda mengerti. Kemudian masuk dan menghampiri mesin absensi.
Setelahnya, aku menarik nafas dalam sebelum masuk ke dalam pabrik.
__ADS_1
Menyiapkan mental, karena pasti akan disoraki oleh teman satu produksi.
"Bismillah," ucapku seraya melangkahkan kaki.
"Huuuu."
Sudah aku duga, pasti ini akan terjadi.
Rasanya jarak dari grup A hingga G sangat jauh, saking malu dan gemetarnya kaki ku.
Beruntung, tidak ada Emira di tempatnya. Sepertinya dia sedang ikut rapat di atas.
Sebenarnya, kehadiran dia tidak di perlukan, tapi karena Emira anak dari manager produksi, pastilah keberadaan dia di ruang meeting tidak akan di permasalahkan.
"Kesiangan, lu?" tanya Della saat aku baru saja sampai di meja tempat ku bekerja.
"Udah tau aku telat, masih aja di tanya."
"Untungnya, doi lu lagi meeting. Kalau kagak, lu bakalan di semprot. Eh, iya aku baca status mantan yang marah-marah semalem, loh. Ada apaan, sih?" Della sampai duduk terbalik ke arah ku yang berada di belakang dia, demi untuk mencari informasi.
"Nanti saja aku ceritakan. Emang tadi sempet rame?"
"Beuh,, bukan rame lagi. Tuh, nenek lampir ampe mencak-mencak, berdiri di depan gerbang demi nungguin elu."
"Wah,, perhatian banget ya, dia."
__ADS_1
"Dodol." Della menoyor pelan keningku.
"Bukan perhatian, tapi udah kagak sabar pengen ngehajar elu." Lanjut nya lagi membuatku terkikik.
Setelah beberapa menit duduk, orang-orang produksi sudah kembali ke bawah.
Para ketua grup atau line dari A sampai J berdiri berbaris di depan, seperti hendak upacara.
Ada apakah dengan mereka?
"Mohon perhatiannya teman-teman!!" mbak Anita selaku supervisor line H, bertepuk tangan menyuruh kami diam.
Wanita yang selalu tampil cantik dengan kaca mata minusnya itu kemudian naik ke atas meja yang di penuhi oleh baju-baju yang sudah jadi. Ia berdiri di sana dengan wajah berseri.
"Tolong, matikan mesinnya!" suruhnya lagi membuat ruangan menjadi hening.
Aku memperhatikan setiap gerak tubuh dan buah bibirnya. Tidak ingin ketinggalan apa yang di sampaikan dia.
"Jadi, dua hari lagi PT.AB Garment akan mengadakan pesta hari jadi nya yang ke dua puluh tahun. Dan, sepanjang sejarah berdirinya perusahaan garment ini, baru sekarang sang pemilik mengundang operator sewing untuk ikut hadir dalam pesta istimewa ini! Yang biasanya hanya di hadiri orang-orang penting, petinggi perusahaan, orang-orang yang memakai jas doang, sepatu mengkilap, ye kan. Sekarang di bawa sama rakyat jelatanya juga."
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1